Ana

Jumat, 01 Januari 2016

Nawacita




            Saya cukup sering mendengar kata Nawacita. Kata ini sangat santer terdengar pada masa awal Kabinet Kerja dibentuk. Nawacita adalah target kabinet yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo itu. Nawacita artinya 9 cita-cita dalam bahasa Sansekerta.
            Walaupun sering mendengarnya, saya sebenarnya tidak tahu persis apa sebenarnya 9 hal yang dicita-citakan itu. Selain jarang diulas satu persatu, saya juga malas mencari infromasinya. Hmmm…. Atau mungkin juga saya tidak peduli dengan apa yang dicita-citakan oleh Kabinet Kerja itu.
            Saya memberi perhatian lebih ketika melihat bannernya di lobi sebuah gedung milik pemerintah. Saat itu sebenarnya bisa saja saya langsung melangkah pergi tanpa berhenti. Namun akhirnya saya memutuskan untuk mampir sebentar dan membacanya. Ternyata cita-citanya benar-benar mulia, kok. Perlu kerja keras untuk mewujudkannya.
1.     
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
6. Meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar internasional.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
9. Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Tuh, bagus, kan cita-citanya. Selain perlu kerja keras, perlu bekerja sama dengan banyak pihak utnuk mewujudkannya. Dapat dikatakan perlu kerja sama semua WNI untuk mewujudkannya. Nah, ini dia yang susah. Di negeri ini terlalu banyak kepentingan yang dianggap lebih penting dibandingkan dengan kepentingan bangsa. Kalaupun tujaunnya sama, belum tentu orang akan mengambil jalan yang sama.
Cita-cita ini makin susah lagi dilaksanakan karena banyaknya orang yang tidak mengerti Nawacita itu apa. Orang-orang seperti saya misalnya. Kalau tidak kebetulan melihat banner di lobi gedung itu, saya tidak akan pernah tahu apa itu Nawacita sampai akhir masa jabatan Kabinet Kerja. Saya yang terbiasa menyusun kalimat dengan bahasa yang sederhana juga sempat mengerutkan kening ketika membaca Nawacita untuk pertama kalinya. Mengapa kata-kata yang dipilih seperti itu, ya? Ah, biarlah. Yang penting niatnya baik. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini