Ana

Selasa, 19 Januari 2016

Tukang Sate Kembali Jualan




            Di kompleks tempat saya tinggal ada seorang tukang sate yang berjualan keliling setiap malam. Ia adalah satu-satunya tukang sate yang berjualan berkeliling di daerah kami. Saingannya, lebih memilih menetap di pinggir jalan. Saya lebih sering membeli sate yang mangkal di depan apotek langganan kami.

            Tukang sate keliling itu sempat membuat kehebohan di tempat kami tinggal. Suatu malam, dia pernah tertabrak oleh salah seorang tetangga saya. Tetangga saya itu menabraknya dengan menggunakan motor besar. Si tukang sate sampai terpelanting dan menghantam pintu pagar di sebelah rumah saya.

            Kehebohan masih berlanjut karena sang penabrak kemudian melarikan diri dan ngumpet di dalam rumahnya yang besar. Yang menolong si tukang sate adalah orang-orang lain yang berada di sekitar situ, yaitu orang-orang yang nongkrong dan beberapa hansip. Mereka membawa si tukang sate ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan. Sementara itu, gerobaknya dibiarkan parkir di depan rumah kami.

            Saya sempat memotret keadaan gerobak itu sesaat setelah ditabrak. Saya membagikannya dengan beberapa anggota keluarga saya namun saya tidak tega untuk mengunggahnya ke media sosial. Gerobak itu penyok di beberapa tempat. Bumbu satenya tumpah berantakan membasahi gerobak dan jalan aspal di bawahnya.

            Saya ingat saat itu beberapa orang mengumpulkan uang untuk membantu pengobatan si tukang sate. Staf rumah tangga kami, yang saya tahu keuangannya sangat terbatas, juga turut memberikan sumbangan. Saya juga sempat memberikan sumbangan yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Kami semua mendoakan semoga tukang sate, yang saya lupa namanya ini, kembali pulih dan sehat.

            Beberapa hari yang lalu, saya sempat mendengar teriakan penjaja sate di depan rumah. Teriakan itu kami sambut dengan gembira. Mamah bahkan sampai lari terbirit-birit ke depan rumah. Dia penasaran untuk melihat tukang sate itu. Apakah benar itu tukang sate yang dulu ataukah ada orang lain yang menggantikannya. Ternyata benar. Yang berjualan hari itu adalah tukang sate yang dulu. Kami semua bersyukur karena lega.

Tukang sate itu dapat kembali pulih dan berjualan lagi. Malam itu, kami tidak menambah rezekinya dengan membeli satenya. Kami semua sudah dalam keadaan super kenyang setelah makan. Lain kali, kami pasti akan menambahkan rezeki baginya dengan membeli barang dagangannya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini