Ana

Selasa, 10 Februari 2015

Kisruh Kapolri




            Sampai awal bulan Februari 2015, Presiden RI tak kunjung melantik Kapolri. Calon Kapolri yang diusulkan oleh presiden dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Pernyataan sebagai tersangka ini “dibalas” oleh “Polri” dengan menangkap para petinggi KPK.
            Kisruh ini masih berlanjut dan berkepanjangan. Berbagai pihak ikut terlibat dan malah memperkeruh keadaan. Rakyat biasa macam saya ini mengamati kerja mereka melalui media. Banyak orang yang mengeluarkan pendapat di media sosial tentang hal ini. Banyak pula yang mempertanyakan keberadaan presiden kita yang seakan menghilang dan tidak bersikap tegas.
            Kapolri alias kepalanya Polri adalah orang utama dan pertama untuk penegakan hukum di Indonesia. Dengan dugaan sebagai tersangka korupsi seharusnya membuat para pengambil keputusan sadar untuk tidak memilih pak polisi berkumis ini. Walaupun menghormati asas praduga tidak bersalah, ada baiknya kepala penegak hukum yang benar-benar tanpa isu korupsi di sekitarnya. Tak ada asap tanpa api. Enggak mungkin dia diduga sebagai tersangka tanpa dasar yang jelas. Lebih baik cari polisi lain yang bisa mengemban tugas sebagai pimpinan tertinggi POLRI. Itu, sih, pendapat saya, ya.
            Pemilihan Kapolri baru ini bertambah kisruh dengan keputusan hakim bernama Sarpin. Bapak hakim bertubuh kurus ini memutuskan kalau status tersangka yang diberikan kepada Pak BG tidak sah. Keputusannya ini memicu reaksi banyak orang. Banyak orang yang marah dan kecewa karena keputusan ini. Reaksi saya? Saya memilih tidak bereaksi. Lebih baik saya mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk hal lain. Makin banyak waktu yang saya gunakan untuk memperhatikan berita Kapolri, rasanya hidup saya makin konyol dan tidak berguna. Lebih baik saya membuat artikel kecil buat anak-anak kecil. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini