Ana

Senin, 28 Desember 2015

Natalan Seperti Lebaran (?)




            Ucapan selamat natal saya terima dari beberapa teman yang berbeda agama. Kali ini ucapan itu terasa sedikit berbeda karena adanya seruan untuk mengharamkan ucapan selamat natal. Hmmm… Saya ada menuliskan tentang ini di tulisan lain.
            Setelah memberikan ucapan, kami pun ngobrol tentang makanan. Makanan memang selalu menjadi bagian dalam setiap hari raya di negeri ini. Saya pun bercerita tentang tradisi makanan enak di keluarga kami, mulai dari kue-kue kering, sampai menu utamanya, rawon.
            “Kaya Lebaran gitu, deh,” kata saya menutup penjelasan tentang makanan.
            “Pake salaman maaf-maafan juga?” tanya seorang teman.
            “Hmmm,” gumam saya sambil mengangguk.
            Setelah itu, kami tidak membicarakannya lagi. Saya juga tidak menjawabnya karena saya tidak bisa menjawabnya. Memang ada juga saatnya saling bermaafan di saat Natal, namun itu bukanlah tradisinya. Kami, yang diajari untuk berdoa Bapa Kami, meminta ampun kepada Tuhan setiap kali berdoa. Pada saat meminta ampun kepada Tuhan, kami juga harus mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Kalau ajaran itu benar-benar dilakukan, artinya mengampuni dan memaafkan itu dilakukan setiap kali berdoa, bukan di saat Natal saja. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini