Ana

Selasa, 21 April 2020

Penyemprotan Nyamuk DBD Saat Pandemi Covid-19


            Merebaknya Covid-19 di awal tahun 2020 ini membuat banyak orang wasapada tentang kebersihan. Namun, ada yang seakan terlupakan. Pada saat yang sama, di beberapa tempat di negara ini juga ada yang terkena demam berdarah.
            Penyakit demam berdarah ini dapat dikatakan datang musiman, biasanya pada saat pergantian musim seperti sekarang ini. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini biasanya mewabah di suatu daerah. Langkah pencegahannya dengan membersihkan sarang nyamuk di daerah tersebut. Selain membersihkan, ada pula penyemprotan zat pencegah berkembang biaknya nyamuk.
            Berita tentang penyakit demam berdarah di tahun 2020 ini agak tertutup oleh kehebohan Covid-19 yang dampaknya sangat besar bagi dunia. Tindakan pencegahannya pun hampir tidak ada. Saya pernah teringat beberapa waktu yang lalu saat membaca berita demam berdarah. Akan tetapi saya tidak melakukan sesuatu lebih dari itu.

            Saya harus bersyukur tinggal di perumahan yang pengurus RT dan RW-nya peduli. Tanpa diminta mereka sudah mengadakan penyemprotan untuk membasmi nyamuk dan jentik-jentiknya ini. Kalau diingat-ingat, saya hampir tidak pernah menyaksikan penyemprotan nyamuk karena biasanya dilakukan saat saya bekerja. Baru saat bekerja di rumah inilah saya dapat melihatnya secara langsung. {ST}

Senin, 20 April 2020

Vitamin C Dalam Kemasan yang Langka Saat Pandemi COVID-19


            Vitamin C bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Vitamin yang tidak diproduksi oleh tubuh ini harus didapat dari asupan makanan seperti buah-buahan dan sayuran. Apabila kekurangan vitamin C, tubuh akan menjadi lebih lemah dan lebih mudah terserang penyakit.
            Vitamin C dalam kemasan menjadi alternatif solusi apabila bahan makanan yang kita makan kurang kandungan vitaminnya. Ini juga yang sering saya lakukan. Saya selalu memiliki vitamin C dalam kemasan. Vitamin ini pun saya pilih yang khusus, yang aman untuk lambung.
            Saat merebaknya COVID-19, tampaknya semua orang mengambil langkah yang sama. Vitamin C dalam kemasan langsung banyak peminatnya. Toko-toko kehabisan stok. Kalaupun ada, mereka menjual dengan harga yang lebih mahal daripada biasanya. O ya, terkait hal ini ada toko online yang mengeluarkan sanksi kepada pedagang yang menaikkan harga berlebihan. Saya sangat mengapresisi langkah ini.

            Suatu hari, saya pernah mencari vitamin di sekitar rumah saya. Saya mencarinya di supermarket dan apotek yang memang ada banyak jumlahnya di sekitar rumah. Rasanya saya mendatangi 8 toko dan apotek. Hasilnya sama saja, vitamin C yang saya cari tidak ada. Saya akhirnya memilih membeli vitamin C yang harganya 5 kali lipat lebih mahal dibandingkan yang biasa saya beli. {ST}

Masker dan Kacamata yang Berembun


            Pada bulan Maret 2020 ini dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Saya tidak terlalu suka menggunakan masker. Selain menganggu pergerakan mulut, masker juga membuat kacamata saya berembun. Saya masih terus berjuang mencari trik supaya dapat menggunakan masker dengan lebih nyaman.

            Ada kalanya saya lebih memilih untuk membuka kacamata saya supaya lebih nyaman mengenakan masker. Pernah pula saya memilih untuk melepaskan maskernya karena ingin melihat menggunakan kacamata. Saat penggunaan masker belum direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan, saya lebih memilih untuk tidak menggunakan masker. {ST}

Jumat, 17 April 2020

Menginap di Rumah Tongkonan





            Menginjak Tana Toraja merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya memang sudah lama ingin ke Tana Toraja dan melihat budayanya yang unik. Salah satu yang membuat saya kagum adalah rumah tongkonannya yang indah.

            Pada kunjungan kali ini, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Lembang Lea. Lembang di Toraja artinya desa. Lembang Lea artinya Desa Lea. Desa kecil yang terletak di pegunungan ini letaknya tak jauh dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja

            Kunjungan ke Lembang Lea itu artinya juga berkunjung ke rumah tongkonan. Saya bahkan mendapat kesempatan untuk menginap di dalam rumah tongkonan. Senang sekali rasanya.


            Setiap rumah tongkonan memiliki pakem yang sama. Rumah panggung berbahan kayu itu terdiri dari 3 ruangan, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Semua rumah tongkonan menghadap ke utara. Di bagian depannya ada lumbung untuk menyimpan hasil panen dan bahan makanan. Bagian luar rumah itu dihiasi dengan ukiran khas Toraja.

Beberapa tongkonan di bagian depannya dihiasi dengan tanduk kerbau. Tanduk kerbau ini adalah tanda bahwa penghuni tongkonan itu pernah mengadakan upacara kematian di mana kerbau itu dijadikan korbannya.

Tongkonan tempat saya menginap itu terletak di pegunungan berhawa sejuk. Saya menduga malamnya akan dingin sekali. Saya sudah menyediakan perlengkapan penghangat tubuh seperti jaket, syal, kaos kaki, dan juga kain-kain yang rencananya saya gunakan sebagai cadangan selimut.
Bagian dalam rumah tongkonan

“Bermalam di rumah tongkonan itu hangat,” kata seorang penghuni tongkonan.

Saya tidak percaya mendengarnya. Tentu saja dia merasa hangat karena dia sudah terbiasa tinggal di situ. Bagi saya belum tentu. Ketidakpercayaan saya bertambah karena siang hari di tempat itu sudah terasa sejuk, apalagi saat malam.

Saya pun kemudian pergi tidur dengan perlengkapan “musim dingin”. Hanya beberapa menit setelah merebahkan badan di kamar tengah tongkonan, saya merasa gelisah. Saya gelisah karena kegerahan. Tak lama kemudian, perlengkapan “musim dingin” saya sudah teronggok di ujung tempat tidur. Saya hanya mengenakan pakaian tidur yang biasa saya kenakan. Ternyata melewatkan malam di dalam tongkonan tidak sedingin yang saya kira.

Esoknya, saya terbangun dengan segar. Tidak demikian dengan teman-teman saya yang bermalam di rumah beratap seng. Mereka kedinginan dan tidak bisa tidur semalaman. Apalagi ditambah dengan kucing-kucing yang berjalan-jalan di atas atap.

Menurut orang-orang Toraja yang tinggal di situ, bagian dalam tongkonan memang hangat di saat malam, dan adem di saat siang. Itu karena terbuat dari bahan kayu. Rumah beratap bambu bahkan lebih adem lagi di siang hari. Itu membuat tongkonan menjadi lebih berharga dibandingkan dengan rumah biasa. {ST}


Baca juga:



Kamis, 16 April 2020

Imbauan Memakai Masker di Luar Rumah


            Beberapa waktu yang lalu, WHO memberikan rekomendasi bahwa yang seharusnya memakai masker adalah orang yang sakit dan sedang merawat orang sakit. Imbauan ini menuai banyak komentar karena banyak orang yang berpendapat di saat pandemi seperti ini sebaiknya semua orang menggunakan masker. Pendapat itu ada pula yang disertai dengan data bahwa penyebaran di Covid-19 di kalangan orang yang menggunakan masker lebih kecil daripada yang tidak menggunakan masker.
            Dalam perkembangannya, WHO memberikan rekomendsi baru. Semua orang yang berada di luar rumah dan di tempat umum wajib menggunakan masker. Masker yang digunakan cukup masker kain, bukan masker yang khusus dibuat untuk tenaga medis. Masker berbahan kain juga boleh digunakan dalam keadaan ini.
            Pengelola transportasi umum di Jakarta juga mengikuti imbauan ini. Semua orang yang akan menggunakan jasa transportasi umum wajib menggunakan masker. Kalau tidak menggunakan masker tidak akan diizinkan untuk masuk ke dalam stasiun atau halte. {ST}

Selasa, 14 April 2020

Minggu Paskah di Rumah


            Minggu Paskah tahun 2020 ini jatuh pada tanggal 12 April 2020. Pada saat itu di Jakarta sedang dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Langkah ini diambil pemerintah karena makin menyebarnya COVID-19 di ibu kota Indonesia ini. Semua tempat ibadah dilarang, tidak hanya diimbau, untuk melakukan kegiatan ibadah. Karena itu Paskah kali ini pun dirayakan di rumah.
            Untuk mendukung perayaan Paskah kali ini, GKI Kwitang, gereja tempat saya bergabung, menggunakan media Youtube. Kami membuat panduan beribadah yang bisa diakses di mana saja. Panduan ini memang tidak dapat menggantikan persekutuan dengan bertemu langsung. Namun, inilah yang dapat kami lakukan.
            Minggu Paskah di rumah ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Masa menjelang Paskah adalah masa tersibuk bagi orang Kristen. Ada banyak peringatan menjelang hari paling penting bagi orang Kristen ini. Dalam seminggu terakhir menjelang Paskah, ada Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan MInggu Paskah. Minggu Paskah pun biasanya ada acara yang diadakan dini hari alias Paskah Subuh. Ada pula kebaktian Minggu yang disertai dengan perjamuan kudus.

            Tahun ini saya ikut terlibat sebagai Panitia Paskah di gereja tempat saya berbakti. Saat diminta menjadi panitia, saya sudah membayangkan akan menghabiskan banyak waktu di gereja. Saya sudah menyiapkan diri untuk hal itu. Apalagi hal ini bukan pengalaman pertama kali saya menjadi panitia. Akan tetapi, tidak demikian kenyataannya. Saat Paskah kali ini, saya dan keluarga di rumah saja. {ST}

Senin, 13 April 2020

Salib, Penyiksaan yang Paling Menyiksa


            Yesus Kristus mati karena disalibkan. Ia kemudian bangkit kembali pada hari ketiga. Peringatan kebangkitannya itulah yang dikenal sebagai Minggu Paskah. Hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari raya terpenting bagi orang Kristen, para pengikut Yesus Kristus.
            Selama beberapa tahun di awal kehidupan saya, saya tidak terlalu menghayati perayaan Paskah ini. Apalagi ada hari raya yang lebih meriah, yaitu Natal. Paskah, apalagi Jumat Agung yang suram dan bernuansa sedih, tidak terlalu berkesan mendalam bagi saya.
            Baru setelah dewasa saya mulai menghayatinya. Saya bertanya-tanya sendiri mengapa harus disalibkan? Mengapa tidak penghukuman yang lain saja? Dalam kitab itu ada banyak jenis hukuman yang kejam-kejam. Hukuman yang membuat saya bergidik.

            Saya pun kemudian mencari tahu tentang salib ini. Salib ternyata cara menghukum sekaligus menyiksa yang paling keji. Orang yang disalib masih hidup selama beberapa jam digantungkan itu. Selain merasa kesakitan yang luar biasa, orang tersebut juga dipermalukan. Sepertinya cara penghukuman seperti ini memang untuk menyiksa. Penyiksaan yang paling menyiksa. {ST}

Jumat, 10 April 2020

Olahraga Saat Bosan di Rumah


            Ada kalanya saya bosan di rumah pada saat kerja di rumah ini. Sebelumnya, saat merasa bosan, saya akan keluar dari rumah. Entah untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Atau sekalian saja pergi agak lebih jauh seperti ke Bogor atau ke Kebun Binatang. Nonton TV bukan pilihan utama untuk menghilangkan bosan. Karena tak lama kemudian, saya pun menjadi bosan melihat layar kaca itu.
            Berjalan-jalan ke luar itu menjadi masalah saat diminta bekerja di rumah. Belum lagi ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta. Saya akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di rumah, menggunakan alat bantu bernama Aerofit. Alat olahraga ini memang digunakan dengan cara seperti berjalan kaki.

            Saya berjalan kaki ribuan langkah dengan menggunakan alat ini. Saya mengukurnya dengan menggunakan aplikasi yang ada di HP. Hp yang sama saya gunakanuntuk memutar podcast. Sembari berjalan sekaligus mendengarkan podcast. Sepertinya kegiatan ini lebih berguna. Olahraga sekalian menambah wawasan. {ST}

Rabu, 08 April 2020

Isolasi Diri Saat Tak Punya Rumah


            Saat merebaknya Covid-19 di seluruh penjuru dunia, semua orang diminta untuk di rumah saja. Saya juga termasuk yang melaksanakannya. Saat catatan ini saya buat, saya sudah lebih dari 2 minggu di rumah saja. Pekerjaan pun saya bawa ke rumah. Saya bersyukur memiliki rumah yang cukup nyaman dan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah.
            Saya jadi terpikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki rumah? Orang yang hidup di jalanan dan tidak punya tempat tinggal tetap. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang yang tidak memiliki rumah di kota tempat tinggal saya ini. Di kota-kota lain pun saya yakin pasti ada orang yang seperti ini.

            Saat kehidupan berjalan “normal” orang-orang yang tidak punya rumah ini masih belum dapat diatasi. Bagaimana dengan saat orang-orang diminta untuk isolasi diri di dalam rumah seperti ini? Semoga saja ada orang-orang dan lembaga yang cukup peduli untuk mengurusi mereka di saat seperti ini. {ST}

Senin, 06 April 2020

Hand Sanitizer yang Mahal Sekali


            Setiap hari, saya selalu membawa hand sanitizer botol kecil di tas saya. Benda ini saya gunakan untuk membersihkan tangan apabila diperlukan. Sejak merebaknya Covid-19, cairan pembersih tangan ini makin terkenal. Semua orang membawanya. Semua orang memberlinya. Banyak orang yang menjualnya.
            Cairan pembersih tangan ini menjadi barang langka di pasar. Minimarket yang biasanya menjual barang-barang ini kehabisan stok. Para penjual melihat peluang dari banyaknya permintaan ini. Ada banyak yang menjualnya dengan harga mahal. Bahkan dapat dikategorikan sebagai mahal sekali.

            Di dekat rumah saya ada yang menjualnya di pinggir jalan. Sebotol kecil dijual seharga Rp 60 ribu. Saat itu saya bertanya hanya karena ingin tahu. Saya tidak berminat membeli karena masih punya stok di rumah. Melihat saya tidak terlalu berminat, penjualnya menawarkan ke saya cairan pencuci tangan yang botol besar. Katanya beli banyak lebih murah. Harganya Rp 300.000 saja. Harga yang mahal sekali untuk sebotol cairan pembersih tangan. {ST}

Sabtu, 04 April 2020

Penyemprotan Disinfektan


            Saat virus Covid-19 merebak, banyak orang yang waspada dan berjaga-jaga. Salah satu caranya adalah dengan menyemprotkan disinfektan ke barang-barang yang sering digunakan. Tujuannya tentu saja supaya virus tersebut lenyap dan tidak membahayakan orang yang menyentuhnya.
            Penyemprotan disinfektan atau disinfeksi ini dilakukan di banyak tempat termasuk di tempat saya sering beraktivitas, baik di kantor, gereja, dan juga di sekitar rumah saya. Di sekitar rumah saya penyemprotan ini dilakukan secara berkala setiap 2 hari.
            Penyemprotan disinfektan ini membuat beberapa orang menjadi lebih tenang. Namun, dari yang saya baca, sebenarnya ada juga penyemprotan yang tidak terlalu efektif. Seperti penyemprotan disinfektan ke jalan raya, ke tanaman, atau ke orang. Penyemprotan difinfektan langsung ke orang malah dapat membuat sesak nafas apabila terhirup. Selain itu aromanya juga tidak menyenangkan.

            Saya sendiri belum pernah mengalami penyemprotan langsung di tubuh. Biasanya saya punya pilihan lain, misalnya dengan mencuci tangan atau dengan menggunakan hand sanitizer. Saya juga berjaga-jaga dengan menggunakan masker. {ST}

Kamis, 02 April 2020

Waktu untuk Kerja di Rumah Diperpanjang


            Tanggal 17 Maret 2020 yang lalu kantor tempat saya bekerja mengambil kebijakan untuk bekerja di rumah. Kebijakan itu untuk menghindari penularan virus Covid-19 yang saat ini menjadi pandemi. Kami semua diminta bekerja di rumah selama 2 minggu sampai akhir bulan Maret 2020.
            Pada beberapa hari pertama, saya cukup menikmati bekerja di rumah ini. Kebetulan pekerjaan saya ini memang dapat dikerjakan di mana saja, termasuk di rumah. Saya juga dapat bangun lebih siang dan tidak perlu mandi dulu untuk bekerja he he he...
            Setelah seminggu berlalu, rasanya ada yang kurang. Biasanya saya selalu bertemu dengan teman-teman di kantor. teman-teman kantor itu tidak hanya sekadar rekan kerja. Mereka juga teman seperjuangan yang sudah seperti saudara. Kami sering ngobrol sambil bercanda seru. Kali ini kami ngobrolnya versi digital.
            Masalah saat bekerja di rumah juga berbeda. Biasanya masalah pekerjaan bisa diselesaikan langsung bersama-sama, kali ini harus berusaha diselesaikan sendiri dulu. Kalau tidak bisa, baru meminta bantuan. Meminta bantuan pun bentuknya hanya informasi. Semua harus dilakukan sendiri.

     Menjelang akhir bulan, saya sudah bersyukur karena akhirnya kerja di rumah ini akan berakhir. Namun, tidak demikian kenyataannya. Kami semua harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Keputusan ini diambil karena keadaan belum dapat dikatakan aman. Virus Covid-19 ini masih belum dapat dikendalikan. Kerja di rumah dilanjutkan sampai tanggal 19 April 2020. {ST}

Senin, 30 Maret 2020

Bekerja dari Rumah


            Bekerja dari rumah (work from home) banyak dilakukan oleh para profesional di awal tahun 2020 ini. Sejak bulan Januari 2020 yang lalu, dunia dihebohkan oleh virus Covid 9. Virus yang bentuknya terlihat seperti ada mahkotanya ini dikenal juga dengann viris korona.
            Peusahaan tempat saya bekerja akhirnya juga menetapkan kebijakan ini. Kami diminta bekerja dari rumah sejak tanggal 17 Maret 2020. Walaupun bekerja dari rumah, target pekerjaannya tidak berubah.
            Saya bersyukur hampir semua pekerjaan saya dapat dikerjakan dari rumah, atau dari mana saja. Namun, ada beberapa teman saya yang memiliki keterbatasan alat kerja. Mereka sesekali harus ke kantor juga untuk melakukan pekerjaan. Kendala itu tidk hanya terjadi di kantor kami, di kantor lain juga.
            Tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Ada banyak pekerjaan yang memerlukan kegiatan fisik, harus dilakukan dengan kehadiran. Contohnya saja pengemudi ojek online. Mana bisa mereka bekerj di rumah. Demikian pula halnya dengan orang yang bekerja di fasilitas umum seperti bandara dan stasiun.
            Saya cukup menikmati bekerja di rumah. Saya tidak perlu bersiap-siap spserti biasanya. Tidak perlu pula membuang waktu untuk transportasi menuju tempat kerja. Masih belekan bangun tidur pun sudah bisa langsung kerja. Walaupun ada kalanya malas bekerja, hasilnya tetap sama. Mungkin karena bekerja di rumah lebih hening dan lebih mudah berkonsentrasi.

            Saat catatan ini saya buat, saya belum sampai seminggu bekerja di rumah. Ternyata saya cukup menikmati bekerja di rumah. Ada rasa kangennya juga sih pada teman-teman kantor yang selalu riang gembira itu. {ST}

Minggu, 29 Maret 2020

Rumah Sakit yang Kekurangan APD


            Sejak merebaknya Covid-19 banyak rumah sakit yang mewajibkan petugas medisnya menggunakan alat pelindung diri. Alat pelindung diri ini berupa pakaian yang sepenuhnya tertutup dari bahan yang tidak mudah tembus. Selain itu dilengkapi pula dengan masker dan kaca mata pelindung. Alat pelindung diri (APD) ini kebanyakan hanya dapat dipakai satu kali saja. Setelah itu harus dibuang.
            Makin banyaknya pasien Covid-19 yang dirawat tentu saja memerlukan makin banyak tenaga medis untuk merawatnya. Mereka harus menggunakan APD yang memadai supaya tidak tertular virus. Banyaknya permintaan membuat APD makin langka di pasaran. Banyak RS yang berterus terang meminta bantuan APD kepada masyarakat.
            Tenaga medis yang kekurangan APD itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir seluruh bagian dunia mengalaminya. Kejadian ini tidak hanya terjadi di negara miskin dan berkembang. Negara yang sudah tergolong maju juga ada yang mengalaminya. Masker N95, salah sau alat pelindung diri yang paling penting, bahkan susah ditemukan. Kemungkinan karena orang yang bukan tenaga medis pun turut membeli masker jenis ini.
            Saya memiliki beberapa teman yang bekerja di bidang kesehatan. Ada yang menjadi dokter, ada juga yang perawat. Saat merebaknya COVID-19 ini mereka juga terpaksa berurusan dengan virus ini. Saya sedih sekali saat melihat foto tenaga medis yang terpaksa mengenakan jas hujan sebagai alat pelindung diri. Jas hujan yang harganya Rp 10.000 itu berbahan tipis dan mudah sobek.
            Saya dan beberapa rekan saya merasa terpanggil untuk membantu dalam hal penyediaan APD ini. Saya bersyukur ada beberapa lembaga yang dapat mengorganisirnya. Kalau hanya dikerjakan sendiri, tentu dampaknya tidak terlalu besar. Berbeda kalau dilakukan bersama-sama. Dana yang dikumpulkan bersama itu dapat membantu 5 rumah sakit yang memerlukan APD.

            Pada saat catatan ini saya buat, pandemi COVID-19 belum berakhir. Masih banyak tenaga medis yang memerlukan APD. Semoga mereka semua dapat terlindungi dengan baik. Semoga para tenaga medis tetap sehat dan semangt dalam menjalankan tugasnya yang mulia. {ST}

Sabtu, 28 Maret 2020

Jalan Kaki 10.000 Langkah Selama 10 Hari


            Saya punya target baru, mau jalan kaki sebanyak 10.000 langkah setiap hari selama 10 hari. Target ini sebenarnya sudah lama ingin saya capai tetapi belum pernah terwujud karena berbagai kendala. Kendala utamanya adalah waktu. Untuk berjalan kaki sebanyak itu ternyata memerlukan waktu sekitar 2 jam. Itu kalau berjalan santai.
Nah, saya biasanya berjalan di pagi hari menuju halte. Perjalanan pagi ini hanya sekitar 1200 langkah yang ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit. Saya kesulitan menambah waktu karena terburu-buru harus tiba di tempat kerja. Dengan perjalanan menggunakan kaki selama 10 menit itu pun kadang-kadang saya terlambat tiba di kantor. Sepulang kantor, biasanya kalau cuaca cerah dan ada waktu, saya melanjutkan berjalan kaki.
Saya pernah berpikir mencapai 10.000 langkah itu cukup mudah. Toh, tinggal berjalan saja. Ternyata tidk mudah juga, lo. Untuk dapat mencapai target tersebut, saya harus punya niat dan waktu untuk berjalan kaki. Biasanya saya menuju tempat-tempat wisata seperti Ragunan dan Monas. Di tempat wisata seperti itu, saya bisa mendapatkan banyak langkah kaki karena perjalanan tidak terlalu terasa. Sambil melihat pemandangan sekaligus menggerakkan kaki. Berbeda dengan berjalan kaki bolak-balik di dalam rumah, rasanya lebih capek.

Saat kantor saya menetapkan untuk kerja di rumah, saya manfaatkan sebagian waktunya untuk berjalan kaki. Kalau memungkinkan saya berjalan keluar rumah. Namun, kalau tidak memungkinkan, saya menggunakan alat bantu olahraga yang ada di rumah. O ya, untuk menghitung langkahnya, saya menggunakan telepon genggam. Alat ini juga saya gunakan untuk mendengarkan podcast saat berjalan kaki. {ST}  

Kamis, 26 Maret 2020

Toa untuk Banjir


            Pemerintah daerah di tempat saya tinggal membuat kebijakan baru pada saat banjir, yaitu membagian alat pengeras suara ke berbagai wilayah. Alat pengeras suara ini diharapkan dapat digunakan apabila ada potensi banjir. Para petugas di wilayah tersebut akan berteriak-teriak mengingatkan warga, terutama di saat warga kebanyakan sedang tidur.
            Banyak yang menganggap kebijakan ini kurang tepat. Saya termasuk yang demikian juga. Pemerintah daerah mestinya dapat membuat kebijakan yang lebih memberdayakan rakyat untuk mencegah bencana. Misalnya dengan kebijakan untuk membuang sampah pad tempatnya, melarang kemasan plastik yang merusak lingkungan, dll.
            Membangunkan warga di saat akan terjadi banjir tidak terlalu berguna untuk kebanyakan orang. Kebanyakan orang yang pernah mengalaminya sudah otomatis waspada saat terjadi hujan lebat. Tidak perlu dibangunkan sudah bangun sendiri. Saya yang tidak mengalami banjir tetapi atap rumahnya bocor, sudah langsung waspada apabila terjadi hujan lebat.
            Dari cerita-cerita teman-teman saya, pengeras suara itu sudah mulai digunakan. Saya sendiri hampir tidak pernah mendengar ada yang berteriak-teriak mengingatkan menggunakan pengeras suara pada saat “musim banjir”. Saya baru mendengarnya saat “musim Covid-19” di bulan Maret 2020.

            Sebenarnya saya tidak menyadari kalau ada yang teriak-teriak menggunakan alat pengeras suara itu. Sekilas suaranya agak mirip dengan pedagang yang sesekali lewat di depan rumah. Pedagang roti dan tahu bulat menggunakan pengeras suara juga. Adik saya yang kemudian memberi tahu kalau itu pengumuman supaya tidak meninggalkan rumah. Semoga saja alat pengeras suara itu lebih banyak gunanya untuk kehidupan masyarakat. {ST}

Selasa, 24 Maret 2020

Foto Flora Saat Pendemi


            Bulan Maret 2020 dunia dihebohkan dengan adanya pandemi Covid-19. Virus yang konon kabarnya berasal dari Wuhan di Cina itu menyebar ke seluruh dunia dengan cepat. Dunia yang makin terhubung membuat virus ini menyebar lebih cepat pula. Tidak hanya virusnya yang beredar dengan cepat, kabar tentang virus ini juga beredar sangat cepat, bahkan lebih cepat.
            Adanya internet membuat kabar tentang virus ini dpat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Berita-berita yang dibuat oleh media massa dapat diakses dengan cepat. Demikian pula berita-berita yang tidak jelas kebenarannya alias hoaks.
            Saat catatan ini saya buat, linimasa media sosial saya dipenuhi dengan aneka informasi yang berkaitan dengan Covid-19 ini. Ada berita resmi dan ilmiah. Ada pula berita bohong atau yang berprasangka buruk. Yang punya hobi mencela orang juga bermunculan.

            Linimasa seperti itu membuat saya kurang nyaman. Akhirnya saya sengaja membagikan apa yang saya sukai dan membuat saya merasa nyaman. Saya membagikan flora di sekitar kita. Floranya ada bunga, buah, dan daun. Semuanya yang menurut saya keren. Ada beberapa orang yang ternyata menyukai postingan saya ini. Saya senang juga mendengarnya walaupun sebenarnya saya tidak terlalu peduli ada orang yang suka atau tidak. Yang pasti postingan saya keren menurut saya. {ST}

Rabu, 18 Maret 2020

18 Nilai Pendidikan Karakter


            Saya suka membuat cerita untuk anak-anak. Kegiatan yang dulunya hanya menjadi hobi ini sekarang telah menjadi profesi saya. Cerita membuat imajinasi berkembang dan dapat menyampaikan nilai-nilai baik tanpa berkesan menggurui.
            Selama beberapa tahun ini, saya menetapkan sendiri nilai-nilai baik menurut saya seperti jujur, disiplin, suka membaca, peduli lingkungan, dll. Belum lama ini saya baru tahu ternyata Kemendikbud telah menetapkan 18 nilai pendidikan karakter yang harus diajarkan kepada anak-anak sekolah.
18 nilai pendidikan karakter itu adalah:
1.  Religius
2.    Jujur
3.    Toleransi
4.    Disiplin
5.    Kerja keras
6.    Kreatif
7.    Mandiri
8.    Demokratis
9.    Rasa ingin tahu
10. Semangat kebangsaan
11. Cinta tanah air
12. Menghargai prestasi
13. Bersahabat/komunikatif
14. Cinta damai
15. Gemar membaca
16. Peduli lingkungan
17. Peduli sosial
18. Tanggung jawab

Saya meyakini cerita dapat memberi pengaruh pada pembacanya. Cerita-cerita dengan nilai baik di dalamnya diharapkan dapat memberi pengaruh baik pula. Saya bersyukur nilai-nilai ini sudah sering saya masukkan dalam cerita-cerita yang saya buat. Semoga cerita yang saya buat dapat memberi pengaruh baik pada anak-anak yang membacanya. {ST}

Kamis, 05 Maret 2020

Norak melihat Mobil Listrik


            Saat catatan ini saya buat, mobil listrik bukanlah sesuatu yang baru. Di Amerika, penjualan mobil listrik sangat tinggi. Demikian pula di beberapa negara Eropa. Namun, tidak demikian di Indonesia. Mobil-mobil di negara yang saya tinggali ini lebih banyak yang berbahan bakar minyak. Belum banyak orang yang memiliki mobil listrik.
            Ada beberapa orang terkenal yang memiliki mobil listrik. Beberapa menjadi berita di media online. Saya juga sempat membaca-baca berita seperti ini. Walaupun demikian saya sangat jarang melihat mobil listrik dalam keseharian saya. Orang-orang yang saya kenal hampir tidak ada yang menggunakan mobil listrik.
            Tempat pengisian daya listrik untuk mobil pun belum banyak. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mendapat tugas untuk menulis topik ini. Saat itu, tempat pengisian daya listrik untuk mobil hanya ada di dua tempat. Letaknya semua di Jabodetabek. Belum lama ini saya ada melihat tempat pengisian listrik untuk mobil di PLN. Perusahaan yang tugasnya menyediakan listrik itu memang tempat yang tepat untuk hal ini.
            Saat melihat mobil listrik berkeliaran, dapat dikatakan saya agak norak pingin tahu banget. Lebih norak lagi pas lihat mobil listrik yang digunakan sebagai taksi. Saya sempat bertanya pada pengemudi tentang mobil listrik yang mengantar adik saya. Selain itu saya juga memotretnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Kenorakan saya makin menjadi saat ada mobil listrik yang ada di lobi kantor saya. Mobil listrik berukuran kecil itu sedang mengisi daya dengan menggunakan colokan yang ada di dinding. Saya dan teman-teman beramai-ramai mendatangi mobil ini sambil memotretnya. {ST}

Rabu, 04 Maret 2020

Nenek dan Cucunya yang Kurang Diajar


            Suatu pagi saya bertemu dengan seorang nenek dan cucu perempuannya di dalam bus. Saya dapat melihat mereka dengan jelas karena kami duduk berseberangan. Nenek itu terlihat sangat sayang pada cucunya yang sepertinya berusia sekitar 8 atau 9 tahun itu.
            Seperti biasa saya mendadak menjadi ramah apabila bertemu anak kecil. Saya tersenyum pada anak itu tetapi anak itu tidak menanggapi. Dia diam saja kemudian membuang muka. Tak lama kemudian ia meminta telepon kepada neneknya. Neneknya langsung memberikan apa yang diminta.
            Anak itu sepertinya menggunakan telepon itu untuk menonton film. Dapat diduga dari matanya yang terpaku ke layar kecil di tangannya yang kecil itu. Pada saat sedang menonton, anak itu disuapi makanan kecil oleh neneknya. Setelah beberapa saat, nenek itu juga memberikan minuman.
            Saya agak prihatin melihat pemandangan itu. Di dalam bus seharusnya tidak boleh makan dan minum. Si nenek, orang dewasa yang mendampingi anak itu malah melakukan sesuatu yang dilarang. Tak heran kalau anak itu tidak tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Walaupun prihatin, saya galau untuk menegurnya tau tidak. Rasanya urusan mendidik anak ini bukan urusan saya. Di sisi lain, sebagai pengguna bus yang sama, menjaga kenyamanan sesama penumpang adalah urusan saya.
            Setelah meyakinkan diri untuk menegur, saya mendekat ke arah nenek dan cucu itu. Sebelum saya sempat menegur, ada seorang ibu lain yang sudah lebih dulu menegur.
            “Di dalam bus gak boleh makan minum,” kata ibu itu.
            Nenek yang ditegur segera memasukkan perlengkapan makan dan minum ke dalam tas. Namun, ia tidak menyampaikan kepada cucunya supaya tidak boleh makan dan minum di dalam bus.

            Ibu yang menegur itu kemudian duduk di samping saya. Saya mengangguk padanya sebagai tanda sambutan dan tanda persetujuan atas tindakannya. Ibu itu juga mengomel tentang anak yang tidak diajari dengan benar akan menjadi anak yang kurang ajar. Saya pun mengangguk setuju akan hal ini. {ST}

Rabu, 05 Februari 2020

Pinang Dibelah Dua


            Ungkapan “bagai pinang dibelah dua” sering digunakan untuk menggambarkan dua hal yang mirip. Orang yang kembar identik paling sering disebut bagaikan pinang dibelah dua.
            Saya memahami arti ungkapan ini sejak masih duduk di bangku SD. Ungkapan ini pernah dibahas di kelas. Ternyata yang mempertanyakan mengapa harus pinang yang digunakan dalam ungkapan itu tidak hanya saya. Saya tidak ingat apa alasannya, tetapi saya ingat dengan jelas artinya.
            Saya tidak pernah lagi memikirkan ungkapan itu sampai saya melihat pinang belum lama ini. Saya mencoba membelah pinang menjadi dua. Ternyata membelah pinang bukan pekerjaan yang mudah. Pinang yang sudah tua keras sekali. Tangan saya sampai sakit saat mencobanya. Itu pun tidak berhasil. Saya akhirnya berhasil membelah dua pinang yang masih muda.

            Setelah dilihat-lihat, kedua sisi pinang yang dibelah dua itu memang mirip. Mungkin ungkapan itu dibuat saat banyak orang memakan pinang sebagai bagian dari makan sirih. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini