Ana

Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2020

Banjir di Jakarta dan Sekitarnya di Awal Tahun 2020


            Akhir tahun 2019 di Jakarta diwarnai dengan hujan lebat. Kabarnya hujan terjadi dari tanggal 31 Desember 2019 sampai 1 Januari 2020. Saya tidak langsung menyaksikannya karena sedang berada di Palangkaraya. Hujan lebat selama berjam-jam itu rupanya mengakibatkan banyak genangan di beberapa wilayah di Jakarta.
            Lebih parahnya lagi, banjir kali ini disertai pula dengan pemadaman listrik. Pemadaman listrik tentunya karena lebih mengutamakan keamanan warga. Akan tetapi keputusan itu juga merugikan banyak orang dan usaha yang sangat tergantung apda listrik.
            Bandara juga terkena dampaknya. Bandara Halim Perdanakusuma konon kabarnya juga tergenang. Akibatnya semua penerbangan dialihkan ke Bandara Soekarno Hatta. Bnadara yang sudah padat karena menampung perjalanan liburan itu makin bertambah padat. Saya yang mendarat di bandara Soekarno Hatta pada tanggal 1 Januari malam hari turut merasakan dampaknya.

            Tanpa bermaksud mendiskreditkan pejabat yang sekarang berwenang, banjir kali ini sepertinya disambut dengan ketidaksiapan. Ada banyak saluran air yang tersumbat, waduk yang dangkal, dan juga pompa yang tidak berfungsi. Warga yang terkena dampaknya. Tempat yang biasanya tidak terkena banjir kali ini banjirnya parah. Semoga kejadian seperti ini tidak pulih lagi. {ST}

Selasa, 03 Desember 2019

Lapangan Banteng, Monumen Pembebasan Irian Barat


            Lapangan yang terletak di Jakarta Pusat ini lebih dikenal dengan nama Lapangan Banteng. Patung yang berada di tengah-tengahnya pun lebih dikenal dengan nama Patung Lapangan Banteng. Patung itu sebenarnya bernama Monumen Pembebasan Irian Barat.
            Saya sebenarnya sudah cukup lama tahu kalau patung itu ada hubungannya dengan pembebasan Irian Barat. Namun, saya tidak pernah terlalu mengingatnya. Saat menyebutkan daerah tersebut, saya menyebutnya sebagai Lapangan Banteng. Kunjungan saya ke tempat ini biasanya untuk mendatangi acara Flona, acara pameran flora dan fauna yang diadakan rutin tiap tahun.

            Saat berkunjung kembali ke tempat ini, saya menyempatkan untuk melihat-lihat monumen itu. Monumen yang sudah diperbarui ini dipenuhi dengan kutipan-kutipan bersejarah yang dibuat di dinding. Saya memotret beberapa di antaranya.

            Lapangan Banteng sendiri sebenarnya sebutan sebelum adanya monumen di situ. Dulu banget, saat Jakarta dikenal sebagai Batavia, di lapangan itu memang ada bantengnya. Penduduk sekitarnya kemudian menyebut tempat itu sebagai Lapangan Banteng. Sebutan itu tetap awet walaupun di lapangan ini sudah tidak ada bantengnya lagi. {ST}

Rabu, 04 September 2019

Polusi Udara di Jakarta




            Sejak Juli 2019, media massa dan media sosial diributkan oleh polusi di Jakarta yang bertambah parah. Polusi di Jakarta kabarnya sudah mencapai batas berbahaya. Banyak sekali yang mengomentari hal ini sampai-sampai para pejabat publik pun bereaksi.
            Berita ini  menarik perhatian saya karena saya tinggal dan bekerja di Jakarta. Hampir setiap hari saya meninggalkan rumah dan terpaksa menghirup udara Jakarta. Sepertinya saya sudah cukup terbiasa dengan udara berpolusi itu. Napas saya tidak terlalu sesak.
            Polusi udara di Jakarta dapat dilihat dengan mudah dari banyaknya asap yang terlihat seperti kabut. Asap ini dapat diamati dengan jelas dari ketinggian. Saya sempat menyaksikan kabut asap ini saat berada di puncak Tugu Monas. Sedih dan prihatin rasanya menyaksikan kota tempat tinggal saya itu terlihat samar-samar di tengah kabut. {ST}

Selasa, 20 Agustus 2019

Kebijakan Nomor Pelat Ganjil Genap Jakarta yang Diperluas




            Pada pertengahan bulan Agustus 2019, Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk memperluas wilayah kendaraan dengan ketentuan ganjil genap. Ketentuan nomor pelat kendaraan ganjil di tanggal ganjil dan nomor pelat kendaraan genap di tanggal genap ini dikenal dengan GAGE.
            Perluasan wilayah GAGE ini sampai di daerah sekitar tempat tinggal saya. Keluarga dan teman-teman saya banyak yang merasa keberatan dengan ketentuan ini. Saya cukup keberatan tetapi tidak sampai bersungut-sungut. Saya tidak terlalu merasakannya karena sekarang saya tidak menyetir kendaraan sendiri. Saya lebih sering menggunakan kendaraan umum.
            Peraturan GAGE ini masih terus dievaluasi. Ada yang mengatakan peraturan ini tidak terlalu menyelesaikan masalah kemacetan dan polusi di Jakarta. Namun, ada juga yang berpendapat lebih penting usaha dulu daripada pasrah aja.
            Peraturan ini juga membuat peluang banyak orang jatuh dalam pencobaan. Entah ada berapa banyak orang yang memiliki pelat nomor palsu, ada yang memiliki nomor ganjil dan nomor genap. Kejadian yang ketahuan dan menjadi berita sudah banyak.
            Sebagai pengguna kendaraan pribadi yang beralih menjadi pengguna kendaraan umum, menurut saya kunciny adalah nyamannya kendaraan umum. Apabila kendaraan umum aman, nyaman, dan tepat waktu, tentunya akan lebih banyak orang yang beralih menggunakannya. Polusi udara akan berkurang karena berkurangnya jumlah kendaraan. Nah, kendaran umum ini juga yang tidak terlalu benyak menimbulkan polusi. Sehingga dengan sekali melangkah, dapat menguraikan masalah kemacetan sekalian mengurangi polusi.
            Kalau kendaraan umum semakin nyaman dan nyaman, kendaraan pribadi hanya digunakan sebagai kendaraan khusus  yang digunakan dalam kesempatan khusus. Kegiatan sehari-harinya cukup menggunakan kendaraan umum. {ST}

Selasa, 06 Agustus 2019

Listrik Padam di Seluruh Jakarta




            Hari Minggu tanggal 4 Agustus 2019 menjadi bagian dari catatan sejarah. Pada hari itu listrik di Jakarta dan sekitarnya padam. Padamnya tidak tanggung-tanggung, lebih dari 6 jam. Padamnya listrik itu bukan karena pemadaman listrik bergilir melainkan karena kerusakan pada jaringan. Kerusakan jaringan itu membuat listrik di Jakarta dan Jawa Barat padam.
            Padamnya listrik selama beberapa jam itu sangat mengganggu jalannya kehidupan warga kota metropolitan yang sudah terbiasa dengan listrik. Banyak toko dan juga usaha kecil yang terpaksa berhenti operasi karena tidak ada listrik. Untuk usaha yang lebih besar, yang biasanya memiliki genset, masih lumayan. Genset yang dapat digunakan selama beberapa jam itu dapat dijadikan sebagai “penyambung nyawa”.
            Peralatan elektronik di rumah-rumah warga pun banyak yang terkendala. Yang paling cepat terkena akibatnya adalah kulkas alias lemari es. Benda ini selalu memerlukan listrik untuk menjadikannya tetap dingin. Untuk yang lainnya, seperti lampu, TV, dan AC, baru terasa di saat malam hari. Pada malam hari-lah benda-benda itu paling diperlukan.
            Saya tidak akan pernah melupakan kejadian pada hari itu. Tanggal 4 Agustus adalah hari ulang tahun saya. Sebelum merasakan akibat dari padamnya listrik ini, saya merayakan ulang tahun saya bersama di daerah Puncak. Hmmmm… Sebenarnya itu bukan perayaan ultah saya, sih. Itu pas lagi ada cara lingkungan dan saya ikut menjadi bagiannya.
            Padamnya listrik di kota metropolitan itu membuat banyak orang gelisah dan uring-uringan. Sepertinya hampir semua penduduk Jakarta mengalami ketergantungan pada listrik. Listrik hampir selalu dilibatkan dalam semua kegiatan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Yang paling mengganggu buat beberapa oranga dalah terputusnya internet.
            Sampai tulisan ini saya buat, peneybab padamnya listrik itu masih dalam penyelidikan. Ada banyak gosip beredar termasuk karena pohon sengon. Entah apa masalahnya, yang pasti untuk pemulihannya memerlukan waktu cukup lama. Di perumahan tempat saya tinggal. Listrik baru kembali mengalir sekitar 8 jam setelah pemadaman. Setelah menyala dari malam sampai pagi, listrik kembali apdam di pagi harinya.
            Kerugian akibat padamnya listrik ini sangat banyak. Keluarga kami yang memiliki bisnis kecil juga terkena imbasnya. Tidak terbayangkan bagaimana kalau bisnis besar. Untuk mengganti kerugian ini, kabarnya PLN akan memberikan kompensasi berupa potongan biaya. Walaupun demikian, kerugian yang hialng belum tentu bisa tergantikan. Semoga saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi di Indonesia ini. {ST}

Senin, 29 Juli 2019

Kuda Delman di Tengah Kemacetan




            Di sekitar Monas, terutama saat hari libur, banyak delman yang beredar. Para pengemudi delman ini mencari nafkah sebagai delman wisata keliling area Monas. Ongkosnya cukup mahal. Untuk keliling area Monas dikenakan tarif Rp 100.000.
            Ongkos yang mahal membuat banyak orang merasa tidak mau rugi. Dalam sebuah trip, biasanya delman selalu terlihat penuh penumpang. Beberapa anak-anak yang ditemani oleh orang dewasa berjubel dalam delman. Tentunya beban yang ditarik oleh kudanya akan bertambah berat.
            Beberapa waktu yang lalu, di daerah Monas pernah ditetapkan kebijakan melarang delman. Saat melihat pengumuman itu, itu saya tidak melihat ada delman di sekitar Monas. Saya pikir kebijakan itu akan terus berjalan. Ternyata tidak. Kebijakan itu berubah, atau dilanggar, pada pertengahan tahun 2019 ini.
            Pada pertengahan bulan Juli 2019, ada keriuhan di sekitar Monas. Ada acara Lebaran Betawi pada tanggal 19 sampai 21 Juli 2019. Acara ini mengundang banyak orang datang ke tempat ini. Delman-delman pun berdatangan untuk mendapatkan rezeki. Ada banyak delman yang terlihat di sekitar Monas pada saat itu.
            Saya sempat datang sebentar ke acara itu. Saya hanya berjalan-jalan tanpa bisa menikmatinya karena terlalu banyak orang yang datang. Bergerak pun susah rasanya. Akhirnya saya keluar saja dan memutuskan untuk pulang menggunakan bus Transjakarta. Pilihan ini saya ambil karena jalur bus terlihat lebih lengang dibandingkan dengan jalur kendaraan biasa. Tentunya perjalanan pulang akan dapat ditempuh dalam waktu yang lebih singkat.
            Ternyata perjalanan itu tidak sesuai harapan saya. Banyak kendaraan lain, termasuk delman, yang masuk ke dalam jalur bus. Perjalanan menjadi tersendat dan memakan waktu yang cukup lama. Pada saat itulah saya melihat delman di kerumunan kendaraan. Delman yang dihias itu dipenuhi oleh penumpang. Saya merasa kasihan melihat kuda yang menarik delman itu. Selain karena bebannya yang berat, juga karena polusi udara di sekitarnya. Biasanya, kalau ada binatang lucu, saya sering mendoakan supaya selalu sehat dan panjang umur, mirip seperti doa saat ulang tahun. Akan tetapi saya tidak berdoa demikian saat melihat kuda yang menarik delman di tengah kemacetan Jakarta itu. Saya mendoakan sebaliknya. {ST}
Baca juga:


Sabtu, 27 Juli 2019

Instalasi Bambu Bundaran HI Akhirnya Dibongkar




            Setahun yang lalu, media sosial dihebohkan oleh instalasi bambu di sekitar Bundaran HI Jakarta. Instalasi bambu itu membuat kehebohan karena harganya yang sangat mahal dan bentuknya yang dianggap tidak senonoh. Ada yang menganggap bentuknya seperti orang yang sedang berpelukan. Ada juga yang melihatnya seperti pasangan yang sedang bersetubuh. Saya melihatnya lebih mirip kotoran manusia.
            Jujur saja, saya tidak terlalu bisa menikmati seni instalasi ini. Saya pernah mencoba melihatnya dari berbagai sudut, antara lain dari Bundaran HI, dari seberang jalan, dari halte di tengah jalan, dan dari atas. Hampir semua penampakannya tidak terlalu indah. Bayangan akan kotoran manusia itu membuat saya agak bergidik jijik.
            Instalasi bambu itu ternyata tidak berumur panjang. Pada bulan Juli 2019 ini, instalasi yang pernah menghebohkan itu dibongkar. Pembongkarannya kembali membuat heboh. Reaksi orang beraneka ragam. Ada yang menyayangkan karena instalasi berbiaya besar itu hanya sebentar menghiasi ibu kota negara ini. Ada juga yang merasa senang karena benda itu akhirnya hilang dari pandangan.
            Kehebohan ini makin bertambah karena sang pembuat mengatakan kalau biaya instalasi itu tidak sampai 500 juta rupiah. Belum lagi ditambah dengan kabar bahwa instalasi yang tidak berumur panjang itu konon kabarnya rusak karena tak tahan pada pencemaran kota Jakarta yang bertambah parah.
            Saya termasuk yang senang instalasi itu dilepas. Rasa senang dan syukur saya itu makin terasa saat melihatnya langsung. Tempat di mana instalasi itu pernah berdiri sudah tidak ada lagi jejaknya. Rumput di tempat itu jauh lebih indah daripada instalasi yang mirip *** itu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini