Ana

Jumat, 06 Mei 2016

Kebanggaan Pada Almamater




            Selama ini saya sering bertemu dengan orang-orang yang bangga sebagai lulusan perguruan tinggi negeri (PTN). Umumnya mereka menganggap diri mereka lebih baik daripada yang berkuliah di perguruan tinggi swasta (PTS). Kebanggaan itu mungkin karena seleksi awal untuk masuk PTN tidak mudah. Kemungkinan, mereka memang dari sononya sudah cerdas.
            Saya adalah lulusan Universitas Trisakti, sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat. Konon kabarnya, untuk masuk ke kampus ini perlu biaya mahal. Jadi kabarnya pula, siapa saja yang bisa bayar, pasti bisa kuliah di sini walaupun orang tersebut tidak menggunakan otaknya dengan baik. Walaupun cukup sering direndahkan, saya tetap bangga, tuh. Rasanya kemampuan saya enggak jelek-jelek amat dibandingkan dengan teman-teman yang berkuliah di PTN.
            Kalau mengikuti keinginan hati, saya memilih untuk kuliah di PTN. Jurusan yang saya pilih ada di ITB, Bandung. Perguruan ini memang terkenal dengan ilmu tekniknya. Selain itu, saya juga akan bisa mengurangi beban orang tua. Sayangnya saya tidak berhasil lolos tes. Saya tidak terlalu tahu faktor apa yang menyebabkan saya tidak lolos tes. Mungkin karena salah menjawab, atau mungkin juga karena restu ortu. Orang tua saya saat itu tidak mengizinkan saya untuk kuliah di kota lain selain Jakarta.
            Kebanggan akan almamater menurut saya adalah salah satu hal konyol yang terjadi dalam peradaban manusia. Saya pernah beberapa kali terjebak dalam perdebatan, entah itu serius atau tidak, tentang keunggulan masing-masing almamater. Menurut saya, ketika kita memasuki dunia kerja, almamater yang menjadi masa lalu kita bukanlah bagian yang terpenting. Yang paling penting adalah kinerja saat ini dan tujuannya ke depan.
            Harus diakui proses pembelajaran selama kuliah memberi pengaruh sangat besar pada kinerja seseorang. Proses itu dipengaruhi oleh tempat, fasilitas, kurikulum, dan juga pengajarnya. Faktor paling utama adalah orangnya dan cara pandangnya dalam belajar. Jadi, menurut saya, almamater tidak menentukan kesuksesan seseorang. Lulusan PTN belum tentu lebih baik dibandingkan dengan PTS.
            Dalam sebuah percakapan, seorang teman saya bercerita perjuangannya saat kuliah di sebuah PTN terkenal. Kabarnya, dalam 1 semester, ada dosen yang hanya mengajar 2-3 kali. Hampir tidak ada dosen yang memenuhi semua jadwal temu mukanya. Sudah menjadi rahasia umum kalau para dosen itu mengajar di kampus lain, kampus PTS. Jadwal temu yang superminim itu turut menghambat proses belajar teman saya ini.
            Saat teman saya itu kuliah, seorang dosen boleh mengajar di mana saja. Tidak ada pembatasan. Bahkan ada seorang dosen yang mengajar di beberapa kampus di seluruh Jawa. Alhasil dia memerlukan cukup banyak waktu untuk travelling dari kampus ke kampus. Ada beberapa kampus yang harus “dikorbankan” untuk memenuhi jadwal mengajar di kampus lain. Kampus teman saya itu termasuk kampus yang cukup sering “dikorbankan”. Syukurlah sekarang ini kabarnya seorang dosen dibatasi hanya boleh mengajar di 2 kampus.
            Cerita agak berbeda datang dari kampus saya. Dosen-dosen di kampus saya dulu sepertinya terlalu rajin mengajar. Terutama sekali di jurusan tempat saya belajar. Bayangkan saja, ada seorang dosen yang sudah datang sejak jam 6 pagi untuk mengajar pada jam 8. Ada juga seorang dosen yang menuliskan perhitungan rinci tentang gempa ketika ditanya tentang gempa yang baru saja terjadi di Jakarta. Beberapa lainnya, selain rajin mengajar, juga rajin belajar. Mereka selalu memberikan update teknologi terbaru kepada kami.
O ya, ada juga, sih, dosen yang malas. Dosen-dosen ini hanya mengandalkan buku cetak dan kemudian asyik dengan kegiatan lain. Saya tidak terlalu ingat dengan dosen yang seperti ini karena tidak meninggalkan kesan sama sekali bagi saya.
Dari analisis teman berbincang saya itu, kemungkinan para dosennya dulu memang memilih untuk mengajar di kampus lain demi tuntutan ekonomi. Konon kabarnya bayarannya lebih tinggi. Analisis ini bisa dimaklumi, sih. Semoga saja tidak semua dosen seperti itu. Semoga saja ada yang benar-benar tulus untuk berbagi ilmu kepada anak didiknya.
Dari beberapa anak “zaman sekarang” yang saya temui, jarang yang ada menyombongkan almamaternya. Mereka lebih sering mengungkapkan jurusan apa yang mereka ambil saat kuliah. Sepertinya sekarang mutu pendidikan sudah cukup merata, sehingga mereka bisa benrbincang tentang mata kuliah yang sama walaupun kampusnya berbeda.
Akhir kata, memang tidak bisa dipungkiri kualitas lembaga pengajar berpengaruh besar pada kualitas pelajarnya. Saya harus mengakui itu. Saya pun akan memilih kampus yang terkenal memiliki kualitas baik bila kelak melanjutkan kuliah. Namun kebanggaan berlebihan akan almamater bukanlah suatu sikap yang patut dilestarikan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini