Ana

Senin, 27 April 2015

Putu Bambu




            Saya sangat suka kue putu bambu. Kue ini adalah makanan kesukaan saya sejak kecil dulu. Kue ini dijajakan berkeliling. Ada yang memikulnya, ada juga yang bergerobak. Sebagai penanda ada kue ini mendekat adalah suara “Uuuuu” yang terdengar dari tempat memasaknya.
            Kue putu dimasak pada saat dipesan. Tentu saja adonannya sudah disiapkan sebelumnya. Secara garis besar, adonan kue putu terdiri dari 3 bagian yaitu tepung beras, gula merah dan kelapa parut. Kelapa parut tidak turut dimasak, tetapi ditaburkan di atasnya setelah masak.
 Cara memasaknya cukup unik. Adonan tepung beras dimasukkan ke dalam bambu, bagian tengahnya diberi gula merah, kemudian diletakkan di atas lubang yang mengeluarkan uap panas. Dalam beberapa menit, kue putu sudah masak dan bisa dinikmati. Pembuatan kue putu selalu menjadi tontonan menarik bagi saya. Baik ketika saya masih seorang bocah yang tinggal di kota kecil di Kalimantan, maupun ketika saya sudah dewasa dan menjadi penghuni ibukota negara. Bermain “membuat kue putu” adalah salah satu permainan favorit saya ketika kecil dulu.
            Ketika tinggal di Jakarta, saya sudah jarang memakan putu bambu. Di daerah tempat tinggal saya sudah tidak ada lagi yang menjualnya secara berkeliling. Kalaupun masih ada, bunyi “Uuuu”-nya tidak tertangkap oleh telinga saya. Saya sangat senang, riang dan girang ketika menemukan ada yang menjual putu bambu di Cikini. Tak lama kemudian, saya sudah menjadi pelanggan kue putu ini.
             Kue putu yang dijual di gerobak itu harganya Rp 2000 per buahnya. Ukurannya cukup besar kalau dibandingkan dengan kue-kue putu yang saya ingat sebelumnya. Kue putu bambu yang di gerobaknya bertuliskan “Putu Bambu Medan” ini disajikan dengan kelapa parut dan gula putih bila ada yang menginginkannya. Konon kabarnya, di Medan sana kue putu memang ditaburi dengan gula pasir. Kalau saya, mintanya tanpa gula pasir. Menurut saya gula merah yang ada di dalam kue putu sudah cukup. Lapi pula saya, kan, sudah manis. Tidak perlu pemanis tambahan lagi. Hehehe….
            Saya sering membeli 10 buah kue putu untuk dibawa pulang. Sebenarnya, saya tidak pernah menghabiskan semuanya. Kue-kue putu itu pasti saya bagikan ke orang lain. Saya paling banyak makan 3 buah. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kue putu ini ukurannya cukup besar. Saya berhenti makan bukan karena sudah eneg, tapi karena kekenyangan. Saya juga sering membeli kue ini ketika ada acara kumpul-kumpul. Rasanya senang kalau ada teman yang menemani menikmati kue putu.
            Selain emnjual kue putu, gerobak kue di Cikini itu juga menjual klepon, lupis dan putu mayang. Lupisnya enak juga. Saya kadang-kadang membelinya bersama dengan kue putu kesukaan saya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini