Ana

Jumat, 19 Agustus 2016

Breaking News Persidangan


            Saat ini Indonesia sedang dihebohkan oleh kasus kopi bersianida yang merenggut nyawa WM. J, teman korban, menjadi terdakwanya. Peristiwa ini menjadi berita di banyak media. Pengusutan dan persidangannya menarik perhatian orang banyak.
            Peristiwa ini pernah pula menarik sedikit perhatian saya. Itu karena semua orang membicarakan tentang hal ini. Saya pun menjadi tergelitik untuk mengetahuinya. Saya mencari informasinya di internet. Cukup mudah mendapatkannya. Beritanya ada di mana-mana. Saya tidak akan menceritakannya di sini.
            Berita ini kerap pula menjadi breaking news, berita yang dianggap sangat penting sampai bisa menggeser jam siaran proram lain. Saya beberapa kali menyaksikan breaking news yang beritanya adalah persidangan kasus ini. Bahkan ada pula siaran langsung dari ruang sidang.
            Saya mengetahuinya karena TV yang menayangkan breaking news itu letaknya tidak jauh dari tempat duduk saya di kantor. Tanpa saya kehendaki saya mendengar tayangan itu walaupun tidak menyimak. Saat ini saya sangat tidak suka dengan tayangan itu. Menurut saya berjam-jam menayangkan acara persidangan tidak terlalu berguna, terutama bagi saya. Rasa tidak suka itu bahkan sudah berubah menjadi muak.
            Teman-teman saya yang lain ternyata sangat menantikan update dari kasus ini. Sayangnya mereka tidak bisa menyimak langsung tayangan di TV. Sayalah yang kemudian ditanyakan tentang update-nya. Dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak tahu karena saya tidak suka. Saya juga tidak terlalu peduli dengan hasilnya. Saya hanya peduli keadilan harus ditegakkan dalam kasus ini, dan kepedulian itu tidak harus ditunjukkan dengan menonton persidangan berjam-jam.
            Selesai tayangan di persidangan, reporter menanyai beberapa orang pengunjung sidang. Ternyata ada beberapa pengunjung sidang yang datang khusus karena ingin tahu. Mereka tidak punya hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang terlibat di persidangan itu. Rasa ingin tahu itu membuat seorang ibu turut menghadiri persidangan itu lebih dari sekali. Saya sempat geleng-geleng kepala mendengarnya. Sepertinya ibu itu punya banyak waktu luang sampai-sampai menghabiskan banyak waktu untuk hadir ke persidangan. Sedangkan saya yang menonton dari TV saja bosannya ampun-ampunan.
            Ingin rasanya saya mematikan TV itu atau mengganti salurannya. Saya urung melakukan itu karena saya sadar itu adalah perbuatan yang egois. Saya akhirnya memilih mendengarkan musik dan fokus pada tulisan yang sedang saya kerjakan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini