Ana

Rabu, 18 Mei 2016

Dehidrasi Sampai Hampir Pingsan




            Beberapa hari yang lalu, saya mengalami dehidrasi sampai hampir pingsan. Ini adalah pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Selain traumatik, saya juga bersyukur karena masih dijaga oleh Tuhan. Ya, saya yakin saya dijaga.
            Siang itu, saya berkendara dari daerah Jatimurni mau kembali ke rumah. Paginya, saya berhasil mencapai tempat ini dengan bantuan aplikasi Waze. Aplikasi penunjuk jalan itu sukses mengantarkan saya dalam waktu yang singkat. Namun aplikasi itu tidak bisa saya gunakan saat pulang karena baterai telepon genggam saya sudah melemah. Saya pun mengandalkan petunjuk jalan berwarna hijau yang ada di sepanjang jalan.
            Sayangnya, petunjuk jalan itu sering tidak bersambung. Setelah menyusuri jalan cukup lama, saya tidak berhasil menemukan petunjuk berikutnya. Dapat dikatakan kalau saya nyasar. Yang membuat keadaan lebih runyam adalah AC mobil yang rusak. AC ini bertambah parah panasnya ketika keadaan jalan macet. Saat itu, kendaraan di jalan yang saya lewati sangat padat. Macet luar biasa.
            Saya mencoba memusatkan perhatian di tengah kemacetan itu. Tak terasa, keringat bersimbah di tubuh saya. Keringat bahkan keluar di tangan dan betis saya. Panasnya memang luar biasa. Mungkin sebanding dengan di dalam sauna.
            Menyadari banyaknya keringat yang keluar, saya sadar kalau saya harus segera minum untuk menggantikan cairan yang keluar itu. Kebetulan di mobil ada sebuah botol air yang masih ada airnya. Saya segera meminumnya. Air itu hangat, bahkan nyaris panas. Tidak terlalu segar rasanya. Namun saya harus minum. Saya mulai mengenali tanda-tanda terjadinya dehidrasi.
            Ternyata sebotol air itu tidak cukup menggantikan cairan yang keluar dari tubuh saya. Saya sempat berencana untuk  mampir sebentar di pinggir jalan mencari minuman tambahan. Namun hal itu tidak mudah dilakukan di jalanan super macet itu. Kalau saya turun, artinya saya akan membuat penghambat baru dari jalanan yang padat itu.
            Setelah cukup lama berkonsentrasi, akhirnya saya tiba di tempat yang saya kenali. Sepertinya saya pernah melewati tempat itu. Ruas jalannya besar, walaupun tetap padat. Saya langsung mengenali tempat itu ketika melihat toko Giant. Saya ingat sekali toko itu karena saya ikut berperan membukanya. Dengan semangat, saya langsung menginjak pedal gas menuju pintu tol.
            Sebelum tiba di pintu tol, barulah saya merasakan kepala yang pusing dan badan agak meriang merinding. Ini adalah tanda-tanda dehidrasi yang dari tadi sudah saya kenali namun saya abaikan. Makin mendekati pintu tol, makin saya keleyengan. Akhirnya saya berhenti di salah satu minimaret di jalan itu.
            Keluar dari mobil, saya tidak bisa melangkah dengan mantap. Langkah saya sempoyongan, namun saya tetap berusaha mencapai minimarket berpendingin udara itu. Rencananya, saya akan numpang ngadem sambil minum. Saya langsung menuju lemari pendingin yang berisi botol-botol minuman. Saya mengambil minuman yang kabarnya mengandung banyak oksigen dan membawanya ke kasir.
            Di depan kasir, saya hampir tidak bisa berdiri tegak. Mata saya sudah mulai berkunang-kunang. Saya sudah khawatir akan pingsan. Saya bersandar di dinding sambil menunggu antrean pembayaran. Ketika akhirnya tiba giliran saya, pandangan sudah makin buram. Mbak Kasir sudah mulai tidak jelas wajahnya. Yang terdengar jelas hanya suaranya.
            Setelah transaksi selesai, saya segera membuka botol itu dan meneguk isinya. Air segar itu langsung mengisi rongga mulut saya. Saya segera mencari tempat duduk yang ada di depan toko. Saya duduk di dekat pasangan yang sepertinya sedang pacaran di sebelah kanan saya. Di sebelah kiri saya ada keluarga kecil dengan seorang anak kecil.
            Saat duduk itulah pandangan saya makin berkunang-kunang. Pemandangan menjadi kuning terang dan perlahan menjadi gelap. Menurut adik saya yang cukup sering pingsan, itu adalah tanda-tanda mau pingsan. Saya tidak mau pingsan di tempat ini. Di mana tidak ada orang yang saya kenal. Saya berdoa dengan sungguh-sungguh, minta pertolongan Tuhan supaya saya tidak pingsan. Tuhan mengabulkannya. Saya tidak pingsan. Mata saya berangsur-angsur jernih. Pandangan menjadi makin cerah.
            Di depan saya terlihat seorang penjaga parkir dan seorang pedagang yang melihat aneh ke arah saya. Entah apa yang mereka pikirkan. Mungkin mereka juga berpikir kalau saya sedang sakit. Sekilas saya sempat bercermin. Wajah saya memang pucat sekali. Atau mereka juga mengintip rok saya yang ternyata sedikit terbuka. Entahlah.
            Saya menenangkan diri selama beberapa saat sebelum masuk kembali ke dalam minimarket. Saya membeli coklat batangan untuk menambah tenaga. Saya juga membeli tisu untuk mengelap keringat saya yang masih mengucur. Tak lupa saya beryukur karena sudah terselamatkan. Sekarang tinggal berusaha untuk pulang.
            Saat memasuki Mocil, saya sudah merasa lebih segar, namun saya masih tidak yakin apakah saya bisa siaga sampai di rumah. Saya menimbang-nimbang apakah sebaiknya masuk tol atau lewat jalan biasa. Akhirnya saya memilih lewat jalan tol. Saya menjalankan Mocil perlahan. Entah mengapa, AC Mocil mendadak sembuh. Perjalanan pulang itu cukup sejuk. Syukurnya tidak membuat saya sampai mengantuk.
            Saya sangat lega ketika tiba di rumah. Saat duduk di sofa empuk di ruang tengah, barulah terasa kalau badan saya sangat lelah. Saya pun beristirahat sambil memulihkan tenaga. Tak lupa saya minum oralit untuk menggantikan ion-ion yang terbuang. Sekali lagi, ini adalah pengalaman yang berkesan. Traumatik namun layak disyukuri. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini