Ana

Selasa, 17 November 2015

Paris Impian




            Pada akhir minggu di pertengahan bulan November 2015 ini kota Paris mendadak lebih tenar dari biasanya. Kali ini Paris bukan terkenal karena fashion show-nya, tetapi karena tragedi kemanusiaan yang terjadi di sana. Tragedi apa? Hmmm…. Cari di media lain aja yah beritanya. Saya enggak mau menuliskannya di sini.
            Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi Paris, dan belum kesampaian sampai sekarang. Niat mengunjungi Paris itu sangat besar ketika saya kuliah, terutama ketika saya berhasil lulus dalam mata kuliah struktur baja. Setelah mengulang 2 kali, akhirnya saya bisa lulus dengan nilai A. Itu adalah suatu prestasi yang luar biasa. Kabarnya, dosen kami yang berwajah dingin seperti baja itu hampir tidak pernah memberikan nilai A. Sejak saat itulah saya bercita-cita mengunjungi struktur baja paling terkenal di dunia Menara Eiffel, di Paris. O iya, saya juga tahu alasan ini tidak romantis. Supaya sedikit romantis, saya juga ingin ke Paris bersama pasangan. Yeah, semoga saja dia enggak kecewa karena tujuan saya sebenarnya ingin melihat struktur baja yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia itu.
            Seiring dengan berjalannya waktu, keinginan ke Paris agak menghilang dari prioritas. Masih banyak impian lainnya yang bisa saya raih dengan kondisi yang ada sekarang. Saya juga agak disibukkan dengan pekerjaan dan beberapa pelayanan di gereja. Kalaupun memikirkan traveling, saya lebih memilih yang biayanya terjangkau dan dapat dinikmati tanpa harus memikirkan tagihan yang membengkak. Perancis hanya saya kunjungi dari internet saja.
            Paris baru muncul kembali akhir-akhir ini dalam pikiran saya. Itu karena pemberitaan super gencar di berbagai media. Selain itu juga karena saya mendapat tugas menulis tentang suatu daerah yang indah di Perancis, namanya Dordogne. Mencari informasi tentang Perancis tidak mungkin tidak sampai ke Paris. Paris juga menjadi perbincangan saya dengan Mamah akhir-akhir ini.
            Mamah sudah pernah ke Paris. Mamah dan Papah sudah pernah berpose di depan Menara Eiffel seperti pasangan-pasangan serasi lainnya. Mereka mampir ke kota ini hanya sebentar. Tujuan utama Mamah saat itu ke Lourdes.
            Sebenarnya, Mamah ingin sekali berkeliling kota. Dia memang suka melihat-lihat kehidupan di tempat yang didatanginya. Kesukaan itu menurun ke semua anaknya. Selain melihat-lihat, kami juga suka mencoba makanannya. Ketika berkunjung ke Paris, Mamah memang diajak berkeliling, namun dia belum puas. Mamah tidak berani jalan-jalan sendiri karena keterbatasan waktu, bahasa, dan uang. Mamah agak menyesali kunjungannya ke ibu kota Perancis itu.
            “Ya, entar kalo ada rejeki kita ke Paris,” kata saya menghiburnya.
            Dalam hati saya berdoa semoga saja Mamah dan Papah masih punya kesempatan untuk menginjakkan kaki di Paris lagi. Saat itu Paris dalam keadaan yang aman dan damai. Mereka akan menjadi pasangan yang romantis, enggak hanya pura-pura romantis karena mau difoto di Paris. Semoga pula saya diizinkan menjadi saluran berkat untuk membawa mereka berdua jalan-jalan ke Paris dan tempat-tempat lain yang mereka impikan. Amin. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini