Ana

Selasa, 10 Mei 2016

Menduduki Patung Pahlawan




            Dunia maya dihebohkan lagi oleh foto orang-orang yang berpose sambil menduduki patung pahlawan. Orang-orang ini terlihat masih muda, kemungkinan masih berusia remaja. Mereka menduduki bagian kepala patung berpakaian tentara itu. Mungkin mereka merasa keren kalau berhasil duduk di bagian atas.
            Foto orang-orang yang menduduki patung itu beredar luas di Facebook. Beberapa komentar menyebutkan memang sengaja menyebarkan foto itu supaya pelakunya cepat tertangkap. Beberapa lainnya mengumpat-umpat kelakuan para remaja itu yang dianggap tidak menghargai para pahlawan. Ada juga yang berpendapat kalau anak-anak itu difitnah karena foto yang disebarkan diduga sudah diedit.
            Saat mulai beredar, ada yang mengatakan patung tentara itu adalah patung pahlawan revolusi yang ada di Lubang Buaya. Di tempat ini memang ada monumen dengan beberapa patung pahlawan revolusi. Saya pun menduga lokasinya di situ. Dari hasil pelacakan, ternyata lokasi kejadian itu di Pulau Sumatra, bukan di Monumen Lubang Buaya.
Patung pahlawan biasanya dibuat sebagai tanda penghormatan atas jasanya. Bentuknya yang mirip aslinya tentunya adalah harapan supaya generasi berikutnya dapat terus mengingatnya. Ada banyak nama tempat yang diberi nama seperti nama pahlawan. Biasanya di tempat ini dilengkapi juga dengan nama pahlawan tersebut.
Sayangnya, tidak semua orang dapat menghargai jasa pahlawan. Selain karena ketidakpedulian, kemungkinan pula karena ketidaktahuan. Ada cukup banyak anak muda yang tidak lagi tahu siapa saja pahlawan yang pernah berjasa bagi negerinya.
Pengenalan pahlawan pada generasi muda biasanya lewat pelajaran sekolah yang cenderung membosankan. Saya sendiri termasuk orang yang bosan dengan pelajaran seperti ini. Dalam masa pertumbuhan saya, pelajaran seperti ini dapat dikatakan sebagai pelajaran hapalan. Saya agak lemah dalam hal ini. Hasil ujian tergantung pada kemampuan kita menghapal pelajaran.
Saya mengenal cukup banyak pahlawan karena kegemaran saya membaca biografi. Dari biografi para pejuang itu, saya mendapat banyak pelajaran, terutama cara menghadapi rintangan. Pelajaran itu otomatis menjadi pengisi memori saya tanpa berniat menghapalkannya. Sedangkan pelajaran hapalan yang saya dapat dari sekolah telah menguap entah ke mana.
Dapat dimaklumi apabila kawula muda tidak terlalu ingat siapa saja pahlawan yang berjasa pada negeri ini. Perlu metode lain untuk mengenalkan jasa pahlawan selain dengan memberi pelajaran yang membosankan. Sudah dapat diduga, anak-anak remaja yang duduk di patung para pahlawan itu tidak mengenal secara pribadi figur siapakah yang dijadikan patung itu. Kalau tidak kenal, bagaimana mereka bisa menghormatinya? {ST}

Popular Posts

Isi blog ini