Ana

Jumat, 02 Januari 2015

Kejeduk Naik Angkot




                Ketika mobil pribadi kami yang sudah tua tidak bisa digunakan, kami harus menggunakan kendaraan umum. Di Palangkaraya, tidak banyak pilihan kendaraan umum yang tersedia. Hanya ada angkutan kota atau yang sering disebut taksi oleh orang setempat, ada juga taksi argo yang jarang kelihatan.
                Untuk pergi ke tempat-tempat yang rutin dikunjungi dan jaraknya tidak terlalu jauh, kami sering menggunakan angkot. Papah dan Mamah juga sudah membiasakan dirinya menggunakan angkot. Dulu, kami selalu menggunakan kendaraan pribadi atau sekalian berjalan kaki.
                Suatu kali, saya pergi ke pasar bersama Papah. Papah memang sangat suka ke pasar. Pasar yang kami kunjungi itu letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun jarak itu terlalu  jauh bagi Papah. Kami akhirnya naik angkot.
                Biasanya kalau naik angkot, Papah selalu memilih duduk di depan, di samping supir. Saat itu, kursi di sebelah supir sudah terisi. Papah terpaksa duduk di belakang, di kursi penumpang yang berhadap-hadapan itu. Saya sudah terlebih dulu masuk ke dalam kabin disusul oleh Papah.
                Ketika sayasibuk mencari posisi yang enak untuk duduk, terdengar bunyi “duk” yang keras. Kepala Papah kejeduk. Papah harus berhenti sebentar. Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya kepalanya itu. Syukurnya, kepala Papah dilapisi dengan topi.
                Saya jadi sedih dan prihatin melihat keadaan itu. Bagaimana kalau benturan itu membuatnya pusing? Atau mengakibatkan sesuatu yang mengganggu kesehatannya? Sebagai anaknya, saya akan menyesal. Kemungkinan kepala terbentur di angkot akan berkurang bila Papah naik kendaraan yang lebih nyaman. Sepertinya, kami harus segera memiliki mobil baru. Semoga saja, di tahun 2015 ini saya bisa mendapatkan rezeki yang cukup untuk membeli mobil baru. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini