Ana

Kamis, 19 Mei 2016

Anak yang Terkena Talasemia




            Saya mengenal seorang anak yang suka membaca. Anak ini juga suka bercerita. Namanya sebut saja Bas. Saya selalu senang bertemu dengan anak yang ceria ini. Saya mengenalnya di perpustakaan gereja, di mana saya menjadi petugas penjaga perustakaan dan anak itu adalah pengunjung tetapnya.
            Saat pertama kali mengenalnya, anak lelaki itu masih duduk di kelas 3 SD. Sekarang mungkin kelas 4. Saya tidak terlalu memantau tentang sekolahnya. Rasanya saya memang belum lama mengenalnya tetapi merasa dekat karena memiliki minat yang sama. Kami sama-sama suka membaca.
            Selain mengenal anak ini, saya juga mengenal kakeknya. Saya juga berteman dengan kakeknya. Kami bahkan sering kali bertugas bersama dalam kebaktian. Selain berbincang tentang kebaktian yang serius, anak ceria yang suka membaca itu juga menjadi bahan obrolan saya dengan kakeknya.
            “Bas mana?” tanya saya pada teman sepelayanan saya itu.
            “Bas lagi lemas. Dia baru aja transfusi,” jawab kakeknya sambil tersenyum.
            Berita itu sangat mengejutkan bagi saya, namun bagi kakeknya hanya seperti berita biasa. Ternyata itu memang berita biasa. Bas harus transfusi darah setiap 3 minggu karena talasemia. Terus terang, saya sangat kaget dan sedih mendengarnya. Anak sekecil itu sudah harus menerima transfusi.
            Saya tahu talasemia adalah penyakit yang berhubungan dengan darah. Saya baru mencari informasi lebih banyak tentang penyakit ini setelah mendengar kabar tentang Bas, teman kecil saya itu. Makin banyak saya tahu, makin sedih saya.
            Talasemia adalah penyakit kelainan darah genetik. Penyakit ini diturunkan oleh kedua orang tuanya. Sampai saat ini, penyakit ini belum ada obatnya. Cara terbaik adalah mencegahnya. Caranya dengan memeriksakan diri sebelum memiliki anak. Atau lebih tepatnya sebelum menikah. Pilihan untuk tidak memiliki anak dapat dipertimbangkan apabila kedua orang tua adalah pembawa gen talasemia. Bagi yang sudah terkena talasemia, terapi terbaiknya adalah dengan transfusi darah. Terapi seperti itulah yang dilakukan kepada Bas, teman kecil saya yang suka cerita kungfu itu.
            Penderita talasemia di Indonesia ternyata cukup banyak. Mereka berusia 0 sampai 18 tahun. Mengapa tidak ada yang tua? Karena memang segitulah harapan hidup orang yang terkena talasemia. Ada beberapa yang mencapai usia 20 tahun, namun sangat jarang. Saya makin sedih mengetahui hal ini.
            Penderita talasemia, bila sudah waktunya untuk transfusi, akan merasa lemas. Mereka harus segera mendapatkan terapi sebelum wajahnya berubah pucat dan kehitaman. Proses itu berlangsung rutin selama hidupnya. Dalam kehidupan Bas, itu berlangsung setiap 3 minggu sekali.
            Saya tidak bertanya-tanya lagi tentang penyakit Bas dan apa yang harus dialaminya untuk dapat bertahan hidup. Saat terakhir kali bertemu dengannya, saya menanyakan cita-citanya. Bas bercita-cita menjadi pesilat. Cita-cita yang wajar bagi seorang anak laki-laki penggemar ceita kung fu. Tetapi… Hmmm… Mungkin suatu saat nanti catatan ini akan saya lanjutkan lagi. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini