Ana

Rabu, 03 Mei 2017

Rangkaian Bunga Papan di Balai Kota Jakarta




            Saya berada di Kalimantan pada akhir bulan April 2017. Tepatnya saya berada di Sukamara, ibu kota Kabupaten Sukamara. Saya berada di sana selama 4 hari. Selama 4 hari itu saya tidak terlalu memantau perkembangan berita terkini. Saya hanya terhubung dengan group Whatsapp dan juga dengan beberapa pihak yang menjadi bagain tanggung jawab saya.
            Salah satu berita paling heboh di akhir bulan April 2017 itu adalah banyaknya karangan bunga yang dikirimkan ke Balai Kota Jakarta. Karangan bunga berbentuk bunga papan itu berisi ucapan dukungan untuk Pak Ahok dan Pak Jarot. Pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ini belum lama ini tidak berhasil memenangkan pilkada.
            Bunga-bunga papan itu terus berdatangan sampai jumlahnya ribuan. Halaman balai kota tak lagi cukup menampungnya sehingga bunga-bunga itu diletakkan di sekitar Tugu Monas. Keberadaannya menjadikan Jakarta semakin meriah. Banyak yang menjadikannya tujuan wisata dadakan. Beberapa kenalan saya bahkan niat banget untuk datang melihat bunga-bunga itu.
            Saya yang berada jauh di seberang lautan, tidak terlalu berharap banyak untuk melihat ribuan bunga papan yang konon kabarnya jumlahnya memecahkan rekor itu. Harapan saya itu kian tipis saat beberapa orang “buruh” membakar beberapa karangan bunga itu. Mereka melakukannya saat perayaan Hari Buruh, tanggal 1 Mei 2017. Perayaan yang biasa disebut Mayday itu agak ricuh karena ada pembakaran karangan bunga yang entah apa maksudnya. Kericuhan ini reda karena hujan yang lebat.
            Tanggal 1 Mei itu adalah hari libur nasional. Hari libur yang jatuh di hari Senin itu disambut beberapa orang sebagai bagian dari long weekend. Banyak orang yang bepergian ke luar kota untuk menikmatinya. Saya yang baru saja kembali dari luar kota memilih menikmati ibu kota di hari itu. Saya menjelajah Jakarta menggunakan bus transjakarta.
            Banyak jalan yang ditutup akibat demonstrasi atau perayaan Mayday di sekitar Monas. Rute transjakarta pun dialihkan. Saya yang semula mau turun di pusat perbelanjaan Sarinah terpaksa mencari alternatif lain. Saya akhirnya hanya menikmati perjalanan sambil sesekali membaca buku yang saya bawa.
            Malam harinya, rute yang melewati Monas sudah dibuka. Saat lewat di situ, saya melihat ada banyak nyala lilin di bundaran air mancur yang dekat “Tugu Kuda”. Daerah ini adalah daerah yang biasanya digunakan untuk berbagai aksi. Sepertinya lilin-lilin yang dinyalakan itu adalah bagian dari aksi.
            Saya menajamkan pandangan mata saya sambil mencoba memotret peristiwa yang terjadi. Selain saya, ada beberapa orang lain yang juga penasaran. Di sepanjang jalan itu, sekilas saya melihat beberapa karangan bunga yang berantakan. Ada yang diletakkan sembarangan, ada juga yang diletakkan bertumpukan.
            Sempat terpikir untuk turun di halte Monas. Saya sudah bergerak menuju pintu keluar. Namun niat itu saya urungkan mengingat saat itu sudah malam. Selain karena sudah lelah, saya juga tak yakin kalau di daerah situ cukup aman mengingat baru saja ada demonstrasi yang ricuh.
            Saya turun di Halte Harmoni untuk melanjutkan perjalanan ke arah rumah saya. Rute bus yang saya naiki itu melewati Monas. Saat melihat papan-papan bunga yang berantakan itu kembali muncul niat saya untuk turun dan melihatnya. Saya juga ingin memotretnya. Foto-foto itu akan menjadi bagian dari sejarah karena sampai sekarang belum pernah ada pejabat publik yang mendapatkan kiriman bunga sebanyak itu.
            Akhirnya saya pun turun di Halte Monas. Saya langsung mengeluarkan kamera merah kesayangan saya. Kamera itu saat ini sudah tidak dapat berfungsi dengan baik. Layarnya sudah tidak dapat digunakan lagi untuk melihat. Saya hanya mengira-ngira saja saat memotret. Saya memotret papan-papan bunga yang berada di Jalan Merdeka Timur itu.
            Sambil memotret, saya berjalan ke arah Bundaran Patung Kuda. Barulah saya melihat dengan jelas orang-orang yang membawa lilin itu. Mereka berpakaian kotak-kotak. Sebagian dari mereka sepertinya memutuskan untuk menyudahi aksinya. Maklum saja, saat itu hari sudah malam. Tanda waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.
            Dari situ saya melanjutkan perjalanan ke Balai Kota Jakarta. Tak terduga, tempat ini ramai sekali sampai-sampai harus antre untuk masuk. Setiap pengunjung harus mengisi buku tamu dan masuk melalui gerbang pendeteksi logam.
            Halaman balai kota dipenuhi banyak orang. Dari pengamatan saya, mereka kebanyakan rakyat pendukung Pak Ahok dan Pak Jarot. Mereka sangat menyayangkan perusakan dan pembakaran karangan bunga pada aksi siang harinya. Hampir semua orang yang datang itu mengabadikan bunga-bunga itu. Saya juga memotret berbagai karengan bunga sambil tersenyum-seyum sendiri saat melihat tulisan yang tertera di situ.
Saya beberapa kali dimintai bantuan memotret orang-orang. Awalnya saya agak kesal karena disuruh-suruh. Namun akhirnya saya mengerjakannya dengan sukacita karena melihat wajah mereka. Wajah-wajah yang tulus memberikan dukungan dan tersenyum senang. Tak terasa waktu sudah beranjak makin malam. Baterai kamera saya sudah makin lemah. Walaupun saya tidak dapat melihat indikatornya di layar, saya dapat merasakannya.
Saya baru melangkah keluar dari halaman Balai Kota sekitar jam 11 malam. Saat itu, masih banyak orang yang datang ke Balai Kota. Saya pulang naik taksi. Taksi yang mengantarkan saya itu baru saja menurunkan penumpang ke Balai Kota Jakarta. Menurut supir taksi yang mobilnya berwarna biru itu, dia sudah 2 kali mengantarkan orang ke balai kota pada hari itu. Menjelang tengah malam, saya sampai di rumah. Saya senang sekali karena sempat mengabadikan ribuan karangan bunga itu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini