Ana

Rabu, 10 Agustus 2016

Buket Bunga Manten yang Berantakan






            Buket bunga penganten memiliki makna lebih dari sekedar hiasan. Buket bunga yang dibawa pengantin wanita itu biasanya dilemparkan kepada orang-orang yang datang. Katanya, nih, orang yang mendapatkan bunga ini akan segera menyusul menikah. Hanya orang-orang yang lajang yang boleh ikut dalam ajang perebutan buket bunga ini.
Sejak masih SMA saya sering ikut ajang perebutan bunga ini. Bagi saya perebutan bunga itu hanya sekedar rame-rame. Pada dasarnya saya bukanlah orang yang suka rame-rame. Kalau lingkungannya tidak terlalu saya kenal, saya tidak akan ikut-ikutan kecuali dipaksa. Kadang-kadang saya ikut karena keinginan sendiri, namun lebih sering karena dipaksa oleh keluarga. Pemaksaan kehendak ini bertambah gencar saat saya datang ke acara resepsi bersama pasangan. Akhir-akhir ini saya justru dipaksa karena tak kunjung menikah. Saya menurut saja karena ini bukanlah hal yang prinsip.
            Saya sudah berkali-kali mendapatkan buket bunga dalam perebutan itu. Pencapaian itu terjadi justru karena saya tidak terlalu agresif mengejar bunga. Mata saya dapat mengikuti arah pergerakan bunga sehingga saya dapat menduga arah jatuhnya. Saya juga dapat melangkahkan kaki tanpa harus bertabrakan dengan orang lain dalam kerumunan. Walaupun demikian, saya tetap senang ketika memenangkan perebutan itu. Biasanya buket bunga ini sudah dalam keadaan compang-camping karena dilempar dan diperebutkan.
            Saya belum menikah sampai saat saya menuliskan catatan ini. Dengan demikian sudah ada bukti kalau pemenang rebutan buket bunga tidak selalu menjadi pengantin yang berikutnya. Saya pun menjadi tidak terlalu antusias mengikuti ajang perebutan buket bunga. Biasanya saya lebih memilih mencicipi aneka makanan yang menjadi sajian di resepsi.
            Buket bunga terakhir yang saya dapatkan saat resepsi justru tidak dengan perebutan. Buket bunga itu diberikan oleh seorang anak lelaki kecil berumur 2 tahun. Anak ini keponakan saya. Sebelum memberikan buket bunga itu, dia memberikan sekuntum mawar yang diambilnya dari dekorasi gedung. Saat dia menemukan buket bunga itu tergeletak, dia segera mengambilnya dan memberikannya ke saya. Sepertinya anak ini adalah anak yang romantis, memberikan bunga pada perempuan yang disukainya.
            Buket bunga yang diberikan oleh keponakan saya itu sudah tidak lagi indah. Bentuknya compang-camping. Tidak menarik dilihat dari segala sisinya. Saya juga tidak tertarik melihatnya. Karena itu saya meletakkan lagi bunga yang sudah diberikan itu. Tak disangka, bocah lelaki yang lucu itu mengambilnya lagi dan memberikannya ke saya. Tidak hanya sekali, lo. Dia melakukannya sebanyak 3 kali. Akhirnya saya pun luluh. Saya tidak lagi meletakkan bunga itu. Saya memegangnya di tangan saya dan akhirnya saya bawa pulang. Keponakan kecil saya itu memberikan senyuman termanisnya ketika saya tetap membawa buket bunga itu saat kami berpisah.
Pemberian itu cukup membuat saya terharu. Keponakan kecil saya ini cukup gigih walaupun pemberiannya awalnya tidak dipedulikan. Dia tetap mengulanginya kembali. Buket bunga itu kemudian saya bawa pulang sebagai tanda kegigihan seorang anak kecil untuk mencapai tekadnya. Bentuknya, sih, amburadul. Tuh, lihat aja fotonya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini