Ana

Kamis, 12 November 2015

Gusti Nurul yang Mengagumkan




            Ketika mengunjungi Museum Ulen Sentalu, ada 1 tokoh yang dikisahkan berkali-kali oleh sang pemandu wisata. Dia adalah seorang putri dari Keraton Mangkunegaran. Namanya Gusti Nurul. Gusti Nurul sepertinya mendapatkan tempat tersendiri di museum ini. Gusti Nurul juga mendapatkan tempat tersendiri bagi saya.

            Gusti Nurul adalah putri dari Mangkunegara VII dan permaisurinya, Gusti Ratu Timur. Sebagai putri raja, Gusti Nurul tumbuh di keraton. Gusti Nurul tumbuh menjadi putri yang cantik dan cerdas. Gusti Nurul juga tangkas berolahraga, terutama berkuda. Yang membuat saya kagum bukan itu karena ada banyak sekali putri raja yang cantik dan cerdas di sepanjang sejarah dunia ini. Saya kagum karena keteguhan Gusti Nurul memegang prinsip.

            Gusti Nurul berprinsip tidak mau menikah dengan lelaki yang sudah beristri. Ia menolak poligami. Prinsip semacam ini, di saat ini, adalah prinsip yang biasa saja. Sejujurnya, mana ada sih perempuan yang mau dimadu? Namun di saat Gusti Nurul tumbuh sebagai remaja, itu bukanlah suatu yang umum. Poligami adalah sesuatu yang umum di lingkungan keraton.

Kecantikannya menarik banyak pria-pria berjabatan penting melamarnya. Presiden pertama kita yang memang penggemar wanita cantik termasuk dalam deretan pria yang terpesona olehnya. Sutan Sjahrir juga pernah melamarnya. Tidak ada satu pun yang diterimanya.

            Akibat memegang teguh prinsipnya, Gusti Nurul bisa dikatakan terlambat menikah. Dia menikah ketika usianya sudah menjelang 30 tahun. Sampai sekarang saja menikah pada usia menjelang 30 bisa dikatakan terlambat (pengalaman pribadi hehehe), apalagi untuk ukuran putri keraton saat itu. Gusti Nurul menikah dengan seorang perwira angkatan darat yang konon kabarnya karirnya biasa saja. Setelah menikah, Gusti Nurul tinggal di Bandung bersama dengan keluarga barunya.

            Walaupun memegang prinsip yang berbeda dengan orang-orang di zamannya, Gusti Nurul tetap menjunjung tinggi budaya Jawa. Budaya Jawa memang mengakar dalam kehidupannya. Ayahnya adalah bangsawan Surakarta, ibunya adalah bangsawan Yogyakarta. Gusti Nurul tetap bersanggul khas jawa di tengah aktivitasnya. Ia juga pandai menari. Gusti Nurul pernah diutus ayahnya untuk menari di depan Ratu Wilhelmina, ratu di Belanda saat itu. Tarian ini biasanya diiringi gamelan. Uniknya, saat itu Gusti Nurul menari diiringi siaran radio.

            Pada hari pahlawan kemarin, tanggal 10 November 2015, Gusti Nurul wafat. Gusti Nurul wafat dalam usia 94 tahun. Ia meninggalkan 7 anak dan 14 cucu. Banyak yang merasa kehilangan karena kepergiannya ini. Saya pun merasa kehilangan, padahal kenal pun enggak. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini