Ana

Selasa, 04 Agustus 2020

Ulang Tahun di Tahun 2020


            Tanggal 4 Agustus adalah hari ulang tahun saya. Tahun 2020 ini hari spesial tersebut jatuh pada hari Selasa. Tahun ini saya tidak kemana-mana. Saya melewatkan hari ulang tahun saya di rumah. Situasi pandemi yang belum terkendali membuat saya terpaksa tinggal di rumah.
            Saya masih ingat, tahun 2019 yang lalu ulang tahun saya dirayakan dengan meriah tanpa sengaja. Saat itu bertepatan dengan acara lingkungan menginap di daerah Puncak. Acara itu membuat seakan-akan ulang tahun saya dirayakan secara meriah. Kami makan bersama. Banyak pula orang yang mendoakan saya.
            Saya juga teringat pada acara makan-makan sederhana di kantor. Di kantor kami memang ada tradisi makan-makan saat ulang tahun. Menunya tidak perlu terlalu mahal. Yang penting kumpul-kumpul serunya. Saya pernah membawa menu bakso dan nasi bakar sebagai tanda syukur ulang tahun.
            Tahun 2020 ini hal tersebut tidak dapat dilakukan lagi. Saya akhirnya mengambil keputusan untuk membeli makanan-makanan yang dijual oleh teman-teman saya para pengusaha kuliner. Dengan kehadiran makanan-makanan itu saya harap dapat mengobati kerinduan sekaligus berbagi rezeki kepada mereka.

            Satu hal lagi yang sering saya lakukan saat ulang tahun, yaitu menjelajah seorang diri ke tempat alami yang sepi. Nah, kalau yang itu tetap saya lakukan karena saya berada seorang diri di halaman yang sepi. Malamnya saya kembali menghitung berkat yang telah saya terima selama kehidupan saya di dunia ini. {ST}

Sabtu, 01 Agustus 2020

Stiker Dinding


            Belum lama ini saya membeli stiker khusus dinding. Stiker itu bergambar peta dunia. Saya membeli stiker ini karena teringat keponakan-keponakan saya yang bermukim di Jogja. Di dinding rumah mereka ada stiker yang sama. Selain karena teringat mereka, saya juga tidak terlalu suka dinding yang terlalu putih bersih. Nah, stiker itu saya tempelkan di dinding putih yang tersisa di kamar saya.

            Selain stiker peta dunia, saya juga membeli stiker bergambar pohon. Pohon besar yang berkesan teduh itu saya tempelkan tak jauh dari stiker peta dunia. Selain stiker yang sudah saya tempelkan itu masih ada beberapa stiker yang belum saya tempel. Dinding kamar saya sudah sebagian besar penuh. {ST}

Kamis, 23 Juli 2020

Nostalgia Dongeng Anak di Majalah Bobo Saat Hari Anak Nasional


            Setiap peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli, media anak tempat saya berkarya juga ikut memeriahkan. Tahun 2020 ini merupakan tahun yang spesial. Peringatan ini tidak dapat dilakukan dengan melakukan pengumpulan orang seperti yang biasa kami lakukan.
            Bagian markom kami merancang sebuah perayaan khusus yang hampir seluruh kegiatannya berupa daring. Hampir semua orang turut dilibatkan dalam acara ini termasuk saya. Saya diminta untuk membawakan acara Nostalgia Dongeng Bobo.
            Dalam kesempatan ini saya menyampaikan tentang dongeng dan cerita yang telah menjadi bagian dari majalah ini sejak pertama kali terbit pada tahun 1973. Cerita dalam majalah ini ada banyak macamnya. Ada dongeng dan cerita keseharian anak-anak. Cerita-cerita itu dibuat dengan ilustrasi yang menarik.
            Cerita di media anak ini juga mengikuti perkembangan teknologi. Saat ini cerita yang ada di majalah Bobo tidak hanya dapat dilihat dalam majalah cetak. Cerita-cerita itu juga ada dalam bentuk online di website dan media sosial. Beberapa cerita itu ada juga yang dijadikan video.
            Video cerita ini juga ada beberapa macam. Ada cerita animasi, ada yang dibawakan oleh pencerita, ada yang dibuat dengan gambar menarik, dan diperankan oleh manusia. Tugas saya menyampaikan hal tersebut.
            Apa yang disampaikan ini sebenarnya sederhana saja. Saya sudah dapat membuat konsepnya hanya dalam waktu beberapa menit. Namun, tidak demikian yang terjadi apabila berhadapan dengan kamera. Saya menjadi sedikit grogi. Itu memang biasa terjadi pada saya yang memang tidak biasa berbicara di depan kamera.

            Untuk acara kali ini, kamera yang digunakan adalah kamera laptop. Ini lebih membantu saya karena saya tidak perlu melihat kamera langsung. Di layar laptop saya juga bisa membuka catatan naskah yang sudah saya buat sebelumnya. Tak disangka proses rekaman ini termasuk cepat. Lebih cepat dari dugaan saya. {ST}

Selasa, 14 Juli 2020

Tahun Ajaran Baru 13 Juli 2020


            Tahun ajaran baru di tahun 2020 ini jatuh pada tanggal 13 Juli 2020. Anak-anak yang naik kelas seharusnya masuk ke kelas barunya. Anak yang masih kelas 1 seharusnya menjadi anak baru di sekolah barunya. Dari tahun ke tahun, hari pertama tahun ajaran baru ini selalu mengundang kehebohan baik dari anak didik, orang tua, dan guru. Jalanan biasanya macet di hari yang biasanya selalu jatuh di hari Senin itu.
            Ada yang berbeda di awal tahun ajaran kali ini. Cukup banyak sekolah yang masih menetapkan belajar di rumah. Anak-anak belajar dengan cara online di rumah masing-masing. Karena itu jalanan di sekitar sekolah pun menjadi sepi. Tidak ada berita kemacetan di hari itu.
            Ada pula sekolah yang menetapkan kebijakan untuk belajar di kelas. Sekolah-sekolah itu tentunya di wilayah yang bebas dari Covid-19 atau yang dikenal sebagai zona hijau. Di sekolah-sekolah itu, kabarnya diberlakukan protokol kesehatan untuk mencegah merebaknya virus.
            Kebijakan untuk belajar tatap muka ini menimbulkan polemik. Ada yang pro, banyak yang kontra. Berita tentang ini menghiasi media massa dan media sosial. Ada orang tua yang cemas kalau anaknya harus berkumpul bersama orang lain dalam waktu yang lama. Sebaliknya ada pula orang tua yang lebih ingin anaknya untuk bersekolah saja daripada “libur” di rumah.
            Kebanyakan orang yang saya kenal belajar di rumah dengan menggunakan sistem online. Keponakan-keponakan saya juga demikian. Salah satu keponakan saya memasuki kelas 1 SD. Rupanya dia belum bisa menyesuaikan cara belajar seperti ini. Dia lebih banyak mengantuk saat belajar menatap layar gawai.
            Langkah untuk belajar online itu sepertinya memang langkah terbaik yang harus dilakukan dalam masa merebaknya virus Covid-19 ini. Semoga saja kelak mereka dapat berkumpul lagi dengan teman-teman di sekolah. Sekolah itu tidak hanya belajar, tetapi juga bersosialisasi. Kalau belajar sendiri di rumah seperti ini bagaimana caranya bersosialisasi?

Pengalaman belajar yang berbeda ini akan menjadi kenangan bagi mereka. Perjuangan untuk belajar menjadi catatan khusus dalam masa pertumbuhan mereka. Semoga saja para pelajar dapat menyesuaikan diri dengan baik. {ST}

Sabtu, 04 Juli 2020

Latihan Paduan Suara Online


            Saat pandemi COVID-19 terjadi, semua kegiatan di gereja dihentikan, termasuk latihan paduan suara. Kegiatan latihan bersama ini memang sangat diperlukan untuk memadukan suara. Absen latihan membuat kemampuan para penyanyi menurun. Selain itu, para penyanyi juga sudah kangen pada teman-temannya.
            Sebuah paduan suara biasanya juga menjadi komunitas. Komunitas tersebut tidak hanya membicarakan yang terkait tentang paduan suara. Komunitas ini lama-lama akan berkembang menjadi seperti keluarga. Saya yang tidak terlalu bisa menyanyi ini juga tergabung dalam sebuah paduan suara yang telah menjadi komunitas.
            Awalnya kegiatan paduan suara ini memang diliburkan. Lama-lama banyak juga yang berinisiatif untuk latihan secara online. Tentu saja latihan online ini tidak bisa sebaik bertemu langsung. Akan tetapi ini adalah pilihan terbaik untuk saat seperti ini. {ST}

Kamis, 02 Juli 2020

Tagihan Air Naik Saat Pandemi Covid-19


            Saat Covid-19 merebak, ada kampanye untuk mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin. Sabun akan melarutkan virus yang konon kabarnya mengandung protein itu. Air mengalir akan menghanyutkan dan membuang virus itu darri tangan kita.
            Mencuci tangan adalah kebiasaan yang baik. Di media anak tempat saya berkarya, menulis tema tentang mencuci tangan ini selalu ada di setiap tahun. Walaupun penulisnya kadang-kadang agak bosan, tetapi kami semua menyadari pentingnya mencuci tangan untuk anak-anak. Yang pasti kegiatan mencuci tangan harus dilakukan saat mau makan atau setelah dari toilet. Nah, pada saat seperti ini mencuci tangan lebih dari itu. Mencuci tangan disarankan setiap menyentuh benda asing.
            Saya termasuk orang yang mematuhi imbauan mencuci tangan itu. Saya mencuci tangan jauh lebih sering daripada biasanya. Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang lain penghuni rumah saya. Kami juga jadi lebih sering mandi. Kami menyepakati semua orang yang dari luar rumah harus mandi keramas saat pulang. Mandinya langsung dilakukan, tidak boleh leyeh-leyeh istirahat dulu.

            Kebiasaan baru ini mengakibatkan lebih banyak air yang digunakan. Akhirnya tagihan air di rumah kami menjadi naik sampai dua kali lipatnya. Kenaikan pemakaian ini dapat saya maklumi karena pemakaiannya dapat dipertanggungjawabkan. {ST}

Rabu, 01 Juli 2020

Senang Makin Banyak Orang yang Posting Tumbuhan


            Sejak awal mulainya pandemi dan bekerja di rumah, saya sering posting flora di media sosial. Postingan saya itu untuk mengimbangi tentang berita Covid-19 yang simpang siur dan beredar tak terkendali di media sosial. Saat itu saya posting hanya untuk kesenangan saya sendiri saja. Mungkin orang lain ada yang tidak suka dengan postingan saya seperti saya juga tidak suka dengan postingan mereka.
            Postingan flora itu saya beri judul Flora Sekitar Kita. Awalnya yang saya posting memang foto flora yang ada di sekitar rumah saya. Setelah beberapa lama, saya kembangkan dengan foto-foto lama yang  saya potret dari kunjungan ke beberapa tempat. Setelah beberapa ratus postingan, akhirnya saya mulai kehabisan bahan. Saya kembali memotret tanaman-tanaman yang ada di halaman saya.
            Menurut saya setiap daun dan setiap bunga itu berbeda. Itu sebabnya saya tidak terlalu bosan untuk memotret jenis tanaman yang itu-itu saja. Namun, setelah saya lihat lagi, album flora saya itu jadi tidak terlalu variatif karena isinya mirip. Saya pun mencoba menjelajah lebih jauh lagi. Penjelajahan saya ini sampai ke sungai yang membatasi kelurahan tempat tinggal saya. Penjelajahan itu akhirnya terpaksa dihentikan saat pemerintah kota tempat tinggal saya menetapkan pembatasan pergerakan warganya.

            Dengan lebih banyak di rumah, saya makin jarang posting foto-foto flora. Namun, bukan berarti foto flora di media sosial berkurang. Orang-orang yang dulunya jarang posting tentang flora, kali ini malah cukup sering posting. Bunga, buah, dan daun bertebaran di linimasa saya. Saya sangat bersyukur melihat pemandangan ini. Semoga makin banyak lagi orang yang posting tentang flora dan keunikannya. {ST}

Selasa, 02 Juni 2020

Mengambil Barang Pribadi di Kantor


            Setelah lebih dari  2 bulan bekerja di rumah, kantor tempat saya bekerja tak kunjung dibuka. Menurut informasi yang saya terima, langkah ini diambil selain untuk mencegah menyebarnya virus, juga untuk penghematan. Dengan menutup kantor artinya biaya untuk listrik, air, dan internet juga berkurang.
            Sebagian besar pekerjaan saya memang dapat dilakukan dari luar kantor. Yang penting ada alat kerjanya dan sambungan internet untuk koordinasi. Redaksi media anak tempat saya bekerja sudah menyesuaikan dengan cara kerja seperti ini dan sepertinya cukup berhasil. Apa yang kami kerjakan dapat mencapai target tanpa kendala yang berarti.
            Suatu hari, atasan saya mengimbau kami semua untuk mengambil barang-barang pribadi yang ada di kantor. Kami juga diminta untuk membuang makanan yang kemungkinan sudah kedaluarsa atau bahkan busuk. Untuk mencegah terjadinya perkumpulan orang, kami semua dijadwalkan untuk datang bergantian ke kantor.
            Barang milik pribadi saya yang ada di kantor ternyata banyak juga. Kebanyakan berupa buku. Buku-buku ini kebanyakan juga terkait dengan pekerjaan. Buku-buku itu banyak yang bisa dijadikan referensi atau bahan pemicu ide. Saya hanya membawa pulang beberapa di antaranya.

Harapan saya dan teman-teman, kelak kami akan berkantor di sini lagi. Jadi beberapa barang memang sengaja kami tinggalkan. Perlengkapan mandi, bantal, dan beberapa tas belanja saya tinggalkan di laci. Buku-buku yang sepertinya tidak dibaca dalam waktu dekat juga saya tinggalkan. Yang lainnya saya bawa dalam backpack yang biasa saya gunakan untuk jalan-jalan backpacker. {ST}

Minggu, 24 Mei 2020

Asisten Rumah Tangga Tidak Mudik Saat Lebaran 2020


            Lebaran tahun 2020 ini istimewa. Tahun ini tidak banyak orang yang mudik ke kampung halamannya. Pandemi Covid-19 yang menyebabkannya. Imbauan untuk tidak mudik ini memang sudah diserukan berbulan-bulan sebelumnya. Saya bersyukur para asisten rumah tangga kami tidak mudik.
            Asisten rumah tangga kami adalah sepasang suami istri. Saat mudik tentu saja mereka selalu bersama. Baik pergi ataupun pulangnya. Tidak bisa diatur bergiliran seperti di beberapa rumah tangga lain. Selain itu mereka memiliki kebiasaan kembali ke Jakarta tidak tepat waktu seperti yang dijanjikan. Kebiasaan yang sudah terjadi bertahun-tahun ini dimaklumi oleh ibu saya, majikan asli mereka.
            Setiap kali Lebaran datang, kami selalu menghadapi masalah yang sama. Kedua orang ini tidak tentu waktunya untuk kembali ke tempat mereka bekerja. Beberapa kali saya sempat berpikir mereka lebih baik berhenti saja. Namun, ibu saya mencegah karena sudah terbiasa dengan adanya mereka.
            Tahun 2020 ini, kedua asisten rumah tangga kami itu sebenarnya berniat untuk mudik. Kami berkali-kali berusaha mencegahnya. Saya terang-terangan memberikan semacam sogokan. Saya membeli TV layar datar dan dipasang di tempat mereka biasanya beristirahat. Saya katakan TV itu untuk menemani mereka di hari Lebaran. Kami juga membeli dan memasak menu khas lebaran seperti rendang dan opor ayam.

            Beberapa hari menjelang Lebaran, mereka mengatakan kalau tahun ini tidak mudik. Mudiknya ditunda pada bulan Juli karena bertepatan dengan acara keluarga. Saya lega mendengarnya. Semoga pada bulan Juli 2020 pandemi ini telah berlalu. Mereka dapat mudik dengan tenang tanpa gangguan. {ST}

Jumat, 15 Mei 2020

Tren Menanam Tanaman Pangan


            Setelah berbulan-bulan dipaksa untuk di rumah, banyak orang yang menanam tanaman di rumah. Selain sebagai kegiatan pengisi waktu, kegiatan ini juga untuk menambah menu makanan di rumah.
            Beberapa waktu yang lalu, saya pernah belajar tentang hidroponik. Saya tergabung dalam grup komunikasi para pegiat hidroponik ini. Mereka yang sebelumnya kurang aktif, menjadi sangat aktif di masa pandemi ini. Kegiatan ini menjadi menyenangkan dan semacam hiburan tersendiri.
            Melihat hasil panen teman-teman itu, berkali-kali saya terpicu untuk mulai menanam lagi. Niat ini belum kunjung terlaksana karena saya tidak punya bibitnya. Bibit yang pernah saya miliki sudah saya berikan kepada asik saya yang mau mencoba menanam juga.
            Menanam tanaman pangan ini tidak hanya dengan metode hidroponik. Menanam dengan menggunakan tanah pun menjadi trend. Teman-teman saya banyak yang sekarang ikut menanam tanaman pangan di halaman mereka yang sempit. Beberapa ada yang menanam menggunakan pot tanaman.

            Menanam tanaman pangan kabarnya memang disarankan oleh pemerintah. Dengan adanya tanaman pangan dan tanaman obat di rumah, kebutuhan pangan dapat dipenuhi walaupun tidak seluruhnya. Saya sendiri ikut menyambut gembira adanya trend baru ini. Menurut saya ini adalah trend baru yang ada gunanya. Selain itu pemandangan hasil panen mereka juga ikut menyegarkan mata. {ST}

Sabtu, 02 Mei 2020

Berjemur di Pagi Hari


            Berjemur di pagi hari adalah hal yang baik dilakukan. Kegiatan berjemur ini menjadi topik bahasan yang terkenal saat terjadi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Berjemur diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Kegiatan ini membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh.
            Saya juga mencoba menyempatkan waktu untuk dapat berjemur di pagi hari. Kegiatan yang tampaknya sederhana ini ternyata tidak terlalu mudah saat dilakukan. Ada banyak tantangan. Ada kalanya saya terlambat bangun, sehingga tidak lagi mendapatkan sinar Matahari pagi. Ada pula kalanya langit mendung atau sekalian hujan turun.
            Saat berjemur di pagi hari, saya kerap kali betemu beberapa orang tetangga yang tidak saya temui sehari-harinya. Kami bertegur sapa dengan jarak aman. Kadang-kadang hanya sekedar melambaikan tangan.

            Dari banyak informasi yang beredar, berjemur pad apagi hari itu sebaiknya dilakukan pada pukul 9 atau 10, selama 15 menit. Kadang-kadang saya dapat berjemur selama 15 menit. Namun, ada pula saatnya saya tidak sanggup karena Matahari sudah terlalu terik bersinar. Setelah berjemur biasanya keringat bercucuran dengan sendirinya. Baru setelah itu saya mandi dan bersiap-siap untuk bekerja di rumah. {ST}

Selasa, 28 April 2020

Saat Ada Teman yang Positif Kena Covid-19


            Siapa saja dapat terkena dampak Covid-19. Virus kecil ini dapat mengenai siapa saja. Tidak hanya golongan atau bangsa tertentu. Saya terus berdoa semoga keluarga kami tidak ada yang terkena.
            Saya terkejut saat ada seorang kenalan saya yang terkena Covid-19. Kondisi kesehatannya memburuk karena dia memiliki penyakit asma. Penyakit saluran pernafasan itu bertambah parah saat bertemu dengan virus yang menyerang paru-paru.
            Biasanya, saat ada teman yang sakit sampai masuk ICU, teman-temannya akan datang berkumpul untuk memberikan perhatian. Perhatian itu tidak hanya berupa kunjungan, kadang-kadang juga berupa dana. Kali ini perhatian kami tidak dapat berupa kunjungan. Kondisinya yang positif terkena COVID-19 justru membuat dia terlarang untuk dikunjungi.
            Kami teman-temannya hanya bisa berdoa dari jauh. Saya pribadi juga turut mendoakan. Selain prihatin akan keadaannya, saya juga kepikiran keluarganya. Saya teringat pada kedua anaknya yang masih kecil. Saya sangat bersyukur ketika teman saya ini kondisinya membaik. Ia akhirnya bisa keluar dari ruang ICU dan kembali pulih. Saat catatan ini saya buat, ia sudah kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

            Saya tahu mungkin beberapa orang ada yang harus kehilangan orang yang dikasihinya karena virus ini. Saya mendoakan semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan dan penghiburan untuk melanjutkan kehidupan. {ST}

Minggu, 26 April 2020

Aksi Puasa Paskah Saat Merebaknya COVID-19


            Merebaknya COVID-19 ini bertepatan pula dengan masa raya Paskah, salah satu hari raya yang penting bagi gereja. Saya yakin di berbagai gereja ada panitia khusus yang bertugas mengurusi hari raya yang rangkaiannya lebih dari 40 hari itu. Saya juga menjadi bagian dari Panitia Paskah di gereja tempat saya bergabung.
Salah satu kegiatannya adalah aksi puasa. Aksi puasa versi gereja ini bukan berarti tidak makan dan tidak minum dari matahari terbit sampai terbenam. Puasa atau pantang ini artinya pantang melakukan sesuatu yang disukai. Tentunya ada biaya yang biasanya kita gunakan untuk apa yang pantang kita lakukan itu. Misalnya pantang rokok. Biaya untuk rokok tersebut yang kemudian disisihkan untuk aksi puasa ini.

Sebagian dana dari aksi ini akhirnya ada yang disisihkan untuk membantu orang-orang yang terkena dampak COvid-19. Semoga saja dapat menjadi berkat bagi mereka yang memerlukan. {ST}

Sabtu, 25 April 2020

Rambut Panjang Saat Musim Covid-19


            Kebijakan untuk tetap tinggal di rumah selama COVID-19 merebak ini membuat banyak kegiatan terhenti, termasuk kegiatan di salon kecantikan. Salon langganan tempat saya potong rambut tutup selama beberapa bulan ini. Akibatnya saya tidak bisa memotong rambut.
            Saaat catatan ini saya buat, rambut saya sedang panjang. Rambut yang tergerai di punggung saya itu sudah hampir mencapai pinggang. Rasanya ini adalah rambut saya yang terpanjang sepanjang sejarah.
            Rambut panjang saya ini jenisnya mengembang dan agak susah diatur. Jepit-jepit rambut yang ada kadang-kadang tidak bisa bertahan lama apabila digunakan di rambut saya yang tebal mengembang. Selama bekerja di rumah ini, saya sudah mematahkan 2 jepit rambut. Ada pula karet-karet rambut yang menjadi tak berguna saat berhadapan dengan rambut saya.
            Saya sebenarnya bersyukur memiliki rambut yang tebal dan agak mengembang. Banyak orang lain yang bersusah-susah menyasak rambutnya supaya terlihat mengembang seperti rambut saya. Namun, apabila terlalu panjang, agak repot juga pemeliharaan dan pengaturannya.
            Perlu lebih banyak sampo dan kondisioner untuk membersihkan dan memelihara rambut saya ini. Ditambah pula dengan kebiasaan baru saat pandemi ini. Para penghuni kami mengembangkan kebiasaan baru untuk keramas setiap kali keluar rumah. Nah, kalau keluar rumahnya setiap hari, ya keramasnya setiap hari. Dapat dibayangkan berapa banyak sampo yang saya perlukan.

            Rambut panjang bagi saya, seorang perempuan, sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah bagi penampilan. Bahkan, ada yang yang mengatakan saya makin manis dengan rambut panjang. Ada juga yang mengatakan makin mengerikan, sih. Agak mirip para perempuan bintang film horor. {ST}

Jumat, 24 April 2020

GKI Kwitang Peduli Covid-19


            GKI Kwitang, gereja tempat saya bergabung, terpaksa tutup pada saat merebaknya COVID-19. Tempat ibadah yang terletak di Jakarta Pusat ini terpaksa mengalihkan beberapa kegiatannya menjadi online. Memang ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan secara online, tetapi banyak pula yang tidak bisa.
            Walaupun kegiatan yang mengumpulkan orang banyak ditiadakan, bukan berarti semua kagiatan dihentikan. Salah satu kegiatan yang diadakan saat pandemi ini adalah memberikan bantuan bagi yang terdampak COVID-19. Bantuan itu berupa wastafel dan saluran air untuk daerah sekitar gereja, alat untuk disinfeksi, APD untuk rumah sakit yang memerlukan, dan memberikan bantuan makan siang bagi yang memerlukan.

            Untuk memberikan bantuan ini, ada tim yang khusus untuk mengerjakannya. Tim ini mengumpulkan dana, menyediakan barang keperluan, dan memberikan kepada yang memerlukannya. Bagi orang yang terpanggil untuk membantu dalam bentuk dana dapat memberikannya dengan cara transfer, dengan kode angka 19 di akhir nominal transfernya. {ST}

Kamis, 23 April 2020

Jeruk, Vitamin C Alami

        

        Jeruk, Vitamin C Alami Salah satu sumber vitamin C alami adalah buah jeruk. Sampai-sampai ada banyak vitamin C dalam kemasan yang rasanya jeruk. Jeruk sebagai sumber vitamin C sudah dikenal sebagai rahasia umum walaupun ada banyak sumber vitamin C lainnya. 
           Jeruk juga yang menjadi pilihan saya sebagai bahan makanan tambahan untuk vitamin C. Saya dan beberapa teman membeli jeruk untuk menambah asupan vitamin C. Saya biasanya membeli 2 sampai 3 kg untuk dimakan bersama-sama di rumah. {ST}

Selasa, 21 April 2020

Penyemprotan Nyamuk DBD Saat Pandemi Covid-19


            Merebaknya Covid-19 di awal tahun 2020 ini membuat banyak orang wasapada tentang kebersihan. Namun, ada yang seakan terlupakan. Pada saat yang sama, di beberapa tempat di negara ini juga ada yang terkena demam berdarah.
            Penyakit demam berdarah ini dapat dikatakan datang musiman, biasanya pada saat pergantian musim seperti sekarang ini. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini biasanya mewabah di suatu daerah. Langkah pencegahannya dengan membersihkan sarang nyamuk di daerah tersebut. Selain membersihkan, ada pula penyemprotan zat pencegah berkembang biaknya nyamuk.
            Berita tentang penyakit demam berdarah di tahun 2020 ini agak tertutup oleh kehebohan Covid-19 yang dampaknya sangat besar bagi dunia. Tindakan pencegahannya pun hampir tidak ada. Saya pernah teringat beberapa waktu yang lalu saat membaca berita demam berdarah. Akan tetapi saya tidak melakukan sesuatu lebih dari itu.

            Saya harus bersyukur tinggal di perumahan yang pengurus RT dan RW-nya peduli. Tanpa diminta mereka sudah mengadakan penyemprotan untuk membasmi nyamuk dan jentik-jentiknya ini. Kalau diingat-ingat, saya hampir tidak pernah menyaksikan penyemprotan nyamuk karena biasanya dilakukan saat saya bekerja. Baru saat bekerja di rumah inilah saya dapat melihatnya secara langsung. {ST}

Senin, 20 April 2020

Vitamin C Dalam Kemasan yang Langka Saat Pandemi COVID-19


            Vitamin C bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Vitamin yang tidak diproduksi oleh tubuh ini harus didapat dari asupan makanan seperti buah-buahan dan sayuran. Apabila kekurangan vitamin C, tubuh akan menjadi lebih lemah dan lebih mudah terserang penyakit.
            Vitamin C dalam kemasan menjadi alternatif solusi apabila bahan makanan yang kita makan kurang kandungan vitaminnya. Ini juga yang sering saya lakukan. Saya selalu memiliki vitamin C dalam kemasan. Vitamin ini pun saya pilih yang khusus, yang aman untuk lambung.
            Saat merebaknya COVID-19, tampaknya semua orang mengambil langkah yang sama. Vitamin C dalam kemasan langsung banyak peminatnya. Toko-toko kehabisan stok. Kalaupun ada, mereka menjual dengan harga yang lebih mahal daripada biasanya. O ya, terkait hal ini ada toko online yang mengeluarkan sanksi kepada pedagang yang menaikkan harga berlebihan. Saya sangat mengapresisi langkah ini.

            Suatu hari, saya pernah mencari vitamin di sekitar rumah saya. Saya mencarinya di supermarket dan apotek yang memang ada banyak jumlahnya di sekitar rumah. Rasanya saya mendatangi 8 toko dan apotek. Hasilnya sama saja, vitamin C yang saya cari tidak ada. Saya akhirnya memilih membeli vitamin C yang harganya 5 kali lipat lebih mahal dibandingkan yang biasa saya beli. {ST}

Masker dan Kacamata yang Berembun


            Pada bulan Maret 2020 ini dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Saya tidak terlalu suka menggunakan masker. Selain menganggu pergerakan mulut, masker juga membuat kacamata saya berembun. Saya masih terus berjuang mencari trik supaya dapat menggunakan masker dengan lebih nyaman.

            Ada kalanya saya lebih memilih untuk membuka kacamata saya supaya lebih nyaman mengenakan masker. Pernah pula saya memilih untuk melepaskan maskernya karena ingin melihat menggunakan kacamata. Saat penggunaan masker belum direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan, saya lebih memilih untuk tidak menggunakan masker. {ST}

Jumat, 17 April 2020

Menginap di Rumah Tongkonan





            Menginjak Tana Toraja merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya memang sudah lama ingin ke Tana Toraja dan melihat budayanya yang unik. Salah satu yang membuat saya kagum adalah rumah tongkonannya yang indah.

            Pada kunjungan kali ini, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Lembang Lea. Lembang di Toraja artinya desa. Lembang Lea artinya Desa Lea. Desa kecil yang terletak di pegunungan ini letaknya tak jauh dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja

            Kunjungan ke Lembang Lea itu artinya juga berkunjung ke rumah tongkonan. Saya bahkan mendapat kesempatan untuk menginap di dalam rumah tongkonan. Senang sekali rasanya.


            Setiap rumah tongkonan memiliki pakem yang sama. Rumah panggung berbahan kayu itu terdiri dari 3 ruangan, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Semua rumah tongkonan menghadap ke utara. Di bagian depannya ada lumbung untuk menyimpan hasil panen dan bahan makanan. Bagian luar rumah itu dihiasi dengan ukiran khas Toraja.

Beberapa tongkonan di bagian depannya dihiasi dengan tanduk kerbau. Tanduk kerbau ini adalah tanda bahwa penghuni tongkonan itu pernah mengadakan upacara kematian di mana kerbau itu dijadikan korbannya.

Tongkonan tempat saya menginap itu terletak di pegunungan berhawa sejuk. Saya menduga malamnya akan dingin sekali. Saya sudah menyediakan perlengkapan penghangat tubuh seperti jaket, syal, kaos kaki, dan juga kain-kain yang rencananya saya gunakan sebagai cadangan selimut.
Bagian dalam rumah tongkonan

“Bermalam di rumah tongkonan itu hangat,” kata seorang penghuni tongkonan.

Saya tidak percaya mendengarnya. Tentu saja dia merasa hangat karena dia sudah terbiasa tinggal di situ. Bagi saya belum tentu. Ketidakpercayaan saya bertambah karena siang hari di tempat itu sudah terasa sejuk, apalagi saat malam.

Saya pun kemudian pergi tidur dengan perlengkapan “musim dingin”. Hanya beberapa menit setelah merebahkan badan di kamar tengah tongkonan, saya merasa gelisah. Saya gelisah karena kegerahan. Tak lama kemudian, perlengkapan “musim dingin” saya sudah teronggok di ujung tempat tidur. Saya hanya mengenakan pakaian tidur yang biasa saya kenakan. Ternyata melewatkan malam di dalam tongkonan tidak sedingin yang saya kira.

Esoknya, saya terbangun dengan segar. Tidak demikian dengan teman-teman saya yang bermalam di rumah beratap seng. Mereka kedinginan dan tidak bisa tidur semalaman. Apalagi ditambah dengan kucing-kucing yang berjalan-jalan di atas atap.

Menurut orang-orang Toraja yang tinggal di situ, bagian dalam tongkonan memang hangat di saat malam, dan adem di saat siang. Itu karena terbuat dari bahan kayu. Rumah beratap bambu bahkan lebih adem lagi di siang hari. Itu membuat tongkonan menjadi lebih berharga dibandingkan dengan rumah biasa. {ST}


Baca juga:



Kamis, 16 April 2020

Imbauan Memakai Masker di Luar Rumah


            Beberapa waktu yang lalu, WHO memberikan rekomendasi bahwa yang seharusnya memakai masker adalah orang yang sakit dan sedang merawat orang sakit. Imbauan ini menuai banyak komentar karena banyak orang yang berpendapat di saat pandemi seperti ini sebaiknya semua orang menggunakan masker. Pendapat itu ada pula yang disertai dengan data bahwa penyebaran di Covid-19 di kalangan orang yang menggunakan masker lebih kecil daripada yang tidak menggunakan masker.
            Dalam perkembangannya, WHO memberikan rekomendsi baru. Semua orang yang berada di luar rumah dan di tempat umum wajib menggunakan masker. Masker yang digunakan cukup masker kain, bukan masker yang khusus dibuat untuk tenaga medis. Masker berbahan kain juga boleh digunakan dalam keadaan ini.
            Pengelola transportasi umum di Jakarta juga mengikuti imbauan ini. Semua orang yang akan menggunakan jasa transportasi umum wajib menggunakan masker. Kalau tidak menggunakan masker tidak akan diizinkan untuk masuk ke dalam stasiun atau halte. {ST}

Selasa, 14 April 2020

Minggu Paskah di Rumah


            Minggu Paskah tahun 2020 ini jatuh pada tanggal 12 April 2020. Pada saat itu di Jakarta sedang dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Langkah ini diambil pemerintah karena makin menyebarnya COVID-19 di ibu kota Indonesia ini. Semua tempat ibadah dilarang, tidak hanya diimbau, untuk melakukan kegiatan ibadah. Karena itu Paskah kali ini pun dirayakan di rumah.
            Untuk mendukung perayaan Paskah kali ini, GKI Kwitang, gereja tempat saya bergabung, menggunakan media Youtube. Kami membuat panduan beribadah yang bisa diakses di mana saja. Panduan ini memang tidak dapat menggantikan persekutuan dengan bertemu langsung. Namun, inilah yang dapat kami lakukan.
            Minggu Paskah di rumah ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Masa menjelang Paskah adalah masa tersibuk bagi orang Kristen. Ada banyak peringatan menjelang hari paling penting bagi orang Kristen ini. Dalam seminggu terakhir menjelang Paskah, ada Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan MInggu Paskah. Minggu Paskah pun biasanya ada acara yang diadakan dini hari alias Paskah Subuh. Ada pula kebaktian Minggu yang disertai dengan perjamuan kudus.

            Tahun ini saya ikut terlibat sebagai Panitia Paskah di gereja tempat saya berbakti. Saat diminta menjadi panitia, saya sudah membayangkan akan menghabiskan banyak waktu di gereja. Saya sudah menyiapkan diri untuk hal itu. Apalagi hal ini bukan pengalaman pertama kali saya menjadi panitia. Akan tetapi, tidak demikian kenyataannya. Saat Paskah kali ini, saya dan keluarga di rumah saja. {ST}

Senin, 13 April 2020

Salib, Penyiksaan yang Paling Menyiksa


            Yesus Kristus mati karena disalibkan. Ia kemudian bangkit kembali pada hari ketiga. Peringatan kebangkitannya itulah yang dikenal sebagai Minggu Paskah. Hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari raya terpenting bagi orang Kristen, para pengikut Yesus Kristus.
            Selama beberapa tahun di awal kehidupan saya, saya tidak terlalu menghayati perayaan Paskah ini. Apalagi ada hari raya yang lebih meriah, yaitu Natal. Paskah, apalagi Jumat Agung yang suram dan bernuansa sedih, tidak terlalu berkesan mendalam bagi saya.
            Baru setelah dewasa saya mulai menghayatinya. Saya bertanya-tanya sendiri mengapa harus disalibkan? Mengapa tidak penghukuman yang lain saja? Dalam kitab itu ada banyak jenis hukuman yang kejam-kejam. Hukuman yang membuat saya bergidik.

            Saya pun kemudian mencari tahu tentang salib ini. Salib ternyata cara menghukum sekaligus menyiksa yang paling keji. Orang yang disalib masih hidup selama beberapa jam digantungkan itu. Selain merasa kesakitan yang luar biasa, orang tersebut juga dipermalukan. Sepertinya cara penghukuman seperti ini memang untuk menyiksa. Penyiksaan yang paling menyiksa. {ST}

Jumat, 10 April 2020

Olahraga Saat Bosan di Rumah


            Ada kalanya saya bosan di rumah pada saat kerja di rumah ini. Sebelumnya, saat merasa bosan, saya akan keluar dari rumah. Entah untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Atau sekalian saja pergi agak lebih jauh seperti ke Bogor atau ke Kebun Binatang. Nonton TV bukan pilihan utama untuk menghilangkan bosan. Karena tak lama kemudian, saya pun menjadi bosan melihat layar kaca itu.
            Berjalan-jalan ke luar itu menjadi masalah saat diminta bekerja di rumah. Belum lagi ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta. Saya akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di rumah, menggunakan alat bantu bernama Aerofit. Alat olahraga ini memang digunakan dengan cara seperti berjalan kaki.

            Saya berjalan kaki ribuan langkah dengan menggunakan alat ini. Saya mengukurnya dengan menggunakan aplikasi yang ada di HP. Hp yang sama saya gunakanuntuk memutar podcast. Sembari berjalan sekaligus mendengarkan podcast. Sepertinya kegiatan ini lebih berguna. Olahraga sekalian menambah wawasan. {ST}

Rabu, 08 April 2020

Isolasi Diri Saat Tak Punya Rumah


            Saat merebaknya Covid-19 di seluruh penjuru dunia, semua orang diminta untuk di rumah saja. Saya juga termasuk yang melaksanakannya. Saat catatan ini saya buat, saya sudah lebih dari 2 minggu di rumah saja. Pekerjaan pun saya bawa ke rumah. Saya bersyukur memiliki rumah yang cukup nyaman dan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.
            Saya jadi terpikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rumah? Orang yang hidup di jalanan dan tidak punya tempat tinggal tetap. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang tidak memiliki rumah di kota tempat tinggal saya ini. Di kota-kota lain pun saya yakin pasti ada orang yang seperti ini.

            Saat kehidupan berjalan “normal” orang-orang yang tidak punya rumah ini masih belum dapat diatasi. Bagaimana dengan saat orang-orang diminta untuk isolasi diri di dalam rumah seperti ini? Semoga saja ada orang-orang dan lembaga yang cukup peduli untuk mengurusi mereka di saat seperti ini. {ST}

Senin, 06 April 2020

Hand Sanitizer yang Mahal Sekali


            Setiap hari, saya selalu membawa hand sanitizer botol kecil di tas saya. Benda ini saya gunakan untuk membersihkan tangan apabila diperlukan. Sejak merebaknya Covid-19, cairan pembersih tangan ini makin terkenal. Semua orang membawanya. Semua orang memberlinya. Banyak orang yang menjualnya.
            Cairan pembersih tangan ini menjadi barang langka di pasar. Minimarket yang biasanya menjual barang-barang ini kehabisan stok. Para penjual melihat peluang dari banyaknya permintaan ini. Ada banyak yang menjualnya dengan harga mahal. Bahkan dapat dikategorikan sebagai mahal sekali.

            Di dekat rumah saya ada yang menjualnya di pinggir jalan. Sebotol kecil dijual seharga Rp 60 ribu. Saat itu saya bertanya hanya karena ingin tahu. Saya tidak berminat membeli karena masih punya stok di rumah. Melihat saya tidak terlalu berminat, penjualnya menawarkan ke saya cairan pencuci tangan yang botol besar. Katanya beli banyak lebih murah. Harganya Rp 300.000 saja. Harga yang mahal sekali untuk sebotol cairan pembersih tangan. {ST}

Sabtu, 04 April 2020

Penyemprotan Disinfektan


            Saat virus Covid-19 merebak, banyak orang yang waspada dan berjaga-jaga. Salah satu caranya adalah dengan menyemprotkan disinfektan ke barang-barang yang sering digunakan. Tujuannya tentu saja supaya virus tersebut lenyap dan tidak membahayakan orang yang menyentuhnya.
            Penyemprotan disinfektan atau disinfeksi ini dilakukan di banyak tempat termasuk di tempat saya sering beraktivitas, baik di kantor, gereja, dan juga di sekitar rumah saya. Di sekitar rumah saya penyemprotan ini dilakukan secara berkala setiap 2 hari.
            Penyemprotan disinfektan ini membuat beberapa orang menjadi lebih tenang. Namun, dari yang saya baca, sebenarnya ada juga penyemprotan yang tidak terlalu efektif. Seperti penyemprotan disinfektan ke jalan raya, ke tanaman, atau ke orang. Penyemprotan difinfektan langsung ke orang malah dapat membuat sesak nafas apabila terhirup. Selain itu aromanya juga tidak menyenangkan.

            Saya sendiri belum pernah mengalami penyemprotan langsung di tubuh. Biasanya saya punya pilihan lain, misalnya dengan mencuci tangan atau dengan menggunakan hand sanitizer. Saya juga berjaga-jaga dengan menggunakan masker. {ST}

Kamis, 02 April 2020

Waktu untuk Kerja di Rumah Diperpanjang


            Tanggal 17 Maret 2020 yang lalu kantor tempat saya bekerja mengambil kebijakan untuk bekerja di rumah. Kebijakan itu untuk menghindari penularan virus Covid-19 yang saat ini menjadi pandemi. Kami semua diminta bekerja di rumah selama 2 minggu sampai akhir bulan Maret 2020.
            Pada beberapa hari pertama, saya cukup menikmati bekerja di rumah ini. Kebetulan pekerjaan saya ini memang dapat dikerjakan di mana saja, termasuk di rumah. Saya juga dapat bangun lebih siang dan tidak perlu mandi dulu untuk bekerja he he he...
            Setelah seminggu berlalu, rasanya ada yang kurang. Biasanya saya selalu bertemu dengan teman-teman di kantor. teman-teman kantor itu tidak hanya sekadar rekan kerja. Mereka juga teman seperjuangan yang sudah seperti saudara. Kami sering ngobrol sambil bercanda seru. Kali ini kami ngobrolnya versi digital.
            Masalah saat bekerja di rumah juga berbeda. Biasanya masalah pekerjaan bisa diselesaikan langsung bersama-sama, kali ini harus berusaha diselesaikan sendiri dulu. Kalau tidak bisa, baru meminta bantuan. Meminta bantuan pun bentuknya hanya informasi. Semua harus dilakukan sendiri.

     Menjelang akhir bulan, saya sudah bersyukur karena akhirnya kerja di rumah ini akan berakhir. Namun, tidak demikian kenyataannya. Kami semua harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Keputusan ini diambil karena keadaan belum dapat dikatakan aman. Virus Covid-19 ini masih belum dapat dikendalikan. Kerja di rumah dilanjutkan sampai tanggal 19 April 2020. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini