Ana

Sabtu, 13 Februari 2016

7 Habits



The 7 habits of highly effective people. Sumber: Dunamis

            Buku The 7 Habits of Highly Effective People adalah salah satu buku yang pernah saya baca. Buku ini direkomendasikan pada kelas manager in trainee yang pernah saya ikuti. Buku yang ditulis oleh Stephen Covey ini juga menjadi buku rekomendasi di banyak lembaga.

            Inti dari buku ini adalah mengembangkan kebiasaan yang efektif. Ada 7 kebiasaan yang dibahas dalam tiap babnya. Ketujuh kebiasaan itu adalah:

1.     
  1. Jadilah proaktif.
  2. Mulailah dari akhir dalam pikiran.
  3. Dahulukan yang utama.
  4. Berpikir menang-menang.
  5. Berusaha untuk lebih dulu mengerti orang lain, baru kemudian dimengerti.
  6. Sinergi.
  7. Asah kemampuan.

Saya rasanya pernah membaca buku ini sebanyak 2 kali. Buku itu kemudian saya berikan pada seorang teman yang mau belajar tetapi memiliki keterbatasan. Buku ini cukup memberi pengaruh dalam cara kerja dan kehidupan saya selama ini. Walaupun sudah tidak lagi ingat urutan kebiasaannya, saya memang mengusahakan kebiasaan yang ada di buku itu menjadi kebiasaan pula bagi saya. Tujuh kebiasaan yang saya tulis berurutan di atas itu adalah hasil ngintip di internet.

Kebiasaan yang paling sering saya lakukan adalah dahulukan yang utama. Sudah beberapa tahun ini saya berusaha memilih melakukan yang utama, yang lebih penting. Kebiasaan itu makin bertambah ketika saya kerap bertemu dengan orang yang tugasnya di dunia telah selesai. Waktu yang kita miliki itu terbatas dan harus digunakan sebaik-baiknya. Teori Pareto menambah kuatnya kebiasaan ini.

Saya juga selalu berusaha mengasah kemampuan dengan menambah wawasan dan latihan. Itu sebabnya saya enjoy aja dapat tugas tambahan yang sebenarnya bukan tanggung jawab saya. Anggap saja itu sebagai pengalaman dan pelajaran baru. Saya memang bertekad akan terus menjadi pembelajar sampai tua nanti.

Yang agak susah adalah berusaha mengerti orang lain lebih dulu. Ini kadang-kadang menjadi sangat susah karena tidak semua orang bisa dimengerti dengan mudah. Apalagi cara dan jalan berpikir saya cukup berbeda dengan kebanyakan orang di sekitar saya. Belum lagi kalau yang harus dimengerti adalah hal yang menyebalkan. Kadang-kadang, pengertian saya hanya sampai “dia orangnya memang begitu”. Saya tetap tidak mengerti maksud dia apa. Rasanya wajar-wajar saja kalau dia juga tidak mengerti jalan pikiran saya.

Sampai sekarang ini, saya masih berjuang untuk menjadi highly effective people. Perjuangan yang belum berakhir itu diingatkan lagi oleh kiriman foto bertulisan yang beredar di media sosial. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini