Ana

Sabtu, 02 Januari 2016

Kembang Api Tidak Identik Dengan Suatu Agama Tertentu




            Kembang api sering digunakan dalam kemeriahan perayaan, termasuk ketika tahun baru. Saat angka tahun berganti, kembang api sering terlihat di langit malam yang gelap. Pancaran sinarnya gemerlap. Itu pula yang terjadi pada saat pergantian tahun memasuki tahun 2016 ini. Saya termasuk orang yang suka memandang keindahan kembang api.
            Saya pernah bertemu dengan seseorang yang menasihati anaknya supaya tidak bermain kembang api. Menurutnya kembang api itu adalah mainan orang pemeluk agama tertentu yang dapat dikatakan kafir. Entahlah ibu itu sadar atau tidak yang dia sebut agama kafir itu adalah agama saya. Saya yang memang ogah membahas soal agama dan kepercayaan saat itu diam saja, malas berdebat. Mulut saya memang diam, tetapi pikiran saya tidak. Buktinya adalah tulisan ini. Kalo enggak kepikiran tentunya enggak akan mungkin keluar menjadi tulisan.
            Di negeri ini, memang ada kelompok orang yang selalu memandang segala sesuatu dari sudut agama. Tentu saja agamanya lah yang (dianggap) paling benar. Sementara segala sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, dianggap berasal dari agama lain. Saya kadang-kadang sampai mengernyitkan dahi kalau mendengar yang seperti ini. Bukankah semua agama itu memiliki nilai-nilai kebaikan, ya? Kenapa enggak salahkan setan, iblis, jin, atau makhluk gaib lainnya? Rasa-rasanya hampir setiap agama memiliki tradisi untuk berperang dengan makhluk-makhluk seperti ini.
            Ada yang mengatakan membakar kembang api artinya membakar uang. Bisa dikatakan benar juga, sih. Uang memang diperlukan untuk pengadaan kembang api. Kembang api gunanya memang hanya untuk menghibur. Kalau masih ada keperluan lain, membakar kembang api memang dapat dikatakan tidak ada gunanya sama sekali.
            Terlepas dari ada gunanya atau tidak, kehadiran kembang api di dunia ini bukan karena tradisi agama tertentu. Kembang api ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang juru masak di Cina. Juru masak itu tak sengaja mencampur 3 bubuk hitam yang kemudian dinamakan mesiu, si bubuk peledak. Mesiu sebagai bahan hiburan kemudian berkembang pesat di Eropa. Mesiu juga digunakan sebagai senjata. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini