Ana

Kamis, 31 Desember 2015

Kebijakan 1 Anak di Tiongkok Dihapuskan




            Sudah sejak tahun 1970-an di Tiongkok diberlakukan kebijakan 1 anak dalam 1 keluarga. Kebijakan itu diambil pemerintah karena banyaknya penduduk negeri ini. Itu baru yang menjadi warga negaranya, yang tinggal di Tiongkok. Kalau dihitung dengan orang-orang keturunan Tionghoa di seluruh dunia, jumlahnya akan menjadi sangat banyak.
            Kebijakan 1 anak 1 keluarga ini membawa dampak sampingan, terutama pada anak-anak perempuan. Menurut budaya Tiongkok, anak laki-laki memang bernilai lebih dibandingkan dengan anak perempuan. Anak laki-laki adalah pembawa nama keluarga. Tak heran kalau hampir setiap keluarga di Tiongkok mengharapkan anak laki-lakilah yang akan mereka miliki. Harapan itu menjadi sangat besar karena kebijakan 1 anak 1 keluarga itu.
            O ya, saya menuliskan Tiongkok, bukan Cina atau China. Bukan berarti itu sesuatu yang berbeda. Maksudnya sih sama aja. Tiongkok adalah penyebutan resmi di negeri kita ini. Saya pernah membacanya. Seorang teman saya juga pernah menuliskannya di media anak tempat kami numpang berkarya.
            Dalam masa-masa pertumbuhan saya, saya dibuat berkali-kali bersyukur karena tidak dilahirkan di Tiongkok. Sebagai anak perempuan dalam keluarga, memang ada sedikit pembedaan oleh orang tua bila dibandingkan dengan apa yang diberikan kepada kakak laki-laki saya. Namun, saya masih tetap terpelihara dan mendapatkan fasilitas yang cukup sampai tumbuh dewasa. Bayangkan kalau saya lahir di Tiongkok, mungkin saya tidak akan pernah sekolah atau malah menjadi penghuni panti asuhan.
            Kebijakan 1 anak 1 keluarga itu benar-benar dijalankan di Negeri Tirai Bambu itu. Semua orang kabarnya harus menaati kebijakan ini. Tidak ada orang penting, orang kaya, ataupun kerabatnya orang penting dan orang kaya yang bisa menentangnya. Kalau sampai kejadian sebuah keluarga memiliki lebih dari 1 anak, maka akan kena denda atau bayinya akan diaborsi paksa. Hiii….
            Ada juga yang kabarnya sengaja membiarkan anak perempuannya tidak terpelihara sampai meninggal. Dengan demikian mereka memiliki kesempatan untuk memiliki anak baru. Tentu saja yang diharapkan anak yang akan lahir itu adalah laki-laki. Entah disengaja atau tidak, hampir di seluruh negeri ini kebanyakan keluarga memiliki anak laki-laki. Jumlah anak laki-laki jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.
            Kebanyakan orang yang mampu, akan keluar dari tanah airnya. Mereka bermigrasi yang mencari penghidupan yang baru di tanah yang baru. Di tempat baru ini, pemerintah tidak membatasi jumlah anak. Mungkin malah mereka sendiri yang membatasinya karena berbagai alasan.
            Akhir tahun 2015 ini, pemerintah Tiongkok secara resmi mencabut kebijakan 1 keluarga 1 anak itu. Setelah 30 tahun lebih, anak-anak yang lahir dalam masa kebijakan itu telah tumbuh dewasa. Sudah waktunya untuk mendapatkan pasangan. Sayangnya saat ini jumlah perempuan yang sebaya tidak sama banyaknya. Jomplang. Jumlah penduduk laki-laki jauh lebih banyak. Angkatan kerja pun menyusut jumlahnya. Itulah yang membuat pemerintahnya mengubah kebijakan 1 anak 1 keluarga itu. Kali ini kebijakannya menjadi 2 anak 1 keluarga. Hampir-hampir mirip dengan program KB yang ada di Indonesia. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini