Ana

Rabu, 18 November 2015

Pejabat Asbun Itu Lagi




            Saya memang jarang mendengarkan orang berbicara di radio, entah itu penyiarnya ataupun narasumbernya. Alasannya karena saya lebih memilih mendengarkan musik yang menghibur daripada suara lain yang kurang enak didengar.
            Suatu pagi, saya mendengar wawancara petinggi lembaga legislatif negeri ini. Sebelumnya, saya pernah pula melakukan kritik kepada orang ini karena apa yang dia ucapkan benar-benar enggak nyambung dengan apa yang ditanyakan. Kali ini, sebenarnya saya sangat tergoda untuk segera mengganti saluran radio, namun akhirnya saya tunda sejenak.
            Penundaan itu sebenarnya bukan tanpa sengaja. Tangan saya sedang sibuk dengan setir mobil. Saya harus mengendalikan di Mocil di tengah lalu lintas yang padat. Kalau tangan saya bebas merdeka, tentu saya akan langsung mengganti saluran radio begitu mendengar kalimat pertama. Hmmm… Mungkin juga baru kata pertama hehehe… Maka jadilah saya harus mendengar celotehan si bapak pejabat.
            Kali ini omongannya sekali lagi enggak mutu. Sepertinya dia kurang menggunakan pengetahuan (dan mungkin otaknya) dengan baik. Seperti tong kosong. Nyaring bunyinya tetapi kosong isinya. Saya jadi kehilangan respek pada anggota dewan yang (seharusnya) terhormat itu. Dengan segera saya mengganti saluran radio.
            Kehilangan respek pada orang yang seharusnya dihormati itu agak mengganggu bagi saya, apalagi pagi itu saya berniat menulis cerita untuk anak-anak. Saya selalu mengusahakan pikiran saya dalam prasangka yang baik ketika sedang menulis cerita untuk anak-anak. Dengan demikian, nilai-nilai baiklah yang akan keluar dari pikiran saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menunda dulu membuat tulisan itu. Lebih tepatnya menunda untuk menyelesaikannya, sih. Idenya sudah ada tetapi masih ditulis serampangan tak beraturan dalam catatan kecil. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini