Ana

Selasa, 29 Desember 2015

Spiritual, Religius, Agama




            Saya agak jarang membicarakan tentang spiritualitas, terutama dengan orang-orang yang berbeda agama. Menurut saya, soal agama dan keyakinan adalah hal pribadi yang tak perlu dibahas. Apalagi yang namanya keyakinan pasti diyakini benar oleh pemeluknya. Keyakinan yang berbeda kemungkinan tidak akan mencapai titik temu. Nah, pembicaraan macam ini yang menurut saya sia-sia saja. Selain tidak ada manfaatnya, saya juga malas berdebat.
            Suatu saat, pembicaraan yang sedang saya ikuti mengarah ke tema yang ini. Saya sudah siap-siap kabur dengan alasan mau pipis. Sebenarnya memang mau pipis beneran, kok. Hanya setelah pipis niatnya saya tidak akan kembali ke perbincangan itu kecuali topiknya diganti. Saya jadinya memang benar-benar pergi namun ada yang menyangkut dalam ingatan. Salah seorang teman ngobrol saya itu mengatakan kalau orang yang spiritual itu beda dengan orang yang religius, orang yang taat menjalani ajaran/aturan agamanya.
            Pemikiran ini tetap tinggal dalam kepala saya sampai saya membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ken Blanchard. Ken Blanchard adalah seorang penulis terkenal tentang manajemen dan kepemimpinan. Dalam buku ini, yang saya lupa judulnya apa, dituliskan tentang seorang yang tidak terlalu religius. Selama ini dia ke rumah ibadah secara rutin karena mengikuti kepercayaan suaminya. Apa yang dirasakannya ketika berada di rumah ibadah? Hampa. Ya, dia merasa hampa karena tidak bisa menghayatinya.
            Orang itu kemudian mengalami “pencerahan”. Ceritanya dia mengalami suatu masalah yang belum ada solusinya. Dia bahkan belum memikirkan solusinya sedikit pun. Tak lama kemudian, solusinya muncul sendiri tanpa dia usahakan sedikit pun. Saat itulah dia merasa sangat terharu dan memiliki penolong yang tidak kelihatan. Saat itulah dia mengakui dengan sepenuh hati kalau ada kuasa yang lebih tinggi darinya. Menurut dia, itu adalah bentuk spiritualitasnya, tanpa harus mengikuti tradisi agama tertentu. Bisa dikatakan dia adalah seorang yang agnostik.
            Orang itu memang selalu mengikuti pasangannya untuk kebaktian hari Minggu di gereja. Dia juga mengizinkan semua anaknya untuk belajar di kelas sekolah Minggu, yang artinya dia mengizinkan anak-anaknya belajar agama Kristen. Namun, dia sendiri tidak pernah merasakan kehadiran Tuhan, dan tidak pula merasa terhubung dengan sesuatu yang maha kuasa. Menurutnya, agama dan tradisi lebih banyak membuat masalah di dunia. Banyak sekali pertikaian bahkan peperangan yang mengatasnamakan agama sepanjang sejarah dunia ini.
            Membaca hal itu, saya jadi mencoba mengingat sejarah dunia. Memang banyak sekali pertikaian dan peperangan yang terjadi karena perbedaan agama. Itu bahkan terjadi di negeri ini yang mengaku penuh toleransi. Agama-agama yang berawal dari tempat yang sama yang paling banyak bertikai. Enggak usah disebutlah yang mana. Semua juga tahu dan bisa menebaknya dengan benar.
            Lama-lama, agama dan tradisinya memang jadi membatasi nilai-nilai luhur yang menjadi awal pembentukan kepercayaan itu. Saya tidak perlu membicarakan agama orang. Dalam agama saya sendiri, Kristen, banyak sekali aliran dan ajarannya. Masing-masing (tentu saja) merasa ajarannya yang paling benar. Cukup banyak orang yang tergoda untuk menyalahkan aliran atau ajaran lain yang berbeda, dan itu menjadi hal biasa. Saya juga pernah melakukannya. Yang paling parah, para pemimpinnnya pun sering berpendapat demikian. Pendapat salah itu bahkan bisa dikatakan fitnah. Tentu saja kelakuan ini diikuti oleh para pengikutnya.
            Setelah bertahun-tahun hidup di dunia ini, spiritualitas saya sepertinya makin matang. Saya merasa lebih mengenal Tuhan dan lebih bisa bersyukur. Spiritualitas itu cukup bisa tersalurkan dalam agama yang saya anut beserta tradisinya. Itu juga sebabnya saya tetap setia beribadah di tempat yang itu-itu saja dan bertemu dengan orang yang itu-itu saja. Bagi saya, itu saja sudah cukup. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini