Ana

Selasa, 19 Mei 2015

Orang Utan dan Orang di Hutan




            Saya termasuk orang yang mendukung kenservasi orang utan. Primata asli Indonesia ini keberadaannya makin langka di Indonesia. Hanya ada 2 jenis orang utan di dunia ini, yaitu orang utan sumatra dan orang utan kalimantan. Dari namanya sudah bisa diketahui kalau kedua jenis orang utan itu berasal dari Sumatra dan Kalimantan.
            “Kedekatan” saya dengan orang utan karena saya berasal dari Kalimantan. Di pulau yang hutannya pernah sangat luas ini, tinggallah orang utan. Di pulau ini bahkan ada tempat khusus untuk orang utan bernama Tanjung Puting. Salah satu impian saya adalah berkunjung ke tempat ini. Orang utan juga menjadi bagian masa kecil saya.
Dulu, orang tua saya pernah memelihara orang utan untuk sementara. Orang utan yang kami pelihara ini adalah “barang selundupan” yang ketahuan. Orang utan itu kami beri nama Pongi. Orang utan ini kemudian dipindahkan ke tempat rehabilitasi untuk kemudian dilepasliarkan.
Kedekatan saya dengan orang utan ini membuat saya selalu memberi perhatian pada berita orang utan. Saya juga mendukung beberapa gerakan konservasi orang utan. Dukungan itu sering saya tunjukkan dengan share info di media sosial yang saya miliki.
Terlalu sering memberikan dukungan pada orang utan itu membuat saya mendapat kritik dari seorang kenalan saya. Katanya saya lebih peduli dengan orang utan daripada orang-orang Kalimantan yang di hutan. Kritikan itu sebenarnya juga ditujukan pada orang-orang di luar negeri yang dengan rela memberikan sumbangan cukup besar untuk pelestarian orang utan namun tidak memberikan sama sekali untuk kesejahteraan manusia yang menghuni tanah yang sama dengan orang utan.
Baru akhir-akhir ini saya merasa tersentil untuk peduli pada orang-orang yang tinggal di hutan. Itu karena buku Sokola Rimba yang ditulis oleh Butet Manurung. Butet mengabdikan hidupnya untuk Orang Rimba di Sumatra. Orang-orang Rimba ini memiliki gaya hidup yang berbeda dengan kebanyakan orang seperti saya ini.
Setelah selesai membaca buku itu, saya rasa di Kalimantan juga ada orang-orang yang cara hidupnya seperti itu. Orang-orang yang menggantungkan kehidupannya pada hutan. Mungkin ada beberapa yang masih ada hubungan keluarga dengan saya. Selama ini, saya tidak pernah memikirkan mereka.
Beberapa kali juga saya dengan sengaja mencari dokumenter kehidupan orang-orang yang tinggal di hutan Kalimantan. Ada yang hidupnya nyaman karena dipelihara oleh alam. Ada juga yang hidupnya miskin, merana dan sakit-sakitan. Saya juga merana melihat wajah khas mereka yang juga terlihat mirip dengan wajah saya sendiri. Jangan-jangan kami masih bersaudara.
Saat ini, saya belum bisa berbuat banyak untuk orang-orang merana yang tinggal di pedalaman Kalimantan.  Keprihatian saya bisa dikatakan baru sebatas omdo. Omong doang. Belum ada karya nyata saya untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini