Ana

Minggu, 28 Mei 2017

Hasil Bumi Saat Pentakosta


            Peringatan Pentakosta tahun 2017 ini jatuh pada tanggal 4 Juni 2017. Hari itu diperingati sebagai hari turunnya Roh Kudus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul. Hari Pentakosta juga menjadi awal tahun gerejawi.
            Dari tahun ke tahun, selalu ada hasil bumi pada saat hari Pentakosta. Hasil bumi berupa padi, palawija, sayuran dan buah-buahan itu menjadi bagian dari dekorasi dan juga ibadah. Hasil bumi itu menjadi persembahan syukur yang dibawa pada bagian persembahan dalam ibadah.
            Dari tahun ke tahun pula, selalu ada “masalah kecil” akan diapakan buah dan sayur itu. Ada kalanya dilelang, ada juga yang dibuang. Beberapa kali bahkan pernah diberikan terbuka kepada siapa saja yang menginginkannya. Pernah terjadi perebutan buah-buahan pada saat itu.
            Adanya buah-buahan itu sempat pula memancing pendapat kritis sebagian orang, baik tentang makna teologinya, maupun tentang relevansinya. Saya tidak terlalu memusingkan maknanya. Saya lebih memikirkan biayanya dan efek setelahnya.
            Buah-buahan dan sayuran yang dipajang itu hampir semuanya dibeli. Tidak ada yang hasil tanaman jemaat dan kemudian dibawa menjadi persembahan. Harganya tidak murah, lo. Beberapa tahun yang lalu saya pernah bertugas membeli buah-buahan itu.
            Efek setelahnya juga pernah membuat saya gerah. Apalagi itu jadinya saling menyalahkan. Biasanya tentang bagaimana penanganan hasil bumi yang sebelumnya menjadi dekorasi itu. Syukurnya hal itu tidak terjadi tahun ini. Hasil bumi itu langsung ludes tak lama setelah kebaktian terakhir berakhir. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini