Ana

Rabu, 13 April 2016

Anak Kayang




            Dalam sebuah kunjungan ke sebuah sekolah dasar, saya dikejutkan oleh sikap seorang anak. Anak itu melengkungkan punggungnya ke belakang, dan kemudian kayang. Saya sampai bengong melihatnya.
            “Wah, hebat! Bisa kayang!” puji saya dengan tulus.
            Anak itu kemudian kembali ke sikap berdiri. Dia tersenyum lebar dengan wajah senang, khas anak-anak yang sedang memamerkan karyanya. Tak lama kemudian, dia kembali melakukan sikap kayang. Saya pun kembali bertepuk tangan melihat atraksinya itu.
            Saya sudah lama tidak melakukan kayang. Rasanya terakhir waktu masih SMA. Itu pun saat pelajaran olahraga. Setelah itu tidak pernah lagi. Selain karena tidak suka, badan saya memang kurang lentur. Kalau memilih olahraga, saya tidak akan memilih kayang.
            Waktu SD, ada beberapa teman saya yang suka kayang. Mereka kayang seperti sedang bermain. Anak yang kayang akan menerima kekaguman dari teman-temannya yang tubuhnya tidak selentur itu. Anak-anak seperti saya ini tepatnya. Kekaguman itu kemudian dilanjutkan dengan percobaan oleh anak-anak lain yang tidak mau kalah. Saya juga pernah mencobanya. Berhubung badan saya tidak lentur, maka akan ada teman lain yang membantu memegang bagian pinggang saya. Selanjutnya saya akan gantian membantu teman saya itu.
Berbeda dengan anak kayang yang saya temui di SD itu, hanya dia sendiri yang kayang. Teman-temannya tidak ada yang mencoba mengikutinya. Beberapa teman lainnya tetap asyik bermain dan ngobrol di sekitarnya. Beberapa lagi ada yang makan. Saat itu memang sedang jam istirahat. Beberapa anak sedang memakan bekalnya.
Seorang anak yang menemani saya mengagumi si anak kayang adalah seorang anak bertubuh agak tambun yang sedang memakan donat. Saya menduga anak ini tidak bisa kayang. Ternyata memang benar. Menurut pengakuannya sendiri, ia tidak bisa kayang dan tidak suka kayang. Ia lebih suka makan donat rasa cokelat. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini