Ana

Minggu, 10 Mei 2015

Pengamen di Jalan Sabang




            Suatu malam saya makan di Jalan Sabang bersama teman-teman. Kami memilih makanan sate dan nasi goreng, makanan khas pinggir jalan di negeri ini. Tempat makannya juga di pinggir jalan, di bawah tenda.
            Kedua jenis makanan itu biasanya baru mulai disiapkan ketika ada yang memesan. Sate dan nasi goreng memang enaknya disantap ketika masih panas. Kami harus menunggu beberapa saat lamanya sampai makanan itu tersaji di meja kami.
            Saat menunggu pesanan kami itu, ada pengamen yang datang untuk mencari nafkah. Yang datang tidak hanya 1 atau 2 orang, lo. Jumlahnya banyak sekali sampai-sampai kami berhenti menghitung. Para pengamen itu baru pergi ketika sudah ada yang memberikan uang kecil.
            Pada beberapa pengamen yang awal, ada beberapa orang yang memberikan uang kecil di meja kami. Lama-lama, uang kecil yang kami miliki makin berkurang. Akhirnya, hanya 1 koin atau selembar uang yang diberikan kepada masing-masing pengamen. Kalau ngamennya lebih dari 1 orang, ya ngasihnya 1 aja.
            Akhirnya, kami mengumpulkan setumpuk uang kecil di meja. Uang-uang itu akan digunakan untuk “mengusir” pengamen. Dari tumpukan uang kecil di saat memesan makanan, lama-lama menjadi berkurang. Masih tersisa 1 koin uang kecil yang teakhir ketika kami membayar pesanan kami. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini