Ana

Jumat, 30 September 2016

Tap Kartu Saat Keluar Halte




            Mulai bulan Agustus 2016, ada peraturan baru di halte busway. Setiap orang yang keluar dari halte tertentu, harus tap kartunya. Peraturan ini awalnya hanya berlaku di daerah koridor 1 Transjakarta, sepanjang Blok M sampai Kota.
            Saat melihat pengumuman itu, saya memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Tap yang dilakukan oleh masing-masing orang dapat merekam data berapa banyak orang yang keluar dari halte itu dan di wilayah itu. Tap itu kemungkinan pula turut merekam dari halte mana orang itu berangkat. Dengan demikian dapat diketahui halte-halte mana saja yang melayani banyak penumpang.
            Tap di saat keluar itu sebenarnya adalah hal yang sepele, dapat dilakukan dengan mudah. Hanya saja memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan orang. Pada saat peraturan ini baru diberlakukan, banyak orang yang ngedumel, bahkan memaksa untuk keluar tanpa lebih dulu tap.
            Makin lama, makin banyak halte yang memberlakukan peraturan itu. Termasuk ke halte-halte yang sering saya datangi. Halte yang dekat rumah saya pun saat ini memberlakukan tap kartu saat keluar. {ST}

Kamis, 29 September 2016

Gembok Besar di Halte Busway




            Gembok yang ukurannya besar itu menarik perhatian saya. Selain ukurannya yang luar biasa, gembok itu tidak untuk mengunci pintu atau jendela. Gembok itu digunakan untuk menautkan tiang dengan materi yang menjadi dinding halte.
            Melihat gembok yang biasanya digunakan sebagai pengaman itu membuat saya bertanya-tanya sendiri. Apakah sebenarnya guna gembok ini? Sebagai perekat materi ataukah sebagai pengaman. Kalau sebagai pengaman, apakah artinya bahan bangunan ini kemungkinan ada yang berminat mencuri? {ST}

Rabu, 28 September 2016

Kipas Angin di Halte Transjakarta




            Halte-halte bus Transjakarta selalu dilengkapi dengan kipas angin. Kipas angin yang berdaya cukup besar ini sangat berguna untuk sirkulasi udara di halte yang umumnya tidak terlalu luas. Kipas ini juga berguna untuk mengurangi hawa panas.
            Kipas angin itu bisa dipindahkan arahnya, tergantung kebutuhannya. Biasanya kipas angin ini diarahkan ke antrean padat orang-orang yang sedang menunggu datangnya bus. Angin segar dari kipas itu memang sangat dibutuhkan saat berdesakan seperti itu.
            Suatu kali, saya melihat kipas angin itu tidak mengarah ke antrean. Kipas angin itu mengarah ke sebuah sudut kosong. Dalam hati saya pikir tentunya ada orang yang tidak tahan kena kipas angin kemudian minta kipas anginnya diarahkan ke tempat lain.
            Pertanyaan saya itu terjawab tidak lama kemudian. Seorang wanita petugas halte berjalan ke sudut kosong itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dari bahasa tubuhnya sudah jelas kalau dia kegerahan. Sudah dapat ditebak kalau dialah yang memindahkan arah kipas angin untuk mendinginkan tubuhnya sendiri.
            Sekilas tindakan itu dapat dikatakan egois karena hanya mementingkan kesejukan tubuhnya sendiri. Namun kalau dilihat tempat kerjanya sebagai penjaga loket yang berada di dalam sebuah bilik kecil, tentunya dapat dimaklumi kalau dia juga perlu udara segar. {ST}

Selasa, 27 September 2016

Kebudayaan Korea yang Mendunia




            Saat ini kebudayaan Korea telah dikenal di seluruh dunia. Saat mendengar K-Pop, K-Drama, K-Travel, K-Food, K-dll, orang sudah langsung tahu bahwa yang dimaksud adalah Korea. K telah menjadi inisial bagi Korea.
            Selain menjadi tujuan wisata, Korea juga menjadi tujuan untuk sekolah. Ada cukup bnayak orang yang berminat untuk melanjutkan sekolahnya di Korea. Saya mengenal beberapa orang di antaranya. Mereka harus belajar bahasa Korea dulu sebelum dapat menempuh pendidikan di sana. Selain itu, mereka juga harus mengikuti tes bahasa Inggris, bahasa internasional.
            Korea Selatan sangat berperan pada mendunianya budaya Korea ini. Korea Utara yang saat ini dikuasai oleh orang yang tak berseni, hampir tidak berperan sama sekali. Berbeda dengan Korea Selatan yang beraneka warna, kesan terhadap Korea Utara adalah warna suram yang seragam.
            Kebudayaan Korea yang terkenal itu tidak hanya kebudayaan modernnya, kebudayaan tradisionalnya pun mendunia. Pakaian tradisional dan cara mereka mengolah makanan sudah sama terkenalnya seperti budaya Jepang. Kebudayaan mereka menyebar melalui banyak cara. Saat ini, kebudayaan Korea memiliki penggemarnya sendiri. {ST}

Senin, 26 September 2016

Rebutan Mencium Piala




            Serombongan anak-anak menyerbu sebuah piala berwarna keperakan. Mereka berebutan untuk menyentuhnya, kemudian menciumnya. Setelah semua anak mendapat bagian, beberapa anak berfoto dengan piala itu. Saya beberapa kali diminta untuk memotret anak-anak itu. Aksi mereka dihentikan oleh orang dewasa lainnnya yang menganggap mereka tidak sopan karena meminta saya untuk memotret.
            Saya sebenarnya tidak keberatan untuk memotret mereka bergantian. Namun, saat itu saya diam saja karena tidak ingin menjatuhkan wibawa orang dewasa lainnya. Saya mengambil sedikit jarak kemudian memotret anak-anak yang masih berkerumun di sekitar piala.
            Piala itu adalah piala yang akan mereka perebutkan dalam kompetisi sepak bola yang akan diadakan selama 3 hari ke depan. Tentunya semua anak ingin mendapatkan piala itu sebagai tanda kemenangan mereka. Mereka menyentuh dan menciumnya dengan harapan akan mengulanginya lagi pada saat kemenangan. Apabila tidak menang, yeah anggap saja sebagai pengalaman.
            Anak-anak itu sepertinya mencium piala karena mereka melihat para pesepak bola profesional melakukannya pada saat kemenangannya. Apabila mencium piala adalah tanda kemenangan, maka sebenarnya mereka belum berhak untuk melakukannya. Wong kompetisinya aja belum dimulai, kok. Tak heran kalau ada orang-orang dewasa lain yang “mengusir” mereka dari sekitar piala.
Setelah mereka digiring pergi, beberapa masih ada yang menoleh dengan pandangan penuh harap ke arah piala. Sepertinya mereka sangat merindukan untuk dapat memenangkan piala itu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini