Ana

Senin, 21 Desember 2015

Rajin Versi Bapakku dan Bapaknya




            Pada suatu hari libur, saya bersantai di rumah. Santai bagi saya artinya bisa bangun tidur semaunya, dan tidak perlu cepat-cepat mandi. Santai adalah melakukan apa yang kita suka tanpa ada yang mengatur. Saya suka bersantai dengan membaca buku.
            Hari itu, membaca sangat banyak. Saya membaca 3 buah buku. Dua buku adalah buku anak-anak yang bergambar. Satu bukunya adalah buku yang “serius”, tentang manajemen diri. Dengan membaca, pikiran saya menjadi segar. Saya kemudian melanjutkan membaca buku fiksi yang cukup tebal.
            Menghabiskan hari libur dengan membaca buku sudah lama saya lakukan, rasanya sejak masih SD. Saya memang sudah suka membaca sejak kecil dulu. Saya ingat, dulu pernah punya teman yang ingin anaknya seperti saya, menghabiskan waktunya dengan membaca buku, bukan hanya bermain sepeda. Menurut bapak itu, saya adalah anak yang rajin.
            Rajin ternyata memiliki pengertian yang berbeda. Menurut bapak itu, saya adalah anak yang rajin. Menurut bapak saya sendiri, saya adalah anak perempuan yang pemalas. Itu karena saya tidak suka masuk ke dapur. Saya juga tidak suka merapikan dan membersihkan rumah. Intinya saya tidak suka melakukan pekerjaan yang menjadi “takdir” perempuan pada umumnya.
            Dengan berjalannya waktu, saya makin rajin membaca namun saya tetap tidak suka berurusan dengan urusan domestik, pekerjaan rumah tangga. Saya harus bersyukur karena ada Mbak Pon, asisten rumah tangga yang membantu mengurusi urusan rumah dan dapur selama ini.
            Saat bertumbuh dewasa, saya tidak terlalu peduli dengan pendapat orang tentang rajin atau tidaknya saya, termasuk juga pendapat Papah. Papah pun sepertinya sudah bisa menerima kalau saya memang lebih suka menghabiskan hari libur saya dengan membaca, menulis, atau melukis, bukan memasak atau membuat kue. Saya justru menjadi rajin (versi bapak saya) karena kemauan saya sendiri. Hmmm… Lebih tepatnya karena kebutuhan, sih.
            Beberapa waktu yang lalu, saya pernah tinggal di rumah kos. Di sini, semuanya harus saya lakukan sendiri, mulai merapikan dan membersihkan kamar, sampai memasak. Memasak sebenarnya bukanlah hal yang wajib saya lakukan. Makanan bisa dibeli di sekitar rumah kos, namun ada kalanya makanan di sekitar rumah sangat membosankan. Memasak adalah pilihan menarik untuk mendapatkan makanan yang sesuai selera.
            Dari situlah awalnya saya mencoba beberapa masakan. Masakan saya ini kadang-kadang tidak jelas namanya karena saya karang-karang sendiri. Yang jelas dimasak dalam bentuk sop, tumis, goreng, atau rebus. Masakan itu terinspirasi dari sesuatu yang pernah saya makan sebelumnya. O ya, acara masak-memasak di TV juga sering begitu, lho. Terinspirasi dari sesuatu, kemudian mencoba membuatnya menjadi masakan baru.
            Bisa dikatakan, sekarang saya menjadi anak perempuan yang lebih rajin. Rajin duduk membaca (sambil selonjoran), dan juga rajin mengerjakan pekerjaan domestik, walaupun dilakukan dengan agak terpaksa. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini