Ana

Rabu, 16 Desember 2015

Yang Mulia (?)




            Di akhir tahun 2015 ini, frase “yang mulia” mendadak tenar. Frase yang biasanya ada di kisah-kisah dongeng tentang kerajaan ini sekarang digunakan di alam nyata. Tidak hanya di kamar tidur saat mendongeng pada anak kecil, tetapi di lembaga tertinggi negara ini.
            Ada beberapa pihak yang ingin dipanggil dengan sebutan “Yang Mulia” (dengan huruf besar karena menunjukkan nama), karena itulah dibuat peraturan untuk memanggil orang-orang dengan jabatan tertentu dengan sebutan “Yang Mulia”.
            Penyebutan itu adalah puncak kekonyolan yang dilakukan oleh para petinggi negeri ini. Sebelum ini, memang agak susah untuk respek pada sekumpulan orang yang sering diberitakan tidak mengerjakan pekerjaannya karena tidur di ruang sidang itu. Hmmm… Itu masih mendingan, lo. Banyak juga yang tidurnya di tempat lain. Mereka bolos dari ruang sidang. Padahal kehadiran mereka mewakili rakyat yang sudah memilihnya. Setelah tenarnya sebutan “Yang Mulia”, respek saya kepada mereka nyaris hilang.
            Saya yang sebelumnya ikut mengikuti berita tentang “papa minta saham”, kali ini sudah kehilangan minat. Saya mengganti saluran TV bila muncul orang-orang yang bersangkutan dengan itu baik yang diduga sebagai pencatut nama, yang mulia ketua lembaga tinggi itu, atau juga para “yang mulia” di bawah majelis kehormatan dewan. Kehormatan? Yeah….itu namanya. Saya juga menyingkirkan semua berita tentang itu dari muka saya. Saya juga tidak mau membahasnya kalau bertemu dengan orang-orang.
            Saya memang sengaja menghindar untuk menjaga supaya pikiran saya tetap bersih. Supaya saya tetap bisa respek dengan lembaga negara yang anggotanya dipilih oleh rakyat. Supaya saya tetap bisa berprasangka baik pada orang yang belum terbukti melakukan kesalahan. Dan terutama supaya saya tetap menghargai manusia walaupun mereka sangat bersalah pada kehidupan sesamanya termasuk kepada saya. Susah memang. Apalagi hampir semua orang membicarakannya.
Saya pun juga memikirkannya, kok. Buktinya ada tulisan ini di blog ini. Seperti beberapa tulisan lainnya, tulisan ini juga saya buat untuk membuang sampah pikiran supaya saya tetap waras. Ada kemungkinan tulisan ini akan saya buang setelah saya menuliskannya. Atau mungkin juga tetap bertengger di blog ini untuk selamanya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini