Ana

Senin, 04 Mei 2015

Dua Anak Kecil bermain Coklat dan Kismis




            Suatu malam, saya diundang makan malam di Restoran Marche. Makan malam ini adalah bentuk rasa syukur bertambahnya umru tante dan sepupu saya. Setiap pengunjung yang datang diberikan sebuah kartu yang akan mencatat makanan dan minuman yang kita catat. Kartu itu diberikan kepada petugas ketika kita memilih makanan yang akan kita santap.
            Makanan dan minuman di tempat ini dipilih sendiri, mulai dari makanan pembuka dan penutup. Saya pun berjalan-jalan untuk memilih makanan yang akan saya santap. Dalam perjalanan itu, saya bertemu dengan 2 orang anak kecil yang lucu. Dari wajah, keakraban dan juga ukuran tubuhnya, sudah bisa ditebak kalau 2 orang anak ini bersaudara.
Sang kakak, seorang anak laki-laki, usianya tidak lebih dari 5 tahun. Sang adik kira-kira 2 atau 3 tahun. Adiknya terlihat masih balita yang belum lama bisa berjalan. Kedua anak ini terlihat asyik di depan elmari pajang es krim. Awalnya, saya menduga mereka tertarik pada es krimnya. Hampir semua anak kecil memang suka es krim. Namun dugaan saya itu salah.
Kedua anak kecil itu rupanya tertarik pada topping es krimnya. Lebih tepatnya pada coklat cip dan kismis. Kedua topping ini diletakkan di mangkok yang ada di depan lemari pajang es krim. Kedua anak ini mengambil coklat dan kismis itu dengan menggunakan tangannya. Mereka juga mengobok-obok isi mangkok itu. Haiya…
Saya yang dari awal memang tertarik dengan apa yang dilakukan kedua anak itu, lantas bertanya.
“Ini kakak adik, ya?” tanya saya.
“Iya. Ini kakak. Ini adik,” kata sang kakak sambil menunjuk ke adiknya yang masih sibuk mengobok-obok mangkok.
“Kalian makan apa?” tanya saya lagi walaupun sudah melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.
“Makan coklat sama kismis,” jawab kedua anak lucu itu.
Saya pun mengangguk-angguk sambil mencuil pipi bocah-bocah lucu itu. Dalam hati saya bertanya, “Ini orang tuanya ke mana, ya? Masa anaknya dibiarkan mengobok-obok makanan gini?”
Kalau saya pikir-pikir, kelakuan kedua anak itu agak kelewatan. Coklat dan kismis itu adalah makanan yang akan disajikan kepada pelanggan lain. Tangan-tangan kecil kedua anak yang mengobok-oboknya itu membuat coklat dan kismis itu menjadi tidak higienis. Saya pun agak ilfil melihatnya.
Kedua anak itu tidak bisa disalahkan. Sebagai anak kecil, tentunya mereka tertarik pada apa yang membuat mereka senang. Tidak hanya anak kecil, sih. Manusia segala usia juga begitu. Saya juga mungkin akan melakukan “kenakalan” yang sama bila menjadi anak kecil. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini