Ana

Kamis, 01 Januari 2015

Tahun Baru 2015 di Palangkaraya




            Tahun baru 2015 saya lewati di Palangkaraya. Kota yang biasanya sepi ini mendadak ramai dan gegap gempita di malam pergantian tahun itu. Kembang api aneka warna terlihat di langit malam yang cerah.
Di malam terakhir tahun 2014 itu, kami sekeluarga mengadakan kebaktian singkat. Tata ibadah kebaktian disediakan oleh GKE Parapah, gereja dekat rumah kami. Papah sudah mengambilnya beberapa lembar.
Seperti umumnya kebaktian Kristen, selalu ada nyanyian yang menjadi bagiannya. Dalam tata ibadah ini, lagu yang dinyanyikan ada beberapa alternatif. Nah, lagu-lagu itu liriknya tidak ada di dalam tata ibadah. Kami harus melihatnya di buku lagu. Kami harus bersyukur ada teknologi yang memungkinkan kami melihat lirik lagu-lagu itu di internet.
Proses pencarian lagu-lagu itu awalnya menghambat mulainya ibadah. Mamah sampai terlihat tidak sabar karena kebaktian belum juga dimulai setelah beberapa menit melewati tengah malam. Hambatan itud apat segera diatasi ketika didapati kalau lagu itu sebenarnya cukup familiar. Semua orang yang hadir ikut bernyanyi.
Selain keluarga inti kami, ada juga keluarga lain yang ikut dalam kebaktian ini. Mereka memang sengaja datang ke tempat kami. Tujuan utamanya untuk melihat kembang api. Ikut kebaktian adalah efek samping akibat hadir di rumah kami.
Dalam kebaktian ini, kami sekeluarga mengucapkan syukur atas karunia Tuhan sepanjang tahun yang lalu, 2014. Kami juga memohon supaya Tuhan tetap mencurahkan berkatnya atas keluarga kami di tahun yang baru ini.
Secara khusus saya bersyukur dengan adanya kebaktian keluarga ini. Sebenarnya, ini bukanlah tradisi keluarga kami. Dari tahun ke tahun, kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Ada kalanya semua anggota keluarga kami punya acara masing-masing. Ada yang melewati tahun baru dengan sahabat, pacar, atau dengan mimpi saat tidur lelap. Papah biasanya memilih tidur saja. Dia biasanya hanya bangun sejenak di tengah malam, mengucapkan selamat tahun baru, kemudian dilanjutkan dengan tidur lagi.
Kebaktian di dini hari tanggal 1 Januari 2015 itu bukanlah sesuatu yang sempurna. Papah yang tidak bisa menyembunyikan kantuknya itu berbicara dengan kurang jelas. Yang tentu saja terdengar kurang jelas. Kekhusukan juga agak terganggu karena hiruk-pikuk bunyi kembang api di luar. Namun kebaktian itu tetap merupakan awal yang baik. Kami memulai tahun 2015 ini dengan mengucap syukur. Itu awal yang baik, kan? {ST}

Popular Posts

Isi blog ini