Ana

Kamis, 18 Februari 2016

Malu Sama Dokter




            Hari Sabtu pagi itu adalah jadwal saya untuk tes kesehatan. Saya harus puasa 10 jam sebelumnya untuk pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini sebenarnya pemeriksaan biasa. Tidak semestinya saya takut. Entah mengapa, saya selalu merasa takut dan gentar apabila sedang menjalani tes kesehatan.
            Ketakutan saya yang terbesar adalah ditusuk jarum. Saya juga tidak bisa menjelaskan mengapa saya sampai takut ditusuk jarum, apalagi pakai acara diambil darahnya. Dalam sejarah kehidupan saya, sudah berkali-kali saya lemas hampir pingsan saat diambil darahnya. Padahal darah yang diambil hanya setabung kecil. Bagi saya, proses pengambilan darah adalah ujian tersendiri.
            Logika membuat saya selalu memberanikan diri berhadapan dengan petugas medis dan jarum-jarumnya. Demikian juga kali ini. Berkali-kali saya memberikan sugesti pada diri sendiri kalau saya akan baik-baik saja. Darah yang akan diambil tidak akan membuat saya kehabisan darah seperi digigit vampir. Sugesti berhasil memenuhi pikiran saya.
Dengan bangga saya mencatat prestasi saya kali ini. Saat pengambilan darah, sebelum dan sesudah makan, saya tidak sampai lemas. Rasa gentar sih masih ada. Saya masih tetap tidak berani melihat ke jarum yang menusuk tangan saya itu, namun saya berhasil melewatinya.
            Tes berikutnya adalah ketika berhadapan dengan dokter. Dokter yang akan memeriksa saya adalah laki-laki. Dokter ini akan memeriksa tubuh saya dari kepala sampai kaki, termasuk payudara dan dubur.
Perawat yang membantu pengecekan fisik saya memberitahukan kepada saya sebelumnya. Sepertinya pemberitahuan itu supaya saya tidak kaget. Sekali lagi saya memenuhi pikiran saya dengan logika. Sebenarnya tidak ada masalah dokternya laki-laki atau perempuan. Tugasnya sama saja, kok.
Dalam kenyataannya tidak semudah itu menerima kenyataan. Saya merasa sangat tidak nyaman ketika sang dokter memeriksa tubuh saya yang nyaris tanpa busana. Saya tahu ketidaknyamanan itu terlihat di wajah saya. Sepertinya saya cemberut hampir selama pemeriksaan. Saya juga tidak berani memandang dokternya. Rasanya…malu.
“Lihat ke depan. Lihat ke saya,” tegur dokter muda itu saat pemeriksaan mata.
Saya terpaksa memandang wajah dokter itu. Saat itulah saya baru mengamati kalau dia masih muda. Saya pikir dokter-dokter di rumah sakit tua ini juga tua-tua. Kemudaannya itu justru membuat saya lebih malu lagi. Pada pemeriksaan hidung, leher, dan seterusnya, saya segera mengalihkan pandangan ke dinding, tirai, dan langit-langit ruangan. Ke mana saja, deh, yang penting enggak ke wajah sang dokter.
Setelah pemeriksaan dokter selesai, saya dipersilakan untuk kembali mengenakan pakaian. Saat itu saya merasa seperti dipermalukan. Hmmm… Mungkin lebih tepatnya merasa malu. Saya yakin si dokter tidak bermaksud mempermalukan. Lega sekali rasanya setelah mengenakan seluruh pakaian saya. Saya langsung buru-buru mau ngibrit dari ruangan. Saya baru ingat mengucapkan terima kasih kepada Pak Dokter sesaat sebelum melangkahkan kaki keluar pintu ruangan.
Yang paling konyol adalah saat bertemu dengan dokter itu di lorong. Dokter itu keluar dari ruangannya sementara saya sedang menunggu. Kami sempat bertatapan sejenak sebelum saya salting luar biasa. Mungkin wajah saya berubah menjadi merah karena malu. Bukan malu karena naksir, lo. Walaupun cukup ganteng, wajah dokter itu bukanlah tipe saya.
Saya segera mengutak-atik layar telepon seluler supaya tidak ketahuan salah tingkah. Saya juga menunduk sedalam-dalamnya supaya tidak perlu bertemu pandang dengan sang dokter yang langkahnya terdengar mendekat. Malu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini