Ana

Selasa, 05 Mei 2015

Saya Cuma Gendut




            Suatu hari saya berkendara dengan menggunakan Transjakarta. Saya memilih untuk berada di bagian depan, bagian khusus wanita. Kali itu saya sangat beruntung karena mendapatkan tempat duduk. Itu adalah suatu yang sangat saya syukuri karena sebelumnya harus menunggu cukup lama di halte.

            Waktu itu, hanya ada 1 orang lain yang berdiri. Semua orang yang masuk di halte tempat saya menunggu itu mendapatkan tempat duduk. Satu-satunya perempuan yang sedang berdiri itu terlihat menyandar di tiang. Perempuan yang badannya agak gemuk ini juga membawa tas yang terlihat cukup berat.

            “Mbak hamil, ya? ini duduk di sini aja,” kata seorang perempuan yang duduknya tak jauh dari tiang tempat di mbak bersandar.

            “Hmmm… Enggak, kok. Saya cuma gendut,” jawab perempuan bertubuh besar itu.

            Saya, yang mendengarkan percakapan itu dengan jelas, habis-habisan menahan tawa. Rasanya pingin ngakak. Lucu banget jawaban mbaknya. Namun, dari wajahnya sepertinya dia tidak berniat untuk melucu.

            “Ya udah, gak papa. Duduk di sini aja,” kata perempuan yang tadinya menawarkan tempat duduknya itu. Perempuan muda yang langsing itu kemudian berdiri di dekat tempat duduk itu.

            Mbak yang mengaku perutnya gendut akhirnya duduk dengan wajah lega. Saya, yang duduk di seberangnya, melemparkan senyuman. Senyuman yang sebenarnya adalah tawa yang tertahan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini