Ana

Jumat, 06 Februari 2015

Gagal Lagi di Ujian SIM




            Tanggal 5 Februari 2015 saya menyempatkan diri untuk kembali mengurusi perpanjangan SIM. Proses sebelumnya terhalang karena saya tidak berhasil melewati ujian teori untuk mendapatkan SIM. Di pagi hari yang berawan itu saya sudah bersiap untuk ujian lagi.

            Saya sudah belajar dari kegagalan sebelumnya. Kali ini saya mempersiapkan diri dengan baik. Saya membaca undang-undang dan juga aneka peraturan lalu lintas. Membacanya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali sampai saya bisa memahami kalimat-kalimat panjang khas peraturan itu.

            Tidak hanya itu, saya juga mengunduh simulasi ujian di HP saya. Saya latihan berkali-kali. Nilai yang didapat selalu di atas nilai yang disyaratkan untuk dapat lulus ujian. Dengan berbekal persiapan seperti itu, saya berangkat ke tempat ujian dengan percaya diri.

            Berhubung ini bukan kali yang pertama, saya sudah tahu mau melangkah ke mana tanpa harus bertanya. Saya tiba di kelas ujian sesaat sebelum ujian dimulai. Kali ini saya sudah siap dengan pensil dan dokumen-dokumen pelengkapnya.

            Ketika soal dibagikan, saya melihat soal-soal yang sama seperti yang ada di simulasi. Dengan percaya diri saya menghitamkan kotak di lembar jawaban saya. Saat itu saya yakin sekali kalau saya pasti akan lulus seperti di simulasi.

            Hampir sama seperti ujian sebelumnya, kami para peserta ujian juga diminta menunggu di depan loket 5. Saya juga sudah tahu situasi di situ. Tempat duduk untuk menunggu, tempat sampah, tempat jajan dan toilet sudah terpantau dari kunjungan sebelumnya. Setelah menunggu cukup lama, hasilnya pun dibagikan.

            Ketika nama saya dipanggil, saya menuju loket dengan gembira. Saya yakin pasti lulus. Namun ternyata…hasilnya tidak seperti harapan saya. Saya tidak lulus. Nilainya sama dengan nilai di hasil tes sebelumnya, 12 dari 30 soal.

            Saat itu juga saya menjadi curiga apalagi hasil ujiannya ditulis dengan tulisan tangan. Sempat terpikir untuk meminta melihat hasil ujiannya. Kalau memang dicek dengan komputer seperti yang seharusnya, tentunya nilainya juga bisa dilihat, dong. Namun niat itu belum saya laksanakan. Perut saya yang sangat lapar sudah menunjukkan pengaruhnya pada bagian lain. Kepala saya mulai pusing. Saya tahu, saya harus segera makan sebelum keadaan bertambah parah.

            Keputusan untuk menunda komplain itu juga karena saya kemungkinan akan lebih mudah marah dan terpancing emosinya bila dalam keadaan lapar. Saya rasa lebih bijaksana kalau saya membereskan urusan perut dulu.

            Selagi makan, sempat terpikir juga untuk membereskan urusan SIM dengan cara “cepat”. Cara cepat yang tidak halal ini adalah memberikan uang pelicin kepada para petugas polisi ini. Cara ini sudah umum digunakan sampai-sampai dianggap biasa saja. Dari obrolan dengan sesama peserta ujian, tarif sogokannya tidak terlalu mahal, hanya Rp. 600 ribu. Cukup murah bila dibandingkan dengan waktu yang terbuang untuk ikut ujian.

            Saat ini, pintu jalur cepat lagi tertutup rapat karena kepolisian sedang menjadi sorotan massa dan menjadi incaran KPK. Para oknum penerima suap itu tidak terang-terangan membuka warungnya. Kalaupun ada yang yang buka warung, dengan jujur dia mengatakan kalau saat ini belum bisa membantu dulu.

            Setelah agak kenyang, ada “malaikat” yang datang dalam pikiran saya. Saya diingatkan kalau saya adalah orang yang cukup sering berdoa untuk bangsa ini supaya menjadi bangsa yang jujur dan berjiwa besar. Bangsa yang memegang teguh integritas. Kalau hanya berdoa pake mulut tapi kelakuannya kebalikannya kan sama aja bohong. Memilih jalan cepat yang enggak terlalu mahal itu akan membuat saya menjadi bagian dari bangsa tidak jujur yang berjiwa maling. Ih, enggak deh, yaw!

            Akhir kata, saya memutuskan untuk kembali mengikuti ujian lagi. Saat itu saya akan kembali dengan persiapan penuh. Saya akan belajar semua bahan-bahannya, bawa makanan yang cukup supaya enggak kelaparan, bawa alat-alat dokumentasi, dan bawa kartu pers. Kartu pers ternyata cukup sakti untuk melepaskan diri dari oknum tukang palak. Mereka takut kebobrokannya diungkap di media. {ST}

Baca juga:
Mengurus Perpanjang SIM A

Popular Posts

Isi blog ini