Ana

Rabu, 22 Juni 2016

Jalan Layang Hamka




            Jalan layang Hamka adalah salah satu jalan layang non tol terpanjang di Jakarta. Jalan layang ini berada di atas ruas Jalan Casablanca. Jalan sepanjag 2,3 km ini diharapkan dapat mengurai kemacetan di daerah sekitarnya. Saya berkesempatan untuk memotret jalan ini dari atas. Saya memotretnya dari jendela di lantai 23 sebuah gedung yang beralamat di jalan itu.
            Pemerintah DKI Jakarta memberikan nama Jalan Hamka untuk jalan layang non tol ini. Hamka adalah nama pena dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Hamka diambil dari singkatan namanya. Selain dikenal sebagai Prof. Dr. Hamka, ia juga dikenal dengan nama Buya Hamka. Selama hidupnya, Buya Hamka pernah menjadi wartawan, penulis, pengajar, dan juga politisi. Ia juga pernah menjadi ketua MUI. Salah satu keputusannya yang paling kontroversial adalah mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam untuk perayaan Natal bersama. Ia akhirnya mengundurkan diri karena saat diminta untuk mencabut fatwa itu.

            Walaupun tidak pernah mengenalnya secara pribadi. Saya salut pada Buya Hamka. Kami memang berbeda agama, namun ada 1 kesamaan pandangan. Menurut saya perayaan Natal bersama dengan umat beragama lain tidak perlu dilakukan. Perayaan Natal adalah bagian dari ibadah orang Kristen. Ibadah adalah sesuatu yang sangat pribadi bagi saya. Adanya orang-orang yang datang tanpa mengerti maknanya jadi mengurangi arti ibadah itu sendiri. Apalagi kalau orang tersebut datang karena terpaksa. Arti ibadah pun akan menjadi tak bermakna apabila perayaan itu hanya menjadi sebuah perayaan tanpa makna. Kepedulian pada sesama yang beragama lain dapat ditunjukkan dengan mengucapkan selamat tanpa perlu hadir dalam kegiatan ibadahnya.
O ya, yang menurut saya tidak perlu itu bukan berarti tidak boleh. Lagipula saya bukanlah orang yang berhak mengharamkan sesuatu. Kalau misalnya ada yang mau datang dan ikut, silakan saja. Namun kalau dijadikan perayaan dengan mengundang orang-orang dari agama lain, kok, kesannya hanya sebagai selebrasi, ya…. Buya Hamka tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia kemudian mengundurkan diri sebagai ketua MUI saat diminta menarik fatwanya.
Buya Hamka banyak menuliskan karya-karya sastra. Yang paling terkenal adalah novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Novel ini makin terkenal karena ada yang menudingnya menjiplak karya orang lain. Sampai sekarang saya belum memiliki kesempatan membaca karya-karyanya.
            Saya beberapa kali melewati Jalan Hamka. Ada beberapa kejadian yang masih saya ingat. Salah satunya adalah saat pertama kali melewati jalan baru ini. Saat itu masih pagi, saat orang-orang di Jakarta berangkat bekerja. Saya menjalankan mobil kecil saya di ruas jalan ini dengan perlahan. Saya pikir saya akan bertemu dengan banyak kendaraan di atas jalan ini. Ternyata jalanan nyaris kosong. Lowong. Saya bisa melajukan kendaraan saya secepat mungkin. Sepertinya tujuan untuk mengurai kemacetan di sekitarnya saat itu belum tercapai.
            Kali lain, saya melewati jalan ini di malam hari. Seperti sebelumnya, jalan ini pun sepi. Saya dapat merasakan angin bertiup di sisi mobil saya. Suasana menjadi sedikit menyeramkan. Makin menyeramkan lagi ketika penunjuk bahan bakar mobil saya sudah menunjukkan minimnya bahan bakar. Khawatir juga kalau sampai kehabisan bensin di tengah jalan.
            Jalan layang super panjang di Jakarta itu diberi nama Hamka untuk mengenang jasa Buya Hamka. Pemerintah DKI Jakarta juga ingin generasi muda tidak melupakan teladannya. Semoga saja tujuan itu bisa tercapai, ya…. Selama ini, nama-nama pahlawan yang disematkan menjadi nama jalan seakan-akan hanya menjadi sebuah tempat. {ST}



Popular Posts

Isi blog ini