Ana

Minggu, 07 Agustus 2016

Ada yang Muntah di Bus




            Suatu pagi, saya berkendara menggunakan bus Transjakarta. Bus yang saya tumpangi itu penuh. Lorongnya dipenuhi orang yang berdiri. Saya pun berdiri. Perjalanan yang sebenarnya biasa saja sampai akhirnya terdengar teriakan banyak orang di belakang saya.

            Saya segera menoleh ketika mendengar teriakan itu. Ternyata ada seorang yang muntah. Muntahannya mengenai beberapa orang yang duduk di dekatnya. Orang-orang itulah yang berteriak-teriak dan mengomel sampai beberapa saat setelahnya.

            Melihat kejadian itu, saya segera menghentikan kegiatan membaca. Saya memasukkan buku saya dan berusaha ambil bagian untuk membuat keadaan lebih baik. Sempat terpikir untuk membantu orang yang muntah itu. Saya lihat wajahnya sangat pucat. Belum sempat saya menawarkan bantuan, orang yang muntah itu sudah berjalan menuju pintu keluar. Ia segera keluar di halte terdekat.

            “Kasihan, ya,” kata saya pada orang yang berdiri di samping saya.

            “Huh, muntah gak mikirin orang lain,” sahut orang yang saya ajak bicara itu.

            Saya sempat kaget juga mendengar komentarnya, atau lebih tepat dikatakan omelan. Omelan lainnya juga terdengar dari beberapa orang yang terkena muntahan. Kalau yang ini saya bisa memahaminya. Mereka adalah orang yang terkena dampak langsung dari semburan muntah itu.
                Saya dapat merasakan penderitaan yang dirasakan orang yang muntah itu. Dalam sejarah hidup saya, sudah berkali-kali saya muntah di tempat yang tidak saya inginkan. Peristiwa itu terjadi karena saya sudah tidak bisa lagi menahan isi perut yang berontak ingin keluar.

            Dalam suasana yang agak panik itu, ada seorang yang menyodorkan tisu. Uluran tisu itu langsung disambut oleh tangan-tangan yang memerlukan, yaitu mereka yang terkena semburan. Saya pun akhirnya mengeluarkan stok tisu saya ketika melihat tisu yang diserbu itu sudah makin menipis.

            Selama proses bersih-bersih itu, omelan makin berkurang. Selain saya, ada juga orang-orang lain yang mengasihani perempuan yang muntah itu. Kebanyakan menyesalkan mengapa dia tidak mengaku terus terang saja supaya mendapatkan bantuan. Ada pula yang masih bertahan mengomeli perempuan malang yang sudah berhenti di halte itu. Ada pula yang bersyukur karena muntahan yang tersembur kebanyakan berbentuk air, jadi tidak terlalu menjijikkan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini