Ana

Minggu, 27 Desember 2015

Dirjen Perhubungan Darat Mengundurkan Diri




            Ada berita yang mengejutkan di akhir tahun 2015 ini, berita tentang mundurnya seorang pejabat. Dirjen Perhubungan Darat menyatakan mengundurkan diri. Bapak Djoko Sasono merasa dirinya tidak mampu mengatasi kemacetan panjang yang terjadi pada saat libur panjang di akhir tahun ini. Kemacetan itu mulai terjadi sejak tanggal 24 Desember 2015.

            Seperti biasanya yang terjadi di Indonesia, setiap langkah para pejabat selalu mengundang pro dan kontra. Ada yang memandang baik langkah yang diambil oleh Pak Dirjen, ada juga yang mencelanya. Saya termasuk dalam keduanya. Saya pro sekaligus kontra. Bukan berarti saya tidak punya sikap, lo. Ini lebih karena memandang masalah minimal dari 2 sudut pandang.

            Saya salut dengan keputusan mundurnya Pak Dirjen ini. Saya cukup terharu ketika dia meminta maaf karena tidak berhasil mengatasi masalah kemacetan, masalah yang sebenarnya tidak hanya milik Dirjen Perhubungan Darat. Masalah kemacetan adalah masalah kompleks di mana banyak sekali pihak yang terlibat. Selain Departemen Perhubungan, masih ada 1 lembaga lagi yang bertanggung jawab atas perhubungan darat, POLRI. Tentu saja, masalah kemacetan juga menjadi masalah masyarakat sebagai pengguna jalan.

            Dalam posisinya itu, sebenarnya bisa saja dia menyalahkan pihak lainnya. Wong memang banyak pihak lain yang bisa disalahkan, kok. Pihak yang memberikan izin kendaraan dan pabriknya juga dapat menjadi terdakwa baru bila sampai kasus ini dibawa ke pengadilan. Pak Djoko malah emngambil seluruh tanggung jawabnya dan meletakkan jabatannya. Wow! Agak-agak beda, yah, dengan mantan ketua DPR yang nyaris tak punya rasa bersalah itu.

            Setelah rasa haru lewat, saya jadi agak “geram”. Saya tidak setuju dengan pengunduran dirinya di saat masalah belum lagi selesai. Bahkan mungkin belum lagi dipikirkan bagaimana cara menyelesaikannya. Pengunduran Pak Djoko dapat dikatakan sebagai bukti bahwa dia sebenarnya orang yang ingin bertanggung jawab. Pengunduran dirinya adalah bukti bahwa ia bukan orang yang mati-matian mencari peluang untuk mempertahankan jabatannya. Justru sebenarnya dialah orang yang tepat berada di tempat yang masih banyak masalah itu.

            Sebenarnya, saya juga tidak tahu hasil kerjanya selama ini. Menurut atasannya, Menteri Perhubungan, Pak Dirjen ini mendapat nilai 7 dalam skala 10. Nilai itu sebenarnya sudah baik, kok. Kalau damap pelajaran sekolah, nilai 7 sudah bisa dinyatakan lulus. Nilainya enggak jelek-jelek amat kalau dilihat banyaknya faktor eksternal lainnya.

            Keputusan Pak Djoko, menurut pengakuannya, adalah keputusan pribadinya sendiri, tanpa tekanan dari pihak lain. Yeah, akhir kata, saya hanya bisa mendoakan semoga Pak Djoko dapat menikmati kehidupannya setelah meletakkan jabatannya itu. Semoga dia selalu sehat dan penuh berkat sampai akhir hayat. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini