Ana

Jumat, 05 Februari 2016

Petugas Transjakarta yang Emosional




            Kemarin malam, saya berkendara menggunakan bus TJ. Setelah menunggu beberapa saat di halte Harmoni, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus tujaun Pulogadung. Bus yang saya tumpangi itu cukup penuh. Di halte berikutnya, bus itu menjadi sangat penuh.
            Walaupun penuh sesak, saya berhasil mendapatkan tempat berdiri yang cukup lega. Di tempat ini, saya bisa bersandar sambil membaca. Setelah beberapa hari menggunakan moda transportasi ini, saya sudah cukup terbiasa dengan kebisingan yang ada. Saya tetap bisa membaca dengan santai walaupun lingkungan sekitar berisik.
            Saya dikejutkan oleh teriakan marah dari arah pintu masuk. Saya sempat berprasangka, mungkin ada copet yang tertangkap kemudian ada yang memarahi. Ternyata tidak ada apa-apa. Lelaki yang marah itu adalah petugas penjaga pintu. Kemarahan itu kemudian dilanjutkan dengan omelan yang baru berhenti pada perhentian berikutnya.
            Pada perhentian berikutnya, kemarahannya kembali berlanjut. Petugas itu memarahi penumpang yang gerakannya lambat padahal pintu sudah dibuka. Para perempuan yang ada di bagian depan bahkan sampai beberapa kali menoleh. Umpatan kemarahannya dapat dikatakan keterlaluan. Apalagi itu dilakukan kepada penumpang, orang yang seharusnya dilayaninya.
            Cukup banyak orang yang tersulut emosinya saat mendengar kemarahan sang petugas TJ yang memang kurang sopan itu. Saya juga sempat nyeletuk karena merasa agak terganggu. Sang petugas TJ sepertinya tidak peduli pada apa yang dikatakan oleh para penumpang. Dia tetap melanjutkan kemarahannya. Lama-lama nadanya agak mirip para preman yang meminta-minta di bus kota.
            Saat makin medekati halte yang dekat dari rumah, saya bersiap-siap untuk turun dari bus. Saya mendekati pintu keluar tempat petugas TJ bertugas. Saya sempat berniat mau melabrak petugas TJ yang marah-marah pada penumpang itu. Atau paling tidak saya mau menegurnya. Hmmm… Atau mengomelinya.
            Semua itu akhirnya tidak terjadi. Saya tidak tega setelah melihat wajah petugas TJ itu. Pemuda agak kurus itu wajahnya sangat letih. Sepertinya hari itu bukanlah hari yang mudah untuk dilalui olehnya. Mungkin sebelumnya dia melewati daerah macet bersama para penumpang yang menyebalkan. Mungkin banyak yang membuat dia kesal sampai-sampai dia menumpahkan kemarahannya pada penumpang bus yang saya tumpangi itu.
            Ketika saya melangkah meninggalkan bus itu, masih terdengar suara Mas Petugas TJ yang marah-marah itu. Terus terang saya jadi merasa kasihan. Pekerjaannya tidak mudah. Selama menghadapi penumpang yang banyak sekali, tentunya ada juga penumpang yang nyebelin. Itu masih ditambah dengan pekerjaannya yang sebagian besar menggunakan fisik. Perasaan kasihan itu membuat saya tidak jadi memarahinya. Saya bahkan mendoakan semoga dia mendapatkan upah yang layak.  {ST}

Popular Posts

Isi blog ini