Ana

Jumat, 04 Desember 2015

Maling Dalam Gereja




            Hari Minggu, 29 November 2015 yang lalu, GKI Kwitang agak terguncang. Bukan terguncang karena gempa, tetapi karena pencurian di dalam gereja. Ya benar, di dalam gedung gereja.
            Pencuri itu mencuri tas ransel teman saya dengan isi-isinya. Tidak hanya itu, dia juga mencuri sepeda motor teman saya yang kuncinya ada di dalam tas ransel itu. Pencurian ini dilakukan saat kebaktian sudah selesai. Tas yang dicuri ada di tempat duduk gereja, di barisan paling depan.
            Pencurian ini mengundang banyak reaksi dari banyak orang, termasuk saya sendiri. Saya dan teman-teman menyatakan keprihatinan. Kasus ini pun segera ditangani oleh polisi tak lama setelah dilaporkan oleh petugas keamanan. Beberapa orang petugas polisi masih berkeliaran di lingkungan gereja ketika saya tiba di gereja sore itu.
            Ada banyak pendapat dan usulan mengenai peristiwa ini. Saya menyarankan pada teman-teman untuk lebih waspada. Waspada bukan berarti curiga pada orang. Sebenarnya tanpa perlu adanya peristiwa ini pun, orang sudah seharusnya waspada. Waspada dan berjaga-jaga adalah cara hidup orang Kristen, karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan datang. Sok alkitabiah hehehe….
            Tak lama setelah pencurian itu terjadi, beredar foto yang berasal dari CCTV. Foto itu menunjukkan bagian dalam gereja dengan fokus pada seorang laki-laki berpakaian kaos dan sendal jepit. Orang berkaos dan bersendal jepit itulah yang dicurigai sebagai pencuri tas. Kaos dan sendal jepit bukanlah kostum yang umum digunakan oleh orang-orang yang datang ke gereja pada hari Minggu.
            Saya sebetulnya sangat menyayangkan beredarnya foto ini. Lebih tepatnya foto 1 frame penuh seperti apa yang ditampilkan oleh kamera yang terpasang. Foto ini, buat orang yang berniat baik, bisa jadi sebagai pengingat untuk bertambah waspada. Lain halnya bila niatnya memang tidak baik. Foto ini menunjukkan kelemahan yang bisa dijadikan peluang. Foto ini menunjukkan bagian mana saja yang tidak terpantau oleh kamera, blank spot.
            Untuk foto sang “pencuri”, saya setuju saya bila disebarkan supaya orang waspada. Nah, di foto yang cuma 1 itu sebenarnya tidak ada bukti kalau orang itu bersalah. Saat itu dia sedang berdiri menghadap ke depan. Tasnya yang menjadi target pencurian tergeletak di kursi panjang. Pencurian belum terjadi. Saat itu, statusnya adalah calon pencuri, belum pencuri.
            Ribut dan marah tidak menyelesaikan masalah. Itu sebabnya saya tetap “keep calm” ketika berhadapan dengan orang-orang yang menghadapi pencurian ini dengan emosi tinggi. Saya berharap semoga pencurinya ditemukan dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saya juga berharap teman saya yang kehilangan mendapatkan pengganti yang hilang. Atau paling tidak mendapatkan pelajaran yang berharga untuk kehidupan mereka kelak. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini