Pemerintah daerah di tempat saya
tinggal membuat kebijakan baru pada saat banjir, yaitu membagian alat pengeras
suara ke berbagai wilayah. Alat pengeras suara ini diharapkan dapat digunakan
apabila ada potensi banjir. Para petugas di wilayah tersebut akan berteriak-teriak mengingatkan warga,
terutama di saat warga kebanyakan sedang tidur.
Banyak yang menganggap kebijakan ini
kurang tepat. Saya termasuk yang demikian juga. Pemerintah daerah mestinya
dapat membuat kebijakan yang lebih memberdayakan rakyat untuk mencegah bencana.
Misalnya dengan kebijakan untuk membuang sampah pad tempatnya, melarang kemasan
plastik yang merusak lingkungan, dll.
Membangunkan warga di saat akan
terjadi banjir tidak terlalu berguna untuk kebanyakan orang. Kebanyakan orang
yang pernah mengalaminya sudah otomatis waspada saat terjadi hujan lebat. Tidak
perlu dibangunkan sudah bangun sendiri. Saya yang tidak mengalami banjir tetapi
atap rumahnya bocor, sudah langsung waspada apabila terjadi hujan lebat.
Dari cerita-cerita teman-teman saya, pengeras suara
itu sudah mulai digunakan. Saya sendiri hampir tidak pernah mendengar ada yang
berteriak-teriak
mengingatkan menggunakan pengeras suara pada saat “musim banjir”. Saya baru
mendengarnya saat “musim Covid-19”
di bulan Maret 2020.
Sebenarnya saya tidak menyadari
kalau ada yang teriak-teriak
menggunakan alat pengeras suara itu. Sekilas suaranya agak mirip dengan
pedagang yang sesekali lewat di depan rumah. Pedagang roti dan tahu bulat
menggunakan pengeras suara juga. Adik saya yang kemudian memberi tahu kalau itu
pengumuman supaya tidak meninggalkan rumah. Semoga saja alat pengeras suara itu
lebih banyak gunanya untuk kehidupan masyarakat. {ST}