Ana

Senin, 09 November 2015

Mati Listrik 4 Minggu (?)




            Angin kencang yang melanda Palangkaraya merobohkan banyak tiang listrik. Akibatnya, banyak daerah yang pasokan listriknya terganggu. Banyak daerah yang listriknya padam selama berhari-hari. Rumah kami di Palangkaraya termasuk yang listriknya padam.
            Buat Papah, yang tinggal di sana, mati listrik selama 1-2 hari tidak terlalu menjadi masalah. Hidup Papah tidak terlalu tergantung pada listrik. Dia kurang suka menonton TV, tidak suka tidur pake AC, dan sudah sejak lama memiliki semangat hemat listrik. Dia hanya menganggapnya masalah ketika harus men-charge HP. Masalah ini dapat segera diatasi dengan numpang di rumah orang yang aliran listriknya tidak padam. Beda halnya dengan para kenalan saya yang hidupnya tergantung pada gadget.
            Angin kencang disertai hujan lebat itu, yang awalnya disyukuri, tak lama kemudian berubah menjadi sesuatu yang layak dikeluhkan. Ada juga yang mengutuknya. Semua itu terekam dalam media sosial bernama Facebook. Saya sampai malas membacanya. Apabila tidak sengaja terbaca, buru-buru saya cari “hide post”. Umpetin aja postigan kaya gitu. Saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk lebih banyak berlatih bersyukur. Membaca keluhan dan celaan semacam itu, kok, rasanya agak mengganggu latihan itu.
            Saya memang tidak merasakannya langsung. Tetapi kalau dibandingkan dengan keadaan sebelumnya di mana bernapas pun susah, keadaan sekarang jauh lebih baik. Kita mungkin merasa tidak bisa hidup tanpa listrik tetapi kita lebih tidak bisa lagi hidup tanpa oksigen. Hujan besar itu telah menghalau asap yang mengotori oksigen. Menurut pandangan saya, itu adalah sesuatu yang layak disyukuri.
            Hidup tanpa listrik dan gadget adalah soal kebiasaan yang membentuk gaya hidup kita. Sejarah membuktikan, manusia masih bisa hidup tanpa listrik, namun sudah pasti kehilangan nyawa bila tidak ada oksigen. Udara bersih yang diberikan Tuhan bukannya sudah cukup?
            Saya akui, listrik sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia saat ini. Hampir sepanjang hari manusia kota, seperti saya ini, tergantung pada listrik. Saat menuliskan catatan ini, saya juga menggunakan listrik. Tentunya tidak nyaman bila mendadak harus hidup tanpa listrik. Mungkin karena tidak merasakan, saya bisa mencela para pengeluh di media sosial itu.
            Dalam status Facebook salah satu teman saya, disebutkan kalau pemadaman listrik akan berlanjut sampai minggu terakhir di bulan November 2015. Perlu waktu 4 minggu untuk memperbaiki menara dan tiang yang roboh. Wuih, lama juga, ya! Semoga keluarga dan teman-teman yang ada di sana bisa bertahan dan tetap bisa bersyukur. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini