Ana

Sabtu, 07 Maret 2015

Sedih Mau Jual Rumah




            Selama hidup, saya sudah beberapa kali pindah rumah. Yang saya ingat, kami pernah tinggal di Sampit, Palangkaraya dan Jakarta. Orang tua dan adik saya bahkan pernah tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Rumah tempat tinggal saya saat ini, adalah rumah yang saya tinggali selama hampir 20 tahun. Alamat rumah ini adalah alamat di KTP saya yang pertama. Ketika KTP harus diganti, alamat rumah inilah yang menjadi alamat rumah saya (lagi).

            Orang tua kami, pemilik sah rumah yang saya tempati itu berniat untuk menjual rumah kami. Rumah kami yang cukup besar dan terletak di daerah yang cukup elit itu membuat biaya operasionalnya sangat tinggi. Rumah ini bukan aset, tetapi liability (bahasa Indonesianya apa ya?) Biaya itu terasa cukup berat bagi orang tua kami. Apalagi ditambah dengan biaya hidup mereka di Palangkaraya yang tidak murah.

            Terus terang saya sangat kecewa dan sedih ketika mendengar rumah itu akan dijual. Bagi saya, rumah itu tidak hanya sekedar bangunan. Rumah itu adalah tempat saya pulang. Saya, anak yang suka jalan-jalan itu, selalu pulang ke tempat ini.  It’s a home, not just a house. Rasanya patah hati juga mendengarnya.

            Saya sempat menawarkan diri untuk mengambil alih biaya operasional rumah ini supaya tetap dapat tinggal di situ. Penawaran itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya saat ini. Penghasilan tetap saya belum terlalu besar. Beralih pekerjaan di bidang yang baru masih di tahap awal. Gajinya enggak terlalu besar. Bisnis juga masih di langkah awal, belum terlalu menghasilkan. Saya harus menghemat habis-habisan kalau mau membiayai rumah sebesar itu. Namun, Mamah tetap berkeras untuk menjual rumah kami itu.

            Penerimaan yang diterima dari hasil penjualan rumah ini menurut orang tua kami akan dapat menyelesaikan beberapa masalah sekaligus. Kalau dipikir-pikir, memang benar juga, sih. Kalau rumah ini cepat terjual, orang tua kami akan mendapatkan dana segar beberapa miliar rupiah. Dana itu bisa digunakan untuk banyak hal, terutama untuk obat-obatan mereka yang ternyata tidak murah itu. Dana ini juga bisa untuk membiayai gaya hidup yang lebih baik dari yang sekarang.

            Saya masih belum bisa menerima dengan baik keputusan orang tua saya ini walaupun sudah berusaha keras. Saya berusaha tetap membantu dan memikirkan action plan apa saja yang harus dilakukan supaya keinginan orang tua saya ini dapat terwujud. Tetapi ketika bagian melakukannya, tetap saja ogah-ogahan, ada sesuatu yang mengganjal. Saya mengizinkan diri saya untuk menunda pekerjaan ini.

            Untuk menjual rumah, kita perlu tahu harga tanahnya, harga pasaran dan juga harga potensialnya. Untuk mendapatkan harga potensial, perlu usaha lebih lagi. Harga potensial biasanya tidak beredar di pasaran. Namanya juga potensial, belum kelihatan dan belum kejadian.

            Diam-diam saya berdoa supaya rumah ini tidak jadi dijual. Sebagai gantinya, kami akan tetap mendapatkan senilai uang yang diharapkan oleh orang tua kami. Saya juga berani-beraninya berdoa kalau sayalah yang akan menjadi saluran untuk mendapatkan berkat itu, entah bagaimana caranya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini