Ana

Minggu, 17 Juli 2016

Abang Ojek yang Terbiasa Melanggar Hukum




            Suatu hari, saya naik ojek. Saya berhenti di seberang pangkalan ojek. Dengan bahasa kode, seorang abang ojek sudah paham kalau saya memerlukan jasanya. Dia segera meluncur ke arah saya. Abang ojek ini meluncur melawan arus. Dia juga tidak membawa helm.
            Setelah menyebutkan tujuan, saya langsung duduk di belakangnya. Saya sempat menanyakan tentang helm. Sebagai penumpang, saya tidak diberi helm. Dia pun tidak mengenakan helm. Saya tidak memperpanjang masalah ini karena harus segera pergi.
            Dalam perjalanan, dia mau membelok ke arah yang menyimpang dari tujuan. Saya segera mengingatkannya untuk kembali ke tujuan. Yeah, mungkin saja jalan yang saya kira menyimpang itu akan menuju ke tujuan yang sama. Sepertinya dia mau mengambil jalan-jalan kecil. Saya meminta dia untuk tetap berada di jalan besar. Jalan-jalan kecil itu, walaupun menuju tempat yang sama, dihiasi dengan banyak polisi tidur. Perjalanan akan lebih lama.
            Setelah tiba di ruas jalan arteri, saya meminta untuk diturunkan di persimpangan. Namun dia tidak melakukan itu. Setelah dia tahu bahwa saya mau turun di halte, dia membelok ke arah kanan, melawan arus kendaraan. Saya sampai menjerit minta kendaraan dihentikan.
            “Stop, stop, stop! Stop di sini sekarang,” perintah saya.
            “Santai aja, Bu. Saya sudah biasa,” katanya dengan santai.
            Sambil menggelengkan kepala, saya mengomelinya. Saya betul-betul tidak suka dengan caranya membawa kendaraan bermotornya. Biasa, kok, melanggar hukum dan membahayakan nyawa. Kalau nyawa sendiri, sih, mendingan. Saya juga tidak bisa mendoakannya untuk mendapatkan banyak rezeki dari mengojek. Saya memberikan ongkos sambil ngeloyor pergi melanjutkan perjalanan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini