Ana

Jumat, 26 Agustus 2016

Harga Rokok yang Semakin Mahal




            Akhir-akhir ini ada wacana tentang kenaikan harga rokok yang konon kabarnya akan menjadi di atas Rp 50.000. Harga itu termasuk mahal untuk kebanyakan orang Indonesia. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi perokok di negara ini.
            Dari data yang saya lihat di TV, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah perokok aktif tertinggi di dunia. Saya tidak ingat angka tepatnya berapa, namun itu lebih dari 50%. Angka ini tidak hanya sekedar angka, tetapi memang ada buktinya. Sebagian besar orang di sekitar saya juga perokok, atau pernah merokok.
            Penggunaan rokok ini membuat nilai ekonominya sangat besar. Transaksi rokok setiap harinya mencapai ratusan triliun. Pemasukan negara lewat cukai rokok juga sangat besar. Demikian pula banyaknya orang yang bergantung pada industri rokok. Orang yang tergantung pada rokok ini tidak hanya para perokoknya, orang-orang yang mencari nafkah di industri ini juga harus dihitung. Ada jutaan tenaga kerja di balik industri ini.
            Sebagai orang yang mendukung Indonesia lebih sehat, saya mendukung untuk membatasi peredaran rokok. Salah satu caranya dengan menaikkan harganya. Dengan demikian orang yang mau membelinya harus berpikir berkali-kali, membandingkannya dengan prioritas lain. Bila harga rokok menjadi mahal (atau sangat mahal), orang akan mengurangi membeli rokok. Tujuannya mulia, namun pelaksanaannya belum tentu semudah itu.
            Bagi orang yang sudah kecanduan rokok, mengurangi apalagi menghentikan kebiasaan merokok bukanlah hal yang mudah. Namanya juga kecanduan, artinya ketergantungan. Kalau tidak melakukan, rasanya ada yang kurang. Kabarnya mulut akan terasa asam dan tidak nyaman. Ada juga yang menjadi uring-uringan dan kemudian menyebalkan bagi orang lain.
            Saya tumbuh di lingkungan yang cukup permisif pada rokok. Beberapa keluarga saya adalah perokok. Saya pun pernah mencoba merokok. Saya tidak menjadi perokok karena saya tidak menyukai rasa dan juga asapnya. Saya juga tidak terlalu peduli pada gengsi. Ada yang bilang orang yang merokok itu lebih bergengsi, lebih gaya. Saya makin menjauhi rokok setelah mengetahui akibatnya bagi kesehatan dan keuangan. Saya tidak mau membuang uang saya untuk sesuatu yang tidak ada gunanya. Agak pelit gitu maksudnya.
            Kampanye foto seram di rokok dan peringatan “rokok membunuhmu” ternyata tidak terlalu ampuh untuk mengurangi perokok di Indonesia. Kampanye yang dilakukan beberapa tahun belakangan ini tidak membuat orang takut untuk merokok. Para perokok tetap merokok. Bagi yang tidak suka gambarnya, ada yang memindahkan rokoknya ke tempat lain. Namun kebiasaan itu tidak hilang apalagi berkurang.
            Menaikkan harga rokok dapat dipahami sebagai salah satu cara “memaksa” masyarakat untuk tidak merokok. Penjualan rokok diduga akan berkurang banyak, yang kemungkinan juga akan mengurangi pembelian tembakau ke petani. Petani tembakau harus mencari cara lain untuk mencari nafkah. Tembakau tidak dapat diandalkan lagi sebagai sumber penghasilan. Hal ini juga seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah, pihak yang membuat kebijakan, seharusnya tidak boleh lepas tangan atas akibatnya. Semoga saja ada orang-orang di pemerintahan yang mau memikirkan solusinya. {ST}

Baca juga:

Popular Posts

Isi blog ini