Ana

Minggu, 06 Desember 2015

Bunga Lili Hujan yang Mendadak Terkenal




            Bunga lili hujan mendadak terkenal di akhir bulan November 2015 yang lalu. Bunga ini, yang konon kabarnya hanya berbunga di musim hujan, menjadi trending topic di media sosial. Pasalnya, ada seorang remaja yang mengunggah fotonya sedang berada di tempat yang dipenuhi bunga berwarna oranye ini. Foto itu kemudian menyebar menjadi viral, dan terkenal.
            Penampakan kebun bunga itu dari jauh mirip seperti kebun bunga tulip di Belanda. Kenyataan kalau tempat itu berlokasi di Patuk, Yogyakarta membuat berita ini makin menarik. Bayangkan saja, daerah Gunung Kidul yang biasanya tandus itu mendadak berbunga-bunga. Apalagi bunga ini hanya tumbuh beberapa minggu di awal musim hujan. Wah, makin banyak lagi orang yang mau datang supaya sempat melihat bunga-bunga itu secara langsung.
            Beritanya yang menyebar luas membuat banyak orang mendatangi tempat ini. Tujuannya untuk melihat “keajaiban” ini dan berfoto. Kedatangan mereka ternyata menimbulkan efek samping. Bunga yang tumbuh di kebun itu banyak yang terinjak-injak dan rusak. Hanya dalam hitungan hari, kebun bunga yang indah itu rusak.
            Saya turut prihatin dengan kerusakan kebun bunga itu. Terbayang bagaimana kecewanya sang pemilik kebun yang sudah merawat kebunnya. Kekecewaan itu makin terasa karena bunga ini hanya berbunga setahun sekali, saat musim hujan. Yang lebih memprihatinkan karena sikap anak-anak muda yang merusak itu. Ada “bukti” bahwa beberapa orang dari mereka memang sengaja merusaknya. Ada yang berjongkok di tengah-tengah kumpulan bunga, yang paling parah berbaring sambil merentangkan tangan.
            Kelakuan anak-anak ABG itu menimbulkan banyak reaksi di media sosial. Beberapa teman saya ada yang menyebarkan foto para perusak itu. Ada juga yang menyebarkan update status dari perusak yang tidak merasa dirinya bersalah karena sudah membayar 5000. Menurutnya wajar saja bila ada bunga yang rusak atau terinjak. Teman-teman yang share di medsos itu juga mengungkapkan kejengkelannya.
Saya sih sebenarnya juga jengkel. Pingin juga rasanya menyeebarkan foto-foto mereka sambil memaki-maki, namun akhirnya saya mengurungkan niat itu. Tindakan seperti itu hanya menyebarkan sesuatu yang tidak baik, dan setelah dihitung-hitung, tidak ada gunanya.
Bunga lili hujan adalah salah satu tanaman yang saya tanam waktu kecil dulu. Sepertinya saat itu saya duduk di kelas 3 atau 4 gitu, deh. Saya baru teringat lagi pada bunga ini ketika melihat beritanya yang menjadi viral itu. Bunganya persis seperti yang saya tanam dulu. Pohonnya berumbi dengan daun menjulur. Saya dulu menanamnya di kaleng bekas permen Fox rasa mint.
Walaupun tanaman saya ini jarang berbunga, saya tetap memeliharanya sepanjang tahun. Saya ingat bagaimaan senangnya saya ketika melihat tanaman saya itu akhirnya berbunga. Girang sekali rasanya. Selama ini, bunga itu menjadi semacam tanaman rumput saja sementara tanaman lain di sekitarnya berbunga mewangi setiap hari. Pot tanaman saya ini letaknya di dekat tanaman melati Mamah. Bunga-bunga melati itu selalu ada yang mekar hampir setiap hari.
Selama memeliharanya, saya membayangkan kalau tanaman saya ini akan berbunga putih. Di halaman memang ada tanaman sejenis, yang daunnya lebih lebar. Tanaman ini bunganya putih. Saya menyebutnya dengan nama bakung putih besar. Tanaman saya, kalau sampai berbunga, akan saya sebut dengan bakung putih kecil. Entah itu sebenarnya bunga bakung atau bukan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Saat mekar, tanaman saya itu bunganya oranye. Mirip sekali dengan bunga-bunga yang mekar di Patuk, Gunung Kidul. Lili hujan.
Ketika membaca berita tentang lili hujan di Patuk itu, saya baru tahu kalau lili hujan itu berbunga hanya setahun sekali, di awal musim hujan. Itu sebabnya bunga ini disebut lili hujan. Pantas saja dulu rasanya penantian mekarnya bunga tanaman saya itu terasa lamaaa sekaliiii. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini