Ana

Selasa, 05 Juli 2016

Didandani Sampai Ketiduran




            Seorang perias mendandani saya saat akan menghadiri acara pernikahan sepupu saya. Selain menata rambut, ia juga merias wajah saya. Saya hanya terduduk pasrah selagi ia bekerja. Saya serahkan sepenuhnya penampilan saya ke dalam tangannya.

            Saya memejamkan mata selagi mbak perias membubuhkan aneka kosmetik di wajah saya. Mata sipit saya biasanya menjadi sasaran para perias           yang ingin membuatnya terlihat lebih besar. Biasanya ada warna gelap yang menghiasi mata saya.

            Benar saja dugaan saya. Perias itu cukup lama berkutat di bagian mata saya. Kedua mata saya memang sama-sama sipit, namun bentuknya berbeda. Mata sebelah kanan berkelopak, sedangkan yang kirinya tidak. Bentuk mata ini sudah cukup sering membuat para perias kerepotan.

            Saya sendiri tidak terlalu repot saat berdandan. Jelas saja tidak repot, wong saya hampir tidak bisa berdandan, apalagi bagian mata. Saya kurang suka berdandan. Saya tetap percaya diri, kok, walaupun tak ada eye shadow di sekitar mata saya. Saya juga tidak terlalu peduli pada pertumbuhan alis saya yang menurut beberapa kenalan saya berantakan sekali untuk ukuran perempuan.

            Mbak perias itu memerlukan waktu cukup lama untuk mendandani saya. Saya yang memejamkan mata lama-lama benar-benar tertidur. Tubuh saya makin lama makin doyong ke depan ke arah mbak perias. Saya akhirnya terbangun karena ada yang menahan tubuh saya. Tentu saja yang melakukannya adalah mbak perias.

            Saat membuka mata, mata saya terasa berat. Selain karena ngantuk, ada sepasang bulu mata palsu yang bertengger di kelopak mata saya. Saya tidak ingat kapan bulu mata palsu itu terpasang. Rupanya itulah yang dikerjakan oleh mbak perias saat saya tertidur. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini