Ana

Sabtu, 02 Juli 2016

Minta THR Pada Orang Tak Dikenal




            Menjelang Hari Raya Idul Fitri, jutaan orang menerima tunjangan hari raya (THR). Tunjangan ini sudah menjadi bagian dari hukum yang berlaku di negara ini. THR disambut gembira oleh semua pekerja di Indonesia. Saya pun termasuk orang yang menyambut gembira datangnya THR ke rekening.
            Orang yang mendapatkan THR tidak hanya pekerja formal. Pekerja nonformal pun mendapatkannya. Para asisten rumah tangga mendapatkan THR di waktu yang sama, kira-kira 2 minggu sebelum lebaran.
            Dalam beberapa hari ini, saya bertemu beberapa orang yang sebelumnya tidak saya kenal tahu-tahu datang dan minta THR. Saya sampai bingung sendiri menghadapinya. Sikap mereka hampir seperti pengemis, dan itu membuat saya prihatin.
            Orang-orang yang meminta THR itu antara lain juru parkir liar, kuli angkut, pekerja di sebuah toko, dan penjaga keamanan. Pada waktu-waktu sebelumnya, kami sangat jarang bertemu. Mengapa saya katakan sangat jarang? Karena saya tidak ingat pernah bertemu mereka walaupun mungkin saja berpapasan di jalan. Kalaupun bertemu, kami tidak bertegur sapa.
            Saat musim THR, mereka mendadak menegur dengan ramah dan memberikan pertolongan yang tidak saya perlukan. Pertolongan itu kemudian diketahui tidak tulus karena setelah itu mereka meminta imbalan yang disebutkan sebagai THR.
            Tidak semua dari mereka yang meminta ke saya kemudian saya berikan. Saya hanya memberikan kepada orang-orang yang memang sudah saya kenal. Atau yang hasil kerjanya saya tahu berhasil baik. Selain itu, saya juga tidak mendapatkan THR di waktu yang sama dengan mereka. Pengeluaran ini tentunya akan menjadi pengeluaran tambahan yang tidak direncanakan. Itu masih belum ditambah dengan faktor sifat saya yang agak pelit hehehe….
            Banyaknya orang yang tanpa malu meminta THR membuat saya berpikir. Tentunya mereka meminta karena mereka merasa apa yang mereka miliki tidak cukup. Entahlah karena memang kekurangan atau hanya merasa diri kurang. Kemiskinan dan mental miskin memang agak susah dibedakan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini