Ana

Jumat, 08 Maret 2019

Bahasa Daerah yang Hampir Punah




            Saya pernah bertemu dengan beberapa ibu dan bapak yang usianya kira-kira sebaya orang tua saya. Mereka ini berbincang sambil mengomeli tentang anak zaman sekarang yang tidak lagi mau belajar bahasa daerah. Anak zaman sekarang itu berarti juga anak-anak mereka yang sebagian besar saya kenal juga.
            Sama seperti saya, anak-anak mereka itu juga tidak fasih berbahasa daerah. Mereka bahkan lebih parah dari saya. Saya masih bisa berbahasa daerah, terutama bahasa Dayak Ngaju dan Banjar. Hanya saja saya sudah kehilangan aksen atau logatnya.
            Kembali kepada orang-orang tua yang mengomel dan menyalahkan anak-anaknya itu. Saya rasa omelan mereka itu sebaiknya ditujukan kepada diri mereka sendiri. Anak-anak itu tidak bisa berbahasa daerah karena tidak ada yang mengajarinya. Kalau diajari, tentunya mereka akan bisa, atau minimal paham artinya walaupun tidak bisa menyuarakannya. Hmmm… Sepertinya pendapat ini juga mewakili pendapat saya, ya….
            Ada satu lagi kendala yang sering saya dengar dari teman-teman saya. Mereka sepertinya memang sengaja tidak diajari bahasa itu karena bahasa itu digunakan oleh kedua orang tua mereka untuk membicarakan hal-hal yang rahasia. Pembicaraan ini dilakukan dengan berbisik-bisik. Anak-anak yang kepo ingin tahu langsung diminta pergi. Nah, kalau begini, bagaimana carannya mau belajar bahasa daerah?
            Saat ini perlu niat dan usaha yang lebih untuk belajar bahasa daerah. Sarana untuk belajar bahasa daerah makin berkurang. Orang yang fasih menggunakannya sudah banyak yang meninggal. Ada juga yang hanya bisa berbahasa daerah tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia. Yang seperti ini juga menjadi kendala karena mereka tidak bisa mengajarkannya.
            Sebaliknya, sarana untuk belajar bahasa asing dari luar negeri bertambah banyak. Ada banyak sekali tempat kursus bahasa asing. Bahasa asing bahkan dapat dipelajari secara daring menggunakan telepon genggam Ada juga kelas bahasa yang dilangsungkan secara daring. Pokoknya makin mudah, deh.
            Melihat kenyataan ini, saya makin kepikiran bagaimana caranya melestarikan bahasa daerah. Cara termudah ya dengan belajar bahasa itu. Minimal ada 1 orang, yaitu saya, yang belajar bahasa tersebut. Setelah menguasainya barulah mengajak-ajak orang lain untuk mengikuti jejak saya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini