Ana

Rabu, 27 Januari 2016

Tempat Parkir untuk Tamu Direktur




            Suatu kali, saya berkunjung ke kantor institusi pemerintah untuk keperluan artikel yang saya tulis. Sebelumnya, saya sudah membuat janji dengan bagian humas. Saya mendapatkan waktu bertemu jam 10 pagi.
            Berhubung letak kantor itu tidak jauh dari rumah dan rute perjalanan saya setiap pagi, maka saya langsung menuju ke tempat ini bersama dengan Mocil. Saya memasuki gerbang yang dijaga oleh beberapa tenaga keamanan. Setelah itu, saya menggerakkan Mocil untuk mencari tempat parkir.
            Setelah berjalan beberapa lama dan tak kunjung mendapatkan lahan parkir, saya bertanya kepada seseorang yang sedang berjaga.
            “Tidak ada tempat parkir,” katanya agak ketus.
            Saya tidak menyerah. Saya mendatangi orang yang lainnya. Yang ini menjawab dengan agak ramah.
            “Sudah coba tempat parkir yang di sana?” tanyanya.
            “Belum. Saya baru mencari di sekitar sini,” jawab saya sambil bersiap-siap menjalankan mobil.
            “Kalau cuma sebentar, bisa taro di sini,” katanya sambil menunjuk ke bawah pohon. Tempat itu memang cukup untuk memarkirkan mobil saya yang kecil itu.
“Tempat parkir yang lain penuh. Ini sebenarnya bukan tempat parkir,” lanjutnya lagi.
Setelah memarkir si Mocil dan mengucapkan terima kasih, saya pun berjalan ke tempat yang sudah ditentukan. Bagian Humas mengarahkan saya ke tempat salah seorang direktur. Direktur ini mengepalai bagian yang memang sangat relevan dengan artikel yang saya tulis. Saya segera mewawancarainya. Tidak perlu waktu lama karena pertanyaannya juga tidak terlalu sulit. Ibu direktur itu sepertinya juga sudah fasih dengan apa yang saya tanyakan. Hanya sesekali dia melihat ke kertas yang sepertinya sudah disiapkannya. Itu pun untuk bagian peraturan terbaru.
Setelah wawancara singkat itu, saya keluar dari gedung didampingi oleh petugas humas yang dari tadi menemani saya. Pria langsing bertubuh tinggi yang cukup ganteng itu juga menemani saya melihat-lihat beberapa fasilitas yang berkaitan dengan anak-anak. Setelah berkeliling, saya pun berpamitan. Kami berpisah di lahan parkir tak jauh dari pohon tempat Mocil parkir.
“Mbak kenapa gak bilang tamunya direktur?” tanya seorang satpam yang tadi menjawab saya dengan ketus.
“Hmmm,” saya hanya menggumam dan tidak menjawab.
Saya segera meninggalkan mereka dan menjalankan si Mocil. Dalam hati saya berkata, “Emangnya kenapa kalau tamu direktur? Apakah itu akan mengubah keadaan? Apakah saya akan mendapat tempat parkir khusus dan tidak dijawab dengan ketus?” {ST}

Popular Posts

Isi blog ini