Ana

Jumat, 02 Januari 2015

Memotret Bundaran Besar




            Bundaran besar adalah salah satu tempat bersejarah bagi saya. Tempat ini menjadi tempat bermain dan belajar bagi saya waktu kecil dulu. Tempat ini juga menjadi saksi kenakalan saya ketika menembak lampu-lampu jalan dengan ketapel.
            Tanahnya yang luas memang sering dijadikan tempat bermain dan beolahraga bagi banyak orang. Dulu, hampir setiap hari Minggu pagi saya berada di sekitar bundaran besar ini. alasan resminya untuk berolahraga. Kenyataannya, sih, lebih banyak bermain dan ngobrol bersama teman.
            Pelajaran utama yang didapat dari bundaran besar adalah kesabaran dan kegigihan. Bundaran ini menjadi rute pulang sekolah saya ketika SD. Siang hari di Palangkaraya panasnya bisa jadi sama seperti di gurun pasir. Terik sekali. Pemandangan itu makin lengkap dengan banyaknya pasir di kota ini. Melintasi bundaran besar sering menjadi pengalaman melintasi gurun bagi saya sebagai anak kecil kurus yang enggak doyan makan itu. Perlu kesabaran dan kegigihan untuk mencapai ujung lain bundaran.
            Ketika mudik ke Palangkaraya di akhir tahun 2014 yang lalu, saya kembali berjalan kaki ke bundaran ini. Bundaran besar ini tidak lagi terlihat besar seperti dulu. Tentu karena ukuran badan saya sekarang jauh lebih besar dibandingkan ketika masih berseragam putih merah. Patung-patung di tengah bundaran tidak lagi terlihat seperti raksasa. Pohon-pohon yang dulu kecil, sekarang sudah besar dan mampu menaungi orang yang berjalan di bawahnya.
            Saya memotret bundaran besar ini dari banyak sisi. Sudah seperti turis dari belahan dunia lain rasanya. Turis seperti ini agak jarang di kota Palangkaraya. Tak heran kegiatan saya itu menjadi perhatian orang-orang yang kebetulan melihatnya, termasuk seorang teman saya waktu kecil yang tak sengaja lewat di situ. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini